Sugar Teacher

Sugar Teacher
Dilema Kris.


__ADS_3

"Theo, Daddy ganggu gak?" tanya Kris setelah melongok ke dalam kamar. Dilihatnya Theo sedang belajar.


"Enggak, kok, Dad. Masuk aja," balas Theo. Agak bingung sebenarnya tapi memilih abai. Selama ini Kris tahu jadwalnya belajar—dari habis magrib sampai jam sepuluh malam—dan selama ini tidak pernah sekalipun datang. Namun sepertinya malam ini pengecualian dan Theo tidak masalah akan itu.


Kris yang dipersilakan masuk pun membuka lebar pintu, lalu mendekati Theo dan duduk di sisi ranjang.


"Daddy gak akan basa-basi. Kamu beneran suka dia? Kalian pacaran?" cecar Kris tak sabar. Tadinya mau berhati-hati dalam bertutur kata, tapi yang terjadi malah kelihatan grasak-grusuk dan Kris mengutuk dirinya karena itu. Terlalu kentara kalau sedang penasaran.


"Iya, aku suka dia dan kami tadi juga udah jadian."


"Tadi? Jadian?" ulang Kris terdengar jelas tidak percaya, dan ini kali kedua dia merutuki diri dalam hati. Bisa-bisanya memberikan gelagat itu. Theo anak yang pintar, pasti akan sadar kalau Kris sedang tidak nyaman.


Benar saja, gelagat Kris yang seperti itu buat Theo membalik badan, menutup buku, lalu memutar kursi menghadap tepat di depan Kris.


"Kenapa memangnya, Dad?" Theo menjeda kata. Matanya yang sipit menangkap gelagat aneh Kris dan itu buatnya memikirkan sesuatu. Apa mungkin Kris tidak senang mengingat Fiona begitu barbar kala mengejarnya? Atau apa mungkin daddy tirinya itu mulai menyimpan rasa?


Theo telan ludah. Walau belum siap mendapat jawaban buruk, dia tetap harus menghadapi. Kecewa di awal lebih baik ketimbang nanti.


"Apa Daddy gak setuju aku sana dia?" tanya Theo.


Kris diam, matanya yang sedang berserobok pandang dengan Theo bergerak liar ke sana kemari dan gelagat itu makin buat Theo curiga.


"Atau apa jangan-jangan Daddy punya rasa?" lanjut Theo.


Ditatap dan ditanya seperti itu buat Kris menelan ludah. Dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain terkekeh-kekeh lalu melibaskan tangan seolah ucapan Theo itu tidak masuk akal.


"Jangan bercanda, Theo. Daddy itu gak menyukai dia. Jangan konyol, ya."

__ADS_1


Theo yang terlanjur lega pun tersenyum. Dia juga mengangguk. "Iya, Daddy nggak cocok sama dia. Kan itu alasan Daddy nolak dia, iya kan?"


Kris mengangguk.


"Lagian Daddy itu cocoknya sama Tante Alin," lanjut Theo yang buat Kris meringis tapi berakhir mengukir senyum.


Semua itu demi kebahagiaan Theo dan demi kewarasan dirinya sendiri. Tadinya Kris ingin mengejar Fiona. Ingin menjadikan remaja itu sebagai salah satu orang yang dilindungi sebagai keluarga.


Namun, setelah mengetahui kalau sang anak juga ada rasa, Kris pun banting setir. Dia menepi dengan segera. Mengalah karena pasti kalah. Kris sadar betapa bencinya Fiona karena masa lalu. Belum lagi tadi saat dia dan Alin berakting totalitas berperan sebagai pasangan kekasih. Sudah pasti Fiona akan mengubur rasa suka yang pernah ada dalam lumpur dan tidak akan berniat kembali.


Kris menghela napas pelan. "Tapi kenapa harus Fio? Bukannya kamu benci banget sama dia?" tanya Kris, masih segar di ingatannya dulu waktu Fiona mengejar dan Theo adalah orang yang mati-matian menentang, bahkan tak segan mengancam. Lalu kenapa sekarang malah kebalikan saat dirinya juga mulai timbul rasa pada Fiona?


"Alasannya ...." Theo kembali tersenyum. Dia memutar kursinya ke kanan kiri, persis seperti seorang remaja yang lagi kasmaran membayangkan sesuatu yang indah.


"Alasannya aku juga nggak tahu. Aku juga heran kenapa bisa naksir berat sama dia."


"Tapi apa kamu nggak keberatan sedangkan kamu tahu sendiri dia itu ...."


"Enggak, aku enggak keberatan," sela Theo mantap. "Tadinya sih iya tapi aku pikir lagi daripada menyesal. Lagian katanya dia udah move on dari Daddy."


Kris yang tidak percaya menyugar rambut frustrasi. "Masalahnya bukan itu ,Theo. Masalahnya dia bilang suka juga sama kamu apa engga. Daddy takut kamu dijadikan pelampiasan."


Ini nyata. Kris memang mengkhawatirkan itu. Dia takut Theo hanya dimanfaatkan.


Dan Theo yang ditanya begitu pun berpikir agak lama. Ingin dia mengakui kalau memang menjadi pelampiasan Fiona, tapi berpikir lagi, jika dia mengatakan itu otomatis Kris akan merasa bersalah. Tidak menutup kemungkinan akan menentang dan Theo tidak bisa bersama Fiona lagi. Dia begitu menyukai Fiona.


"Daddy takut kamu cuma dijadikan pelampiasan buat balas dendam," lanjut Kris

__ADS_1


"Ya enggaklah, Dad. Dia itu udah kesemsem sama aku. Dia nggak tahan dengan pesona aku. Coba deh Daddy lihat, aku sama Daddy itu sama-sama ganteng. Lagian kan Daddy sendiri pernah bilang kalau seumuran kami ini cenderung labil dan suka ambil keputusan terburu-buru. Itu juga berlaku sama Fiona. Dia awalnya suka Daddy, tapi gak menutup kemungkinan rasa sukanya luntur lalu naksir aku."


Kris makin tidak paham. Dia pijit pelipis. Masih ingat dia masa-masa Fiona mengejarnya dengan gencar. Bahkan mengatakan hal vulgar dan terang-terangan ingin menjadi ibu sambung. Dan Kris juga mendengar langsung kalau Fiona masih belum bisa move on belum lama ini. Poin terpenting adalah gelagat Fiona. Fiona cemburu saat dia dan Alin bersama. Nah, jika begitu kenapa malah pacaran sama Theo?


Kris ingin memberi tahu Theo. Kalau Fiona itu belum bisa move on darinya. Tapi enggan, takut anaknya itu kecewa. Lagian jika sudah begini kesempatan Kris untuk bersama Fiona juga pasti tidak ada lagi.


Bayangkan, bayangkan jika karena ini Theo dan Fiona putus, lalu Kris menyela. Akan seperti apa perasaan Theo nantinya. Hubungan ayah dan anak akan berantakan. Dan jika sudah begini dia tidak yakin bisa bahagia bersama Fiona.


"Ya sudah kalau begitu lanjutkanlah belajarmu. Tapi ingat ya Daddy nggak mau karena pacaran nilai kamu jadi turun."


***


Setelah hari Minggu tentulah Senin akan tiba, dan seperti biasa hari Senin identik dengan upacara. Begitu juga dengan Fiona dan semua murid di SMA Tri Dharma. Semua berada di satu halaman. Bedanya Fiona berada di barisan istimewa karena merupakan anggota grup vokal di sekolah itu.


"Ini minumlah," ucap Theo sembari menyerahkan sebotol air mineral. Mereka sudah ada di kelas saat ini. Tentu saja kebaikan Theo memancing rasa penasaran siswa lain. Bahkan ada yang sengaja bersuit untuk menggoda keduanya.


Seakan tidak peduli, Theo kembali menyerahkan satu gantungan. Gantungan hati yang dibagi dua. Gantungan yang sebenarnya tengah viral dikalangan remaja.


"Ini gue nemu tadi di deket pasar. Bagus dan gue pungut. Ambil aja, gue kasih buat lo." Tanpa menunggu persetujuan Theo langsung mengaplikasikan benda itu ke ritsleting tas Fiona. "Jangan dibuang," timpalnya lagi.


Fiona tentulah terbengong-bengong, bingung mau jawab apa. Menolak juga percuma. Sudah dipasang ini bendanya.


"Ee cie gantungannya pasangan," seloroh Aulia yang buat Fiona mendesis.


"Couple apaan? Lo nggak denger? Dia bilang nemu di pasar."


"Ck, dasar pacar gak peka. Liat dong tas-nya. Ada gantungan yang sama. Nggak mungkin nemu."

__ADS_1


__ADS_2