Sugar Teacher

Sugar Teacher
Satu Tim.


__ADS_3

Karena pengakuan Theo dan Kris yang berbarengan itu Fio pun memutuskan menjaga jarak dari keduanya. Harus ekstra menjauh. Dia tidak ingin ayah anak itu berkelahi. Entah serius atau bercanda Fiona juga tidak mengerti, tapi yang jelas dia tidak akan menanggapi keduanya.


Theo, siapa yang tidak kenal cowok itu, berlisan pedas dan sombong. Sedang Kris sudah menolaknya berkali-kali. Jika masih mengharapkan bukankah bisa diberi predikat bucin generasi micin.


"Hei, ini buat lo." Theo tiba-tiba saja menyodorkan satu batang cokelat yang bahkan sampulnya diberi pita berwarna merah. Tentu saja pemberian mencolok itu membuat siswi yang kebetulan ada di kelas bersorak-sorai. Mereka mulai paham kalau ada yang tidak biasa dari Fiona dan Theo. Terlebih lagi perubahan yang signifikan diperlihatkan Theo. Dia yang dikenal dengan sosok dingin dan jarang berbicara sekarang tidak segan bertingkah norak di kelas demi mendapatkan perhatian Fiona.


"Ambil balik nggak," balas Fiona sembari mendorong cokelat itu. Akan tetapi Theo tidak ambil peduli, dia bahkan langsung meletakkan coklat itu ke sakunya Fiona.


"Terima aja, itung-itung sogokan. Kali aja lo berubah pikiran. Terus kita bisa jadian."


"Elo mau ma—"


Lisan Fiona tergantung begitu saja sebab di depan sudah ada guru bahasa Indonesia. Tentu saja Theo dan yang lainnya bergegas ke bangku masing-masing.


"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita akan menyambung pelajari kemarin. Tapi sebelum itu kalian wajib ambil kertas yang Ibu kasih. Theo, ambil ini dan berikan ke teman kamu."


Theo pun melakukan apa yang diperintahkan. Dia sodorkan satu kotak berisi potongan sedotan yang ada kertas kecil di dalamnya, lantas berjalan dari bangku ke bangku. Hingga saat tiba di bangku Fiona dia pun mengedip genit, buat Aulia yang melihat itu kesulitan menahan tawa. Bagaimana tidak, Theo menebar pesona sedang Fiona menebar racun dengan tatapannya yang nyalang.


"Aulia, kamu kenapa?" seru guru dari depan.


"Enggak ada, Bu."


Sedang Fiona, cuma bisa mengepalkan tangan erat. Tingkah Theo buatnya gerah. Cowok itu seakan tidak malu memperlihatkan perasaan dan terang-terangan mengatakan menyukainya. Dia jadi agak malu dengan teman sekelas.

__ADS_1


"Fi, dia naksir berat itu sama lo," bisik Aulia.


"Elo, kalau ngomong sekali lagi awas," balas Fiona. Melotot matanya dan itu buat Aulia tidak tahan. Dia menunduk makin dalam agar tidak ketahuan tengah tertawa.


"Baiklah, sudah dapat nomor semuanya?" tanya guru lagi yang dijawab serentak oleh semua murid.


"Baiklah, kali ini kita akan bahas tentang sastra. Jadi Ibu ingin kalian menganalisis satu puisi milik penyair Chairil Anwar. Terserah mau puisi yang mana, tapi lakukan dengan benar. Satu kelompok ada dua orang dan masing-masing harus bekerja. Ibu tidak ingin karena berkelompok kalian seenaknya memanfaatkan teman. Jika ada yang ketahuan seperti itu siap-siap tidak tuntas pelajaran Ibu."


Semua murid bergidik, lantas mengiakan. Sedangkan Fiona, dia menatap punggung Theo sengit. Lalu, meletakkan cokelat pemberian cowok itu ke kolong laci.


"Dia itu bodoh apa pura-pura bodoh. Sialan. Buat susah aja," gerutunya pelan.


"Ya Fio, ada yang mau kamu sampaikan," lanjut si guru yang memang terkenal killer. Dan balasan Fiona cuma gelengan kepala.


"Ya sudah siapa yang mendapat nomor satu. Sebutkan nama."


"Mati gue, Au," bisik Fiona. Matanya melotot kala berserobok pandang dengan Theo yang memberi senyum sembari memperlihatkan ibu jari.


"Jodoh itu, jodoh," goda Aulia dengan berbisik pula. Sedari tadi dia tidak henti cekikikan hingga membuat Fiona geram dan melayangkan cubitan.


"Jodoh moyang lo kiper."


"Eh btw besok jadi ke Ancol?"

__ADS_1


"Ya jadilah. Males gue di rumah terus. Mumpung ada yang traktir kenapa enggak."


"Dasar manusia tidak berperikeponakan. Kagak kesian lo sama Tante lo itu? Orang mau dua-duaan lo gangguin."


"Bodo, yang penting gue jalan."


"Aulia, Fiona! Ribut sekali lagi gantikan saya mengajar di depan!"


***


Hari Minggu yang di tunggu Theo pun akhirnya tiba. Dengan senyum mengembang dia ambil kunci motor dan menghampiri Kris di kamar yang juga terlihat sudah rapi dengan kemeja dan jaket bomber. Ayah tirinya itu terlihat lebih muda tanpa kacamata dan rambut yang dipotong ala American Style.


"Lah, Daddy mau ke mana?" tanya Theo. Dahinya berlipat halus yang dibalas Kris dengan ekspresi sama.


"Daddy ada urusan sebentar. Mau ketemu temen. Nah, kamu mau ke mana?" balas Kris. Dia amati penampilan Theo dari atas sampai kaki dan anaknya itu terlihat lebih trendy.


"Mau ketemu dia?" tebak Kris.


Theo cuma nyengir saja.


"Ya sudah hati-hati. Pulangnya jangan kemalaman. Terus bawa motor jangan ngebut."


"Ah siap!" Dengan langkah lebar Theo meninggalkan Kris. Tidak sabar dia menemui Fiona di sana walau kesempatan bertemu sangat kecil.

__ADS_1


Kris yang melihat itu cuma bisa geleng-geleng kepala. "Aku penasaran, perempuan mana yang bisa buat anak itu berubah drastis."


Kris genggam kunci mobil, lalu tersenyum sedikit membayangkan ekspresi Fiona kala melihatnya. "Semoga aku bisa bertemu dia di sana."


__ADS_2