Sugar Teacher

Sugar Teacher
Kencan


__ADS_3

"Theo, kamu mau ngomong apa?" lanjut Kris.


"Nggak jadi, Dad. Ya udah aku siap-siap dulu," balas Theo segera. Dia tutup pintu cepat-cepat, lalu bersandar lekat di sana. Dia tarik juga rambutnya dan mengacak-acak sendiri. Ingin dia menjerit lantang tapi suara itu tertahan.


Tahu tapi pura-pura tidak tahu itu menyakitinya juga. Dia tahu ada yang tidak biasa dengan orang terkasihnya itu tapi tidak berani bertanya. Walau Kris tidak mengatakan apa-apa tetap saja firasatnya mengatakan kalau sang ayah kini sedang terluka tapi menyembunyikannya. Setiap mengatakan akan jalan bersama Fiona Kris akan menyetujui. Tidak pernah melarang dan bahkan memberi uang jajan. Senyum juga selalu terukir di wajah ayahnya itu.


Hanya saja Theo tetap merasa aneh dan jujur itu buatnya jadi tidak bisa menikmati momen baik antara dirinya dan Fiona. Dia tahu pribadi Kris seperti apa. Daddy tirinya itu akan memilih diam. Akan memilih memendam sendiri daripada menimbulkan keributan.


Karena paham itu Theo jadi gelisah. Dia merasa jadi orang jahat di sana apalagi saat mengingat bagaimana tatapan Kris ke Fiona, meski belum berpengalaman tapi Theo menyadari kalau sorot mata Kris itu penuh damba, penuh sayang pada pacarnya.


"Gue harus apa sekarang? Harus gimana? Apa harus ikhlasin Fio?"


Theo kembali menjambak rambut. Bahkan memukul angin saking frustasinya. Hanya saja tetap tidak ada jawaban. Dia begitu menyayangi Fiona, senyum Fiona buatnya kecanduan dan ingin melihatnya lagi dan lagi. Selama dekat sekalipun mereka tidak pernah bertengkar. Fiona benar-benar menerimanya dan Theo pikir Fiona sudah move on seutuhnya. Hanya saja, saat melihat tatapan sang ayah tiri buatnya merasa bersalah, amat bersalah.


-


-


-


"Theo, kamu sakit?" tanya Fiona setelah menyenggol pelan lengan Theo.


"Enggak, gue sehat, kok."


"Tapi tadi di dalam lo nggak ngomong. Sampe filmnya habis pun lo nggak ngomong. Kan aneh," sungut Fiona yang membuat Theo menarik kedua belah ujung bibir, lantas mencubit gemas pipinya yang agak chubby.


"Ih, sakit!"


Theo yang memang tinggi sampai membungkuk, lantas mengacak-acak poninya. Suara kekehan Theo juga terdengar renyah dan itu buat Fiona membola matanya. Pasalnya pose begini buatnya teringat pada Kris.


"Lo gemesin, kok ada ya cewek barbar tapi bikin candu kayak elo. Heran gue," lanjut Theo yang buat Fiona merona. Pipinya berubah warna jadi merah jambu karena kata-kata Theo itu.

__ADS_1


"Ish, gaje banget, sih." Fiona tepis tangan Theo, lantas berjalan lebih dulu. Tangan juga terus memasukkan popcorn ke dalam mulut demi mengusir gugup.


Fiona tidak memungkiri pesona Theo, Theo tampan, baik dan menjaganya. Hanya saja jika menuruti hati dia takut hubungan yang mereka jalani ini jadi bablas. Dia takut terhanyut makin jauh yang nanti malah akan menghancurkan masa depan Theo sedang pacarnya itu sangat pintar dan ingin jadi pengacara.


"Lah, kok di tinggal, bareng dong." Theo mengejar dan Fiona cuma mendelik saja. Matanya yang belo melihat sekitar dan mall tempatnya berjalan-jalan kini terlihat agak ramai.


"Kita jadi beli sepatu futsal?" tanya Fiona mengubah topik pembicaraan dan Theo mengiakan dengan anggukan.


"Kita masuk ke sana, yuk. Kayaknya bagus." Theo pun melangkah dan Fiona mengekorinya. Mata Fiona melihat takjub susunan perlengkapan berbagai macam jenis olahraga, sedangkan sasaran Theo adalah deretan sepatu futsal.


"Fi, sini. Pilihan dong," pinta Theo. Dia sedang berdiri di deretan sepatu sembari menyentuh dagu. Sedang Fiona ikut gayanya dengan cara yang sama. Theo melihat itu jadi tersenyum kecil dan sengaja mengalungkan lengan kirinya ke leher Fio.


"Ih, ngapain? Lepas nggak!" geram Fio. Matanya yang belo makin bulat dan itu buat Theo ngakak. Pasalnya melihat Fiona dia jadi ingat mata burung hantu.


"Lo nyadar nggak sih kita ini nggak kayak pacaran?" celoteh Theo yang buat Fiona menggaruk kepala.


"Lalu kalo nggak pacaran apa dong?"


"Ya, kayak temen condong ke sodara."


Tak ayal ocehan itu buat Theo kembali terbahak. Dia pilih salah satu sepatu dan mencobanya, setelah itu membayar ke kasir.


"Jadi lo seneng pacaran sama gue?" lanjut Theo setelah membayar. Mereka kembali jalan bersisian.


"Dih, pertanyaan macam apa itu. Ya iyalah seneng. Mayan diajak jalan terus dibayarin. Kalo jalan sama Bang Lio mah boro-boro. Malah gue yang tekor."


Theo kembali terkekeh. Dia simpan lagi lengannya di bahu Fiona dan itu buat Fiona tambah gemas.


"Udah, dong. Suka banget simpan lengan di pundak gue," sungut Fiona, pipinya menggembung kesal.


"Habisnya tinggi badan lo pas buat naruh lengan."

__ADS_1


Mata Fiona pun menyipit, dia cubit pinggang Theo gemas. Lantas, kembali mengunyah popcorn. "Jangan body shaming, bisa? Lagian


berat tau, udah kayak Bang Lio aja. Mentang-mentang kalian tinggi dan gue pendek seenaknya aja nyimpen lengan. Eh tapi kalau dilihat-lihat kalian emang mirip."


"Oh ya?" Theo terlihat antusias. "Mirip di bagian mana. Apa tinggi?"


"Kalian sama-sama nyebelin."


Tawa Theo kembali mengudara. Sudah dia bilang, bersama Fiona harinya jadi berwarna. Walau lagi marah pun Fiona tetap bisa membuatnya bahagia. Di beri kalimat pedas pun dia tidak akan sakit hati. Sebucin itu dia pada Fiona. Dia bahagia dan mensyukuri Fiona hadir di hidupnya yang flat saja. Sebelum mengenal Fiona dia tidak pernah merasakan rindu, tidak pernah merasakan insomnia dan merasakan belajar jadi semenyenangkan itu.


Dulu, hari-harinya terasa sangat membosankan. Siapa sangka jadi berwarna dan ketumpahan gula tidak terduga. Dia sayang tulus sama Fiona dan berjanji akan menjaganya.


Theo susul langkah Fiona. "Tapi kenapa lo nggak pernah mau kita pake bahasa kamu aku?" tanya Theo setelah lihat Fiona membuang kotak popcorn di tempat sampah.


"Memangnya lo mau?" balas Fiona


bertanya balik. Matanya mengerjap heran.


"Ya maulah. Biar lucu. Biar orang tau kita pacaran."


"Menurut gue gak usah lah pake aku kamu segala. Gue udah nyaman dengan begini. Lagian kan anggapan orang gak penting. Lo sayang gue, dan gue juga. Kita sama-sama menjaga. Itu kan udah cukup. Lagian buat apa dipamerin. Toh, gue nggak ada niatan selingkuh, jadi jangan takut gue direbut."


"Ya elah, jadi cewek pede amat."


"Harus dong. Percaya diri itu kunci." Fiona nyengir bangga sedang Theo ikut tersenyum karenanya. Mereka kembali berjalan dan mengabaikan tatapan aneh para pengunjung mall. Itu lantaran tinggi badan mereka yang jomplang, belum lagi tampilan Fiona yang mengenakan baju kodok sedang dalaman mengenakan kaus putih panjang yang rambutnya dikucir dua. Dengan gaya itu bahkan ada yang menduga kalau Fiona bocah SMP.


"Jadi enjoy pacaran sama gue?" tanya Theo lagi.


Fiona mengangguk.


"Jadi gue pacar ideal ni ceritanya?" Theo ngoceh lagi, senyumnya mengembang bangga.

__ADS_1


Fiona kembali mengangguk.


"Kalau untuk jadi suami?"


__ADS_2