Sugar Teacher

Sugar Teacher
Pecundang.


__ADS_3

Sarapan yang biasanya diselingi dengan perbincangan hangat kini hanya ada denting sendok dan piring. Baik Kris maupun Theo keduanya fokus makan meski ada banyak kata yang ingin di katakan. Keduanya merasa asing dengan keadaan begini, tapi mau seperti biasa juga rasanya susah mengingat kejadian kemarin yang menjungkirbalikkan hubungan, yang tadinya hangat jadi diam-diaman.


"Theo, apa sudah bisa kita bicara?" tanya Kris, dia sudah selesai dengan sarapan begitu juga Theo. Keduanya saling tatap.


"Kamu tau kan apa yang ingin Daddy katakan?" lanjut lelaki itu lagi.


Theo pun mengangguk.


"Lalu, alasannya kamu ngelakuin itu? Kenapa enggak bilang dari awal? Kenapa harus begitu?" Walau agak gregetan Kris tetap mencoba tenang.


Sejujurnya begitu banyak pertanyaan dalam kepalanya. Dia kaget, semalam itu sama sekali tidak pernah terbayangkan di benaknya. Yang tadinya berniat melamar Fiona untuk Theo malah berakhir melamar Fiona untuk dirinya. Wajar saja jika berakhir dipukuli Daisy, dianggap main-main padahal tidak Begitu niatnya.


"Theo."


"Itu karena aku udah nyerah, Dad."


Penuturan Theo kali ini buat mata Kris terpicing.

__ADS_1


"Aku nyerah, Fiona dari awal emang nggak punya rasa ke aku."


"Bagaimana bisa? Kalian kan selalu akur."


"Akur nggak menjamin ada rasa, Dad. Aku pikir buat nyerah aja. Percuma, di matanya cuma ada Daddy."


"Loh?" Kris terbelalak. Satu sisi dia agak senang jika ternyata yang dikatakan Theo benar. Tapi saat ini dia lebih memikirkan perasaan Theo. Baginya Theo terlalu muda untuk patah hati.


"Mungkin kamu salah paham. Mungkin ...."


Gleg! Kris telan ludah. Gugup di cecar apalagi Theo melotot begitu saat mengatakannya.


"T-heo. Tolong kamu jangan salah paham. Daddy nggak ada maksud buat ngercokin hubungan kalian. Daddy ...."


"Harusnya bilang sejak awal! Daddy pikir Theo bakalan seneng gitu Daddy nyerah dan ngelakuin ini?"


Kris kembali menelan ludah, baru kali ini dia melihat Theo begitu marahnya. Mata anaknya itu juga telah memerah.

__ADS_1


"Aku udah kayak pecundang. Masalah hati aja harus Daddy yang jaga. Aku udah gede, Dad. Aku laki-laki sejati. Bukan bocah yang ke mana-mana harus Daddy jaga. Aku sekarang bisa bedakan mana benar mana salah. Harusnya Dad bilang biar kita bisa sama-sama berjuang, kita bersaing sehat daripada nyerah gini. Aku merasa jadi pecundang. Lebih baik dari awal itu kita berjuang sama-sama buat ngedapetin dia," balas Theo lagi menggebu-gebu. Darahnya berdesir-desir.


Dan lagi lagi Kris diam tak menyangka kalau keputusannya mengalah malah membuat sang anak berang.


"Harusnya biarkan aku berjuang! Aku laki-laki, Dad! Laki-laki!" teriak Theo lagi. Emosinya membuncah. Tadi, dia berniat tenang dan merestui begitu saja. Tapi saat melihat sang ayah tiri yang begitu pengecut dia jadi gregetan.


Kris pun berdiri. Kedua tangannya mengangkat ke atas. "Baiklah, Daddy salah, minta maaf. Kalau kamu mau kita bersaing maka Daddy akan ...."


"Nggak usah," pungkas Theo, geram.


"Loh, nggak usah gimana? Bukannya tadi kamu mau bersaing sehat." Kali ini mata kris melotot, serba salah dan bingung. Bukannya tadi Theo minta bersaing sehat? Sekarang sudah disetujui malah melarang.


"Percuma. Nggak ada gunanya. Karena aku udah kalah dari awal. Tapi harusnya dad itu ngasih kesempatan buat aku, berjuang biar aku kayak pecundang begini."


"Theo?" Kris hendak memegang tangan, Tapi Theo keburu pergi dan masuk ke kamar. Tak lama kemudian cowok itu sudah rapi.


"Theo mau ke mana kamu?"

__ADS_1


__ADS_2