
Sebulan kemudian.
Surabaya.
Theo yang bosan di kontrakan memutuskan berkendara sendiri hendak mencari makan malam. Namun, baru saja mematikan mesin hendak parkir, tiba-tiba ada yang melompat naik ke jok motornya. Seorang cewek cantik berpakaian serba hitam. Rambutnya dikucir satu.
"Heh, cepetan cabut!" perintahnya.
"Lo ngapain? Siapa lo? Turun nggak," sentak Theo. Dia memasang wajah galak ya karena memang risih tiba-tiba saja ada yang naik di motornya itu.
"Dih, cepetan cabut! Urgent ini. Atau kalau enggak gue bakalan teriak terus bilang lo mau lecehkan gue." Cewek manis itu melotot membalas tatapan sengit Theo. Theo yang tak ingin masa awal kuliahnya berskandal pun tancap gas dan membelah jalanan malam.
Sialnya si cewek yang tidak dia ketahui nama bahkan asal hadirnya itu terus menyuruh ngebut. Seperti memang terlihat urgent. Theo pacu kendaraannya hingga akhirnya tiba di depan sebuah rumah sakit.
"Heh makasih ya. Lo udah bantuin. gue." Si cewe mengecek saku jeans. Saat tak melihat apa yang dicari tak ada dia kontan menepuk jidat.
__ADS_1
Theo yang kebetulan mengecek ponsel langsung ditodong sama cewek itu. Tangannya melebar.
"Pinjem Hp lo."
"Ih, buat apaan?" Theo makin sewot.
"Siniin!" Tanpa bisa mengelak ponsel Theo telah berpindah tangan. Setelah mengetuk beberapa nomor dan beberapa saat barulah dia mengembalikan ponsel Theo dan membuat cowok itu terbengong menahan gondok.
"Gue kagak punya duit kes saat ini. Nanti gue hubungi sebagai ucapan makasih. Gue traktir makan seblak."
Merasa telah dipermainkan Theo cuma berdengkus saja.
Cewek itu mengetatkan rahang.
"Eh lo, lo bukan copet kan?" tanya Theo, alisnya menukik.
__ADS_1
"Dih, enak aja. Gue calon jaksa. Gue ...."
Belum juga selesai lisan itu cewek Theo telah lebih dulu menutup kaca helm, lantas memacu kendaraannya menjauh dari depan pintu masuk rumah sakit.
"Sialan. Belagu banget sih. Ah iya, Kak Meri!" Segera cewek itu berlari masuk ke dalam rumah sakit.
***
Sebulan setelah menikahi Fiona Kris jadi lebih segar dan bersemangat. Tidak menyangka dia dengan perubahan Fiona, walau terkenal badung ternyata istrinya itu menyimpan sisi keibuan. Dia selalu melakukan tugas istri dengan baik. Itu lantaran dia sering melihat kegiatan Daisy saat melayani Aris.
Kris beruntung menikahi Fiona. Sekarang ada yang memenuhi kebutuhan perut maupun di bawah perut. Setiap malam akan bertarung habis-habisan. Tiada malam tanpa desaaahan. Setiap pagi pun akan dibuatkan sarapan oleh istrinya yang bangun lebih pagi. Semua masakannya juga sangat enak walau yang dikuasainya baru beberapa makanan saja. Kris merasa bahagia menemukan Fiona. Dia menyesal, menyesal kenapa tidak sejak lama menikahinya. Eh!
"Pak, udah, dong. Lagi cuci piring ini," sungut Fiona yang mencoba meminggirkan Kris dari punggungnya. Hanya saja Kris seperti tidak mau lepas. Lelaki itu terus bergelendot ke punggung Fiona dan itu buat Fiona kesal tapi berakhir tertawa. Kumis tipis Kris terus menyentuh belakang lehernya.
"Pak, geli!"
__ADS_1
"Kenapa harus panggil Bapak lagi, hmm. Kamu lupa, kita sudah nikah. Panggil Mas apa susahnya."
Fiona yang masih terkekeh melepaskan mangkuk dan balik badan. Dia tangkup kedua belah pipi Kris. Kris sampai meringis merasakan air dingin menyentuh pipinya. Mata mereka berserobok pandang.