Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kualifikasi apa?


__ADS_3

Setelah mengatakan itu Fiona pun pergi diikuti Kris dari belakang. Sementara Daisy mematung tak percaya. Bola mata yang tadinya melotot tegang kini mulai berair perlahan.


Aris yang melihat itu pun tentu paham. Dia ajak Daisy duduk ke sofa lalu segera menuju dapur dan menyeduh teh hangat. Setelahnya kembali lagi ke ruang tamu dan telah mendapati istrinya tengah menitikkan air mata.


"Minum dulu tehnya," tawar Aris.


Bukannya meminum air yang telah disodorkan oleh Aris, Daisy justru memalingkan wajah sembari tangannya menyeka air mata. Dia sedih, keponakannya melawan seperti itu. Keponakan yang dia jaga sejak kecil tak mendengar apa maunya.


"Sayang, tenang. Kasian anak kita. Jangan emasional," tutur Aris. Dia sentuh pundak Daisy, tapi lagi-lagi Daisy cuek.


"Sayang, Fiona udah gede. Nggak bisa kek gini. Kalau kamu gini itu sama aja dengan kamu maksain kehendak. Egois itu namanya."


Kontan Daisy menatap. Matanya yang merah berkilat-kilat penuh kesal. "Jadi menurutmu aku egois? Aku itu cuma enggak mau dia nikah muda. Masa depan masih panjang. Dia harus kuliah, berkarier. Kalau nikah muda apa yang dia dapat, Mas? Apa? Nggak ada. Pasti ujung-ujungnya nanti nyesal."


Mendengar itu terdengarlah helaan napas Aris yang buat Daisy makin meradang. "Apa salahnya aku gini? Aku gini juga buat kebaikan dia?"


"Daisy, dengerin. Aku nggak nyalahin kamu. Cuma kamu juga enggak punya hak mutlak. Fiona udah dewasa. Lagian aku pikir kita juga harus dengerin pendapatan Fiona."


"Sudahlah aku malas ngomong sama kamu. Kamu mana tau apa-apa."


Lagi, Aris menghela napas panjang. Dia tarik pundak Daisy hingga Daisy kembali menatap. "Aku cuma kepikiran omongan Fiona tadi. Mau gimana pun anak itu nekat. Kalau dia terus kamu kekang dan dia nekat gimana?"


Mata Daisi membelalak.


"Gini, aku mang gak punya hak ngomong disini. Di sini aku cuma Paman dia itu pun karena nikahin kamu. Tapi aku pikir nggak ada salahnya lepasin Fiona. Kan Kris bilang dia bakalan dukung Fiona kalau mau kuliah. Mau berkarir juga pasti nggak masalah kan. Soal umur, ya masih panteslah. Nggak tua-tua amat. Dan soal almarhum ayahnya juga di sini kamu juga salah, harusnya nggak usah ungkit itu. Itu nggak baik. Kasihan."

__ADS_1


Daisy masih diam.


"Kalau aku sendiri setuju banget dia sama Kris. Nggak ada alasan buat kamu halangi mereka. Kalau mereka saling suka ya restuin. Halalin. Daripada main belakang dan berdosa. Bukannya nanti dosanya nyiprat ke kamu juga. Kamu mampu?"


Lagi, Daisy tetap diam. Bola matanya bergerak liar.


"Coba kasih alasan. Kenapa kamu nentang dia sedangkan sama Theo kamu enggak gimana-gimana. Padahal Theo itu anaknya Marwa."


Kali ini raut muka Daisy berubah rumit.


"Apa jangan-jangan kamu nggak terima kalau laki-laki cinta pertama kamu jadi menantu kamu?"


Telak, perkataan itu sontak buat Daisy berdiri seketika. Wajahnya memberengut.


"Ish apaan sih? Nggak jelas banget kamu, Mas. Kenapa ngelempar ke aku. Aku begini karena takut masa depan Fiona terhalang."


"Ya, ya aku nggak ... nggak."


"Kamu gugup karena aku benar, 'kan?" sela Aris. Nada bicara yang tadinya penuh perhatian sekarang sedikit meninggi dan raut mukanya juga berubah drastis saat melihat kegugupan Daisy.


"Benar. Kamu cemburu? Kamu enggak Ikhlas?"


Kesal tak mendapat jawaban Aris pun melewati Daisy. Daisy yang tahu keadaan makin pelik pun memegang lengan Aris.


"Mas, kamu salah paham. Aku udah nggak ada rasa. Beneran. Jangan ngambekan."

__ADS_1


Namun Aris melepaskan cekalan tangan Daisy dan pura-pura memasang wajah jutek. Sengaja juga masuk kamar dengan sedikit membanting pintu.


-


-


Sementara itu di taman tak jauh dari rumah, Fiona dan Kris duduk berjauhan sembari menikmati es dawet. Keduanya saling diam hingga akhirnya datang seorang anak kecil menyapa sekaligus memberikan setangkai bunga mawar ke Fiona. Kedua manusia yang sedang canggung itu tentu saja terkesiap.


Alisnya Kris naik sebelah. Menelisik sekaligus menatap bocah kecil itu.


Bocah kecil yang tak menyadari ada sepasang mata tajam menatapnya pun tersenyum kecil pada Fiona.


"Kak, ini bunga dari kakak yang itu." Jari telunjuknya terarah ke cowok yang berada di belakang pohon. Kontan saja Kris yang ada di depan Fiona berdengkus. Dia dekati Fiona dan menarik bunga itu lalu memberikan kembali ke tangan si bocah.


"Bilang ke orang yang kasih bunga, kalau kakak ini udah ada yang punya," tutur Kris. Pelan dan santun tapi sebenarnya penuh penekanan.


Hanya saja bocah itu tak mengerti dan malah garuk-garuk kepala. "Memangnya siapa yang punya, Om?"


"Tentu saja yang punya saya."


Fiona yang melihat itu tersenyum gemas. Ternyata Kris tak sepengecut dulu, begitu pikirnya.


Setelahnya bocah itu pun berlari mendekati pria bunga. Kris dari kejauhan memperlihatkan tatapan tajam. Tak ayal remaja seusia Fiona itu langsung pergi begitu saja.


"Ehm, kayaknya ada yang kepedean ini," sindir Fiona.

__ADS_1


Kris yang sudah duduk disebelahnya menoleh pelan. Tatapannya tajam tapi tak kunjung bicara. Dia menelisik senyum Fiona yang terkesan aneh.


"Pak, saya mau nanya. Sebenarnya kualifikasi apa yang bapak punya sampai sepede itu bilang saya milik Bapak?"


__ADS_2