Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kepergok.


__ADS_3

"Lah, Tan, Kok ke sini?" ucap Filio.


"Tante ada janji sama Jean. Ada urusan," balas Daisy, lantas celingukan. "Fiona mana?"


Tak ayal pertanyaan Daisy barusan membuat Filio ternganga. Dilihatnya Daisy yang sudah melepas helm, lantas merapikan rambut yang berantakan.


"Apa adekmu ...."


Daisy menjeda lisan, tapi bersamaan dengan itu matanya menajam. Dia bisa menebak arti tatapan Filio karena keponakannya itu tampak gelisah dan gugup.


"Mana Fio? Kalian kan sekelas. Mustahil kamu gak tau di mana adek kamu itu," cecar Daisy makin serius dia.


"Fi-fio ... itu, em Fio ...." Lio makin berdebar. Dia tahu kalau sang adik saat ini pasti sedang melakukan pendekatan atau sekadar menggombal ke sang guru.


"Dia ... dia lagi di perpus, Tan. Katanya mau pinjam buku," balas Lio cepat.


"Beneran? Tumben?" tanya Daisy lagi yang sebenarnya tidak percaya sama sekali. Dia paham perangai Lio dan bagaimana tabiat Fio. Fio tidak akan pernah menyerah jika yang diinginkan belum didapatkan.


"Kalau gitu kamu ikut Tante sekarang. Tante mau liat dia benar-benar di perpus atau enggak." Daisy turun dari motor. "Habis itu baru Tante ke kantin ketemu Jean."


"T-tapi, Tan."


Daisy langsung melotot dan itu membuat Filio ketar ketir. Dia iringi juga langkah Daisy walau hati kebat-kebit menahan takut.


Gak bisa dibiarin. Fio harus di kasih taun Kalo enggak ni singa betina pasti ngamuk, batin Lio. Dia ketik pesan lewat ponsel. Namun, tak direspon. Jangankan di bala, dibukan aja enggak.


Hais, Fio. Lo kalo mau mati jangan ngajak-ngajak, gerutunya lagi.


Sekarang, Lio telan ludahnya lantas memasukkan ponsel ke saku.


"Tante ada urusan apa sama Miss Jean?" tanya Lio.


"Bukan urusan kamu. Kamu belajar aja yang bener biar Tante gak diejekin si Jean. malu Tante."


Lio merengut tapi tak berani membantah. Memang, dari banyak pelajaran yang susah hanya bahasa Inggris yang paling susah menurutnya. Baik Jean maupun Daisy sudah sering menjelaskan tapi entah kenapa mental aja gitu. Ibarat air di daun keladi alias tak berbekas.


"Mana perpusnya?" tanya Daisy yang sesekali melirik Filio, dia juga melihat lingkungan sekolah yang sudah agak sepi. Hanya ada beberapa murid saja yang tersisa.


"Tenang aja. Tante gak bakalan ganggu. Tante cuma mau ngintip doang," tutur Daisy lagi.


Lio cuma bisa berdiam. Dalam hati terus dia marapal doa agar sang adik benar-benar berada di perpus seperti apa katanya tadi.

__ADS_1


Hingga tibalah mereka di perpus. Sayangnya perpus tutup dan ada seorang penjaga keluar dari sana dan mengunci pintu.


"Loh, kok dah ditutup?" tanya Daisy. Matanya menyipit melirik Lio yang menggaruk kepala. Lantas, keduanya berlari menemui penjaga perpus itu.


"Kok udah ditutup? Apa nggak ada murid lagi?" tanya Daisy.


Si penjaga hanya bisa menatap Lio dan Daisy secara bergantian, lantas menggeleng pelan dan mengiakan. Ya karena memang di sana sudah tidak ada murid, satu pun tidak ada lagi. Terlebih lagi bel jam pulang sekolah sudah lama berbunyi.


"Beneran nggak ada siapa-siapa lagi?" tanya Daisy memastikan lagi. Dia bahkan celingukan melihat lewat kaca jendela dan memang tidak ada siapa pun.


"Iya, Mbak. Saya udah ngecek keseluruhan dan nggak ada satu pun siswa di dalam. Memangnya kenapa, Mbak?"


Daisy langsung menggeleng, dia sikut lengan Fio.


"Eng-enggak apa-apa, Bu. Soalnya tadi adek saya bilang lagi baca di dalam. Mungkin dia udah keluar."


"Ya sudah, kalau gitu Ibu pamit ya."


Sepeninggal penjaga perpus Daisy pun segera melayangkan pukulan di bahu Lio, lantas memberikan cubitan di bahu. Dia gemas karena merasa telah dibohongi.


"Tan Tan jangan ngamuk. Ini sekolah," oceh Lio. Ngeri dia kala melihat rona muka tantenya yang sudah merah padam dan mengetatkan rahang.


"Tante mau ketemu Miss Jean kan? Lio antar yuk."


"Telepon Fio."


"T-tan ...."


"Sekarang!" sentak Daisy makin nyaring hingga membuat Lio tak punya pilihan selain mengikuti permintaan. Fio keluarkan ponsel dan menghubungi nomor sang adik.


Di saat bersamaan Daisy melihat wajah tak asing keluar dari ruangan dan tengah tersenyum-senyum. Sosok itu sedang membuntuti seorang pria dewasa berpakaian rapi.


"Fio," geram Daisy. Matanya nyalang dan itu membuat Lio mengurungkan niatnya menelepon Fio. Dia dekati sang Tante yang mengepalkan tangan. Firasatnya mengatakan sang tante akan buat ulah mengingat di sana, tak jauh dari mereka berdiri ada Fio yang sedang tersenyum genit sembari mengiring langkah Kris.


"Tan, Tante jangan ngamuk. Ini sekolah, kasihan Fio. Nanti aja ngomelnya di rumah," bisik Lio harap-harap cemas.


Akan tetapi Daisy bergeming. Air matanya menetes dan itu buat Lio tertegun heran. Dia pikir mustahil sang tante marah karena dibohongi, sebab dia dan Fio sudah sering berbohong selama ini. Dibohongi bukan hal luar biasa jadi kenapa harus nangis?


"Tan, Tante nangis?" tanya Lio.


Tanpa menjawab ataupun menghiraukan Lio, Daisy langsung menghapus air mata, lantas mendekat ke arah di mana Kris dan Fio berada dengan langkah sangat lebar. Lio pun ikut mengejar dengan kencang dan tentu saja dengan hati berdebar. Takut Daisy menghardik Kris. Padahal di sini yang ngeyel itu si Fio.

__ADS_1


"Fiona!" teriak Daisy yang membuat Kris dan Fiona menoleh secara bersamaan.


"Tan, Tante tenang." Lio menarik tangan Daisy tapi ditepis dengan kasar. Daisy terus saja berjalan dan membuat Fio yang baru menyadari ada tantenya di sana pun gemetar ketakutan. Dia berlindung di belakang punggung Kris.


"Tan, Tante di sini?" tanya Fio terbata. Matanya membelalak dan bergerak liar. Keringat dingin juga mendadak mengucur dari seluruh pori-pori. Nanar dia menatap Daisy yang terlihat jelas sedang berang.


Sementara Kris, dia yang melihat sosok Daisy tampak terkejut. Langkahnya bahkan mundur beberapa kali. Matanya juga membelalak. Dia tatap Daisy, Fio dan Lio secara bergantian dengan ekspresi keterkejutan yang hakiki.


"Tante, Tante tolong jangan salah paham, Tan. Aku pulang telat karena lagi remedial, Tan. Iya kan Pak Kris?" oceh Fio sembari melihat Kris yang terbeku.


Aneh, Kris sama sekali tak menyahut, matanya mengerjap menatap Daisy. Lelaki itu seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Seperti orang kesambet.


Keanehan juga terlihat di muka Daisy. Kala menatap Kris dia seakan mampu menelannya bulat-bulat. Tanpa ragu dia memberi tatapan menghujam pada Kris yang notabene adalah gurunya Fiona.


Tentu saja adegan tatapan tatapan itu membuat Lio menyadari sesuatu, kalau di sini ada yang aneh. Dari cara Daisy menatap Kris juga cara Kris menatap Daisy. Mereka seperti saling mengenal. Namun yang lebih aneh mereka tidak menyapa seperti orang yang pernah kenal. Bukankah jika saling mengenal meski hanya tahu nama sudah lumrah menyapa, ya paling tidak melempar senyum.


Sementara itu, Fiona yang gemetar mencoba menatap Daisy, dia dekati Daisy yang mengepalkan tangan.


''Tante, Tante jangan marah, dong. Pak Kris nggak salah. Aku tadi salah isi saat ulangan matematika makanya disuruh isi lagi," jelas Fiona yang masih tak menyadari ada keanehan di sana.


Tanpa ba bi bu Daisy langsung menarik tangan Fio dan menyentaknya dengan kuat, lantas menarik agar mendekat ke tubuhnya. Karena itu pula Fiona sampai meringis kesakitan. Kuku-kuku Daisy yang tajam menghujam kulit dan menyisakan rasa perih yang luar biasa.


Filio yang melihat itu ingin mencegah, tidak tega dia melihat adiknya meringis.


"Tan, lepas Fio. Kasian," ucap Lio, dia mencoba membantu Fio melepaskan cekalan. Akan tetapi Daisy tak mengindahkan, bahan makin kuat mencengkeram hingga suara rintihan Fio mengudara lagi.


"Tan, sakit ...."


Namun balasan Daisy hanya pelototan. Dia tatap lagi Fiona yang meronta ingin dilepas.


"Kita pulang, Fiona. Kita pulang sekarang." Setelah itu dia menatap Lio yang terbeku di belakangnya. "Kamu juga Lio. Kita pulang sekarang."


Tanpa menunggu jawaban, Daisy langsung menarik tangan Fiona dan menjauh.


Sialnya Lio yang masih bingung, terbeku saja dan menatap heran ke Kris. Daisy yang baru sadar membalik badan dan menyalangkan mata pada Lio.


"Lio, pulang!" teriaknya, tak tanggung-tanggung semua siswa yang berada di sana langsung menatap heran. Namun Daisy tak peduli lagi. Dia tarik tetap tangan Fio dan tak peduli kalau keponakannya itu kesakitan.


Sepeninggal Daisy, Fiona dan Lio, Kris pun bergegas ke ke ruang TU dan menuju lemari yang menyimpan data arsip siswa.


Setelah melihat apa yang ada, Kris langsung melemah. Dia terduduk dengan pandangan kosong.

__ADS_1


"J-jadi ... jadi mereka ...."


__ADS_2