Sugar Teacher

Sugar Teacher
Menyerah.


__ADS_3

"Dad?"


Kris yang hendak membuka pintu kamar langsung mencari sumber suara dan melihat heran ke arah Theo. Anak tirinya itu datang mendekat setelah beberapa hari diam-diaman.


"Ada yang mau aku bilang," kata Theo lagi.


Kris diam tanpa ekspresi, tapi meski begitu bisa menebak apa yang akan Theo katakan.


"Baiklah, kita duduk." Kris menuju ruang keluarga dan duduk di sofa, begitu juga Theo.


Hening sejenak. Lamat Kris tatap Theo yang duduk tegak di depannya. Sekarang Kris baru sadar, kalau Theo sudah besar. Bahkan postur tubuhnya juga sempurna. Bukan lagi Theo bocah ingusan yang dulu sangat antusias minta ajak jalan-jalan.


Kris mengembuskan napas kasar. Melihat Theo membuatnya jadi ingat Marwa lagi. Dan itu menyesakkan, perasaan jadi makin tak karuan.


"Dad?"


"Baiklah, Theo."


Theo mengerjap. Belum juga bicara sudah dipotong dengan tegas.


"Kamu ingin bertunangan, 'kan?" Kris menatap serius dan dibalas anggukan pelan oleh Theo.

__ADS_1


"Baiklah, Daddy bakalan kabulin. Tapi nanti, setelah amplop kelulusan Daddy dapat."


Wah, kontan berbinar mata Theo dan tatapan itu tak ubahnya jarum yang menancap tepat mengenai hati Kris. Nyeri, nyut-nyutan.


"Ya sudah, Daddy ke kamar dulu. Mau istirahat." Setelah Mengatakannya Kris pun beranjak dari sofa, lalu menuju kamar dan menguncinya. Setalah itu meletakkan tas laptop ke meja. Tanpa membuka kemeja lelaki itu langsung merebah kasar ke ranjang. Mengempaskan tubuh sendiri hingga memantul berkali-kali.


Kris mengerjap, menatap pigura pernikahannya dengan Marwa sekilas, lalu menutup mata dengan lengan kiri. Lelaki itu terus mengembuskan napas panjang yang semakin lama durasinya semakin sering.


"Aku rasa ini balasan karena berniat melupakan Marwa," gumam Kris, lalu mengambil bantal dan menutupi wajah.


-


-


-


Alin pun membalas perkataan itu dengan senyuman, setelah itu menatap punggung si lelaki yang tak lain adalah sang suami. Punggung itu perlahan hilang di telan belokan kafetaria. Mereka sedang berada di salah satu mall yang ada di Jakarta.


Sekarang mata Alin tertuju ke teman yang ada di depannya. Teman pintar tapi konyol nan pengecut. Teman yang tidak berani melangkah karena terlalu memikirkan banyak hal.


"Kris."

__ADS_1


"Hah?"


"Aku perhatiin kamu nggak semangat sama sekali. Kamu keberatan keluar bareng aku sama Julio?" Alin menelisik.


"Tentu bukan itu, Alin. Aku hanya punya beberapa pikiran. Tapi its ok. Nggak masalah. Aku juga butuh hiburan makanya menyanggupi ajakan kalian."


"Beneran?" Alin pun tersenyum mengejek. "Nggak masalah tapi mukanya kayak memiliki segudang masalah. Ayo cerita."


Kris diam dan memilih abai. Hanya embusan napas panjang yang menjadi responnya.


"Hey, Kris. Nggak apa-apa. Kita sahabat. Sahabat. Apa salahnya berbagi?" Alin bersikukuh, tapi Kris tetap diam. Wanita yang tengah hamil dua bulan itu mengernyit heran saat Kris mende sah makin panjang.


"Apa ini karena Theo?" terka Alin, padahal dia tau kalau yang Kris pikirkan saat ini bukan Theo.


"Bukan, Theo baik-baik aja. Dan aku selalu mastiin dia baik-baik aja. Jangan khawatir. Aku bisa mengurusnya."


"Ya, aku yakin itu. Dan yang nggak baik-baik aja pasti kamu sendiri." Alin makin menjadi.


Kris pun berdengkus, lalu menyeruput kopi hitam yang ada di depan. Tatapannya datar kala menatap Alin.


"Kris, egois sekali dalam seumur hidup nggak apa-apa kali. Kamu itu bukan malaikat, kamu juga bukan dewa. Kamu itu manusia yang pasti punya rasa. Kenapa harus memusingkan banyak hal? Kenapa perasaan orang lain kamu ambil peduli?"

__ADS_1


Kris tetap diam karena tahu ke mana arah pembicaraan Alin ini. Dia memilih memalingkan wajah ke arah lain, melihat para pengunjung yang berlalu lalang di sekitar sana.


"Kris, dengar aku, dengar aku dan ikuti nasehatku. Bukan karena aku lebih pintar dari kamu atau karena aku lebih banyak pengalaman dari. Bukan. Aku justru lebih sedikit pengalaman, tapi aku tahu pasti apa yang aku mau dan yang enggak. Hidup enggak serumit itu, kok. Kamu dengerin aku sekali aja, sebagai sahabat, sebagai orang yang kenal kamu sejak lama, izinkan aku mengemukakan pendapat, kejar dia pertahankan dia, usaha dapatkan hati dia tanpa memikirkan apa pun."


__ADS_2