
Saat Fiona berusaha menentramkan hati, diam-diam ada Theo yang memperhatikan. Cowok tinggi bermata sipit itu juga ikut masuk ke kelas dan sesekali mencuri pandang Ke Fiona yang uring-uringan merebahkan kepala di atas meja. Melihat Fiona begitu makin besar rasa bersalahnya.
Theo sudah mengetahui semua yang terjadi. Dari mulut Kris langsung. Awalnya cowok itu kaget tidak terima, tapi setelah mendengar semua dia jadi paham, kalau ternyata korban sesungguhnya di sini adalah Filio dan Fiona.
Itu semua karena nasib saudara kembar itu tidak seberuntung dirinya. Walau dia kehilangan sosok ibu tapi ada Kris yang merawatnya dengan baik. Bersama Kris dia tidak pernah kekurangan kasih sayang meski tidak ada ibu. Materi juga tercukupi bahkan tergolong lebih sebab Kris selain menjadi PNS, dia juga punya usaha lain. Kris punya beberapa rumah kontrakan yang tersebar di beberapa titik kota Jakarta. Seumur hidup Theo dimanjakan dan tidak pernah kekurangan.
Berbeda halnya dengan Lio dan Fio. Mereka harus jadi yatim piatu dan dibesarkan dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.
Karena itulah Theo merasa bersalah. Dia menyesal telah berkicau pedas pada Lio dan menjelek-jelekkan Fiona secara blak-blakan.
Pelan, Theo dekati Fiona seperti tidak punya semangat hidup.
"Ehm, udah masuk lagi?" tanya Theo. Dia berdiri di dekat Fiona.
Lio yang tadinya duduk di bangku miliknya menjadi gerah hati. Melihat Theo mendekati sang adik tentulah dia tidak terima apalagi ketika mengingat betapa kejamnya mulut Theo kala menghina adiknya.
"Untuk apa nanya-nanya?" ketus Lio. Dia ikut mendekat. Matanya begitu tajam kala menatap Theo, Fio yang ada di antaranya merasa yakin ada yang tidak beres.
"Bang, jangan ngegas," ujar Fiona. Dia berdiri dan menengahi.
"Habisnya, gue kesel. Muka dia nyebelin," umpat Lio yang direspon Fio dengan pelototan.
"Begini gue cuma mau minta maaf soal sebelum-sebelumnya. Gue udah dengar cerita sebelumnya. Jadi ...."
__ADS_1
"Jadi apa?" Lio tidak mampu lagi menahan emosi, dia cengkeram kuat kerah seragam Theo, lantas mendorongnya hingga terpojok ke dinding. Fiona tentulah kaget, bahkan semua murid yang ada di sana ikut terdiam. Atmosfer berubah aneh.
"Lo kira dengan minta maaf bisa buat semua normal?" geram Lio. Tatapannya berkilat dan itu buat Fiona ketar-ketir. Dia takut ada guru yang masuk dan melihat pertengkaran mereka.
"Bang, lepasin. Nanti ada guru liat," tegurnya sembari berusaha melepaskan cengkeraman Lio.
Namun Lio tidak peduli, justru semakin mencengkram kuat kerah baju Theo.
"Gue benar-benar minta maaf, gue enggak tahu," balas Theo.
"Bang, lepas!"
Lio pun melepaskan cengkeraman, tapi tatapannya tetap sengit saat beradu dengan mata Theo.
"Maka dari itu gue minta maaf. Gua nggak tau kalau....
"Itu hanya kecelakaan. Gak ada yang bisa disalahkan di sini."
"Fio!" sentak Lio.
"Bang, lo diem dulu."
Lio mengeram tapi tidak bisa berkata-kata. Dia biarkan Fio berbicara dan menatap lekat Theo.
__ADS_1
"Kita sama-sama masih kecil, kita sama-sama gak tau dan kita sama-sama kehilangan," tutur Fiona yang berusaha setenang mungkin. Dia tahan debaran di dada dan air mata yang berdesakan minta dikeluarkan. Tak dipungkiri dia rapuh saat membahas ini. Menjadi yatim piatu saat masih kecil itu tidak mudah, sangat tidak mudah.
"Maka dari itu gue minta kesempatan buat memperbaiki, apa bisa kita jadi teman?$
"Lo gila!" sentak Lio. Tinjunya hampir melayang andai Fio tidak menahan.
"Bang Lio, tenang."
"Habisnya dia ngeselin. Gak punya malu," umpat Lio.
"Gue cuma mau temenan. Gue cuma mau memperbaiki hubungan kita," jelas Theo tanpa peduli tatapan menghunjam dari Lio. Sebab yang Theo butuhkan adalah persetujuan Fiona.
"Maaf, gak bisa. Gue udah maafin elo, tapi kalau mau jadi teman akrab kayaknya mustahil. Cari aja teman lain yang sesuai. Kita gak bakalan bisa asyik. Tapi sebelum itu, gue mau bilang makasih. Masih karena udah jadi partner belajar yang baik." Fiona menepuk bahu Theo, lantas memutar tumit dan menarik lengan sang abang yang masih terlihat berang. Mereka tinggalkan Theo yang menyugar rambut frustrasi.
"Fi, lo kok mudah banget maafin dia. Asal lo tau aja cunguk itu udah jelekin elo. Dia udah ...."
"Biarin aja, Bang," potong Fio yang terus menarik lengan abangnya. "Ada yang lebih penting dari itu."
"Yang lebih penting?" ulang Lio, ditatapnya wajah tenang sang adik dari samping. "Apa yang lebih penting dari balas dendam?"
"Remedi."
"Remedi?" ulang Lio. Matanya terbelalak. "Serius, lo?"
__ADS_1
"Iya. Jam pelajaran ketiga ini kita ada remedi sejarah. Jadi ayok kita cari Aulia, kita pinjem catatan."