
"Buat apa ngerespon kalau gue nggak bisa ngebalesnya."
Balasan ini buat Fiona makin geram. Tangannya mengepal. Dia juga berdecak kesal.
"Seriusan lo nggak suka Aulia? Kenapa? Apa karena fisik? Ayolah, Bang, dia itu baik banget loh Bang. Dia mungkin berkacamata tebal. Tapi dia itu asliannya baik, cantik hatinya."
Kini giliran Filio yang melempar serbet ke arah adiknya itu, lantas menatapnya gemas.
"Sepicik itu ya pikiran lo ke gue, emang gue pernah menilai seseorang dari fisik?" balas Filio, suaranya menggeram tertahan.
Fiona pun mengerucutkan bibir. Dia bersandar dan menatap abangnya takut-takut "Ya kali kan, Bang. Mantan-mantan lo semuanya super model. Beda dengan Aulia yang bodynya sebelas dua bela kek gue. Jadi apa yang buat lo nggak suka dia?"
"Gue suka, tapi cuma sekedar suka, kalo gak suka nggak mungkin dia gue sapa. Tapi suka bukan berati mau gue pacarin." Filio mengembuskan napas kasar, lalu melipat tangan di atas meja. "Kalau soal mantan ya gue nggak bisa ngelak, mantan gue aduhai semua."
"Nah itu buktinya kalau lo itu emang ngeliat seseorang dari wajahnya," sambar Fiona, ekor matanya memicing tak suka.
Filio menanggapi dengan senyum kecil. Dia seruput air putih hingga tandas, lantas mengunci pandangan adiknya itu. "Lo sadar nggak kalau gue pacaran sama mereka nggak pernah lebih dari sebulan?"
Fiona terdiam, jika diingat memang abangnya itu tidak pernah berpacaran lebih sebulan dan semuanya abangnya yang putuskan dengan macam-macam alasan.
"Itu bukti kalau gue nggak mentingin wajah dan penampilan, tapi hati, kalo mereka bertingkah ya udah, tinggalin. Lagian gue juga setengah hati jalan sama mereka."
Fiona yang geram menepuk jidatnya. "Kalau nggak mau serius kenapa pacaran?
Filio dengan entengnya menggidikkan bahu. "Kan mereka yang nembak. Ya gini jadi cowok populer."
Fiona kehabisan kata, dia gemes sama abangnya itu. Saking gemasnya ingin dibanting.
"Lalu kenapa nggak mau pacaran sama Aulia? Jelas-jelas dia baik, dia kenal kita udah lama. Kita juga udah kenal dia. Dia nggak ada celah, Bang," lanjut Fiona lagi. Masih ingin abangnya itu membalas perasaan Aulia yang tulus.
"Justru kenal makanya gue nggak bisa nerima dia," balas Filio, masih tenang.
__ADS_1
"Tau ah, pusing gue. Jelasin coba."
Filio beranjak dari kursi lalu mendatangi Fiona. Dia duduk di sebelah adiknya itu.
"Gini ya. Kita udah lama kenal dia. Dia juga gitu. Terus kalau gue pacaran sama dia. Nah masa depan nggak ad ayang bisa prediksi, kali aja nanti putus. Nah hancur persahabatan kalian."
Fiona diam.
"Tapi yang jelas bukan itu faktor utamanya. Alasan gue nggak bisa melangkah lebih jauh dari teman itu karena gue emang gak ada rasa, gue takut malah nanti nyakitin dia kalau maksain rasa.
"Bang, lo tega, ya. Harusnya bilang nggak usah diam dan buat Aulia berharap."
"Serba salah jadi gue. Gue tau Aulia itu baik, tapi perasaan nggak bisa dipaksain."
Fiona mengubah posisi. Dari tadi yang menghadap meja kini menghadap abangnya. Mereka bertatapan dengan lutut berdekatan.
*Coba aja dulu, kali aja nyantol."
"Ish, lonke mantan-mantan bisa nerima dia, terus kenapa sama Aulia enggak. Coba dulu, kali aja timbul rasa.
"Nggak bisa, cewek lain bisa coba-coba, tapi kalau Aulia nggak bisa. Nggak tega. Lagian gue udah punya seseorang yang gue sayang."
Mata Fiona terbelalak. "Eh, seriusan? Siapa?"
Filio menarik sebelah bibirnya. "Masih rahasia. Nanti kalau udah deal bakalan gue kasih tau."
Fiona mencebik, lalu bersedekap lagi. "Kasian Aulia," lirihnya dengan napas yang kian panjang.
Filio yang geram kembali menoyor kening adiknya itu. "Dia nggak udah lo kasihanin. Yang patut lo kasihanin itu si Theo."
"Loh kok bawa-bawa Theo?"
__ADS_1
"Elo jelas-jelas nggak suka tapi masih bertahan sama dia. Nggak capek apa lo?"
Fiona terbelalak. Dia merasa disindir tepat mengenai jantung. Bibirnya pun mengerucut.
"Apaan sih lo Bang. Gue sama Theo kan lain cerita. Kita pacaran, gue suka dia, dia juga suka. Terus masalahnya apa?"
Nah itu, itu masalah besar. Jujur sama gue, lo itu cuma menutupi kenyataan. Rasa terima kasih lo sulap jadi kayak rasa suka. Lo itu nggak ada perasaan kan sama Theo."
"Sok tahu!" ketus Fiona.
"Gue tau, Fi. Kita itu kembar, secara nggak langsung mata gue bisa bedain tatapan elo itu. Gua juga ngerasain apa yang lo rasa. Lo sama Theo itu bukan cinta, tapi menjurus ke balas jasa aja. Iya, kan?"
"Ish, lo apaan sih Bang. Awas ya kalo ngomong yang enggak-enggak sama Theo. Gue buat lo nggak bakalan punya pacar. Lagian masih muda ngomong cinta-cintaan. Gue itu emang suka sama Theo, dia baik dan nggak ada alasan buat gue benci sama dia. Yang sekarang gue rasa itu gue nyaman dekat dia. Makanya bertahan, kali aja nanti bisa jadi cinta."
"Iya kalau cinta, kalau nggak bukannya kalian hanya buang-buang waktu?"
Fiona terdiam, dia merasa kalah telak. Ucapan Filio entah kenapa membuatnya jadi tidak bisa berkata-kata. Sebenarnya dia juga bingung, berbulan-bulan ini tidak paham dengan perasaannya. Dia senang saat bersama Theo, Theo baik dan pengertian hanya saja ada yang kurang. Ada perbedaan yang nyata antara Theo dan Kris.
Saat bersama Theo Fiona merasa nyaman. Malah sebaliknya, jika bertemu Kris hatinya berdenyut tidak karuan.
"Gue saranin pikirin baik-baik, jangan sampai kalian buang-buang waktu dengan hubungan yang gak jelas."
Fiona diam, dan saat itu Filio pun menjitak kepala adiknya lagi, lalu terkekeh jail buat Fiona membalas tapi tak kena.
"Lo nyebelin, Bang," sungut Fiona. Dia berdiri tapi Lio sudah mundur jauh.
"Makanya, tumbuh itu ke atas. Jangan ke samping. Olahraga yang teratur jangan olahrasa. Jadi ribet sendiri kan lo," ejek Filio lagi.
"Bang, lo mau ke mana?" teriak Fiona.
"Mau ke kamar, mau baperrin anak perawan orang."
__ADS_1
Fiona mengembuskan napas ke atas hingga poninya melayang-layang. "Penasaran gue, siapa sih yang di taksir Bang Lio."