
"Theo, kita harus bicara," ucap Kris sesaat setelah mengunci pintu depan. Namun, Theo tak menggubris dan tetap melangkah menuju kamar, setelah itu menguncinya
"Theo, buka pintunya. Kita bicara!" seru Kris lagi. Suara ketukan mengikuti suara seruannya itu.
"Theo, Daddy harus tau kamu maunya apa?" lanjut Kris. Ketukannya makin nyaring.
Sementara di dalam, Theo mulai melepas kemeja dan celana.
"Theo!"
"Besok saja, Dad. Aku mau istirahat."
"Tapi Theo."
"Besok, Dad. Aku janji bakalan kasih penjelasan besok. Tolong biarkan aku istirahat."
Mendadak di luar senyap dan Theo menduga sang ayah tiri sudah pergi dari sana. Cowok yang hanya mengenakan baju singlet dan boxer di pinggang itu pun merebah menatap langit-langit, merasakan kepalanya berdenyut seakan-akan siap pecah. Dia pejamkan mata dan wajah Fiona semakin membuatnya nelangsa. Tubuhnya melemas, sakit kepala, sakit hati dan sakit segalanya.
Hening, Theo bisa merasakan mata mulai menghangat dan ada air yang tiba-tiba tergenang di pelupuk mata. Tak pernah terbayangkan di otaknya kalau patah hati sesakit ini. Tak pernah terpikirkan kalau mengikhlaskan sesesak ini. Dulu dianbahakn dengan bangganya bilang kalau tidak bisa membuat Fiona jatuh hati maka akan rela pergi.
Tapi lihatlah, dia merasakan itu samgatbskait. Dunia serasa berhenti. Melepaskan orang yang dicintai untuk orang yang disayangi bukan perkara mudah. Sakitnya berkali-kali lipat. Stresnya juga demikian. Seharian ini dia berpikir keras dan telah memutuskan akan mundur dan menyerah.
__ADS_1
Tak ingin membiarkan hati berlakurut dalam kesedihan Theo pun segera beranjak dari sana menuju kamar mandi. Dia basuh muka yang panas dengan air, lalu menatap pantulan sendiri di dalam cermin.
Menyedihkan, ya Theo bisa menangkap raut muka itu dari matanya. Dia kalah, kalah karena telah gagal mencuri hati Fiona. Gagal karena tidak bisa membuat gadis itu menyukainya.
Theo usap wajahnya yang basah, lalu menatap pantulan diri sendiri begitu lamat, setelah itu pergi dari sana dan merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang.
-
-
-
"Hey, melamun?" Filio datang membawa sekantong jeruk. Dia merebah di sebelah Fiona yang sekarang telah duduk tegak.
"Lo dari mana, Bang? Lama banget," balas Fiona keheranan. Akan tetapi mimik heran itu sirna saat mencium aroma yang menyengat dari jeruk. Karena alih-alih menjawab Filio justru mengupas buah jeruk, lantas memakannya, membuat Fiona ngiler dan melupakan kesedihan. Dengan penuh nafsu dia ambil buah yang ada di tangan Filio.
Pasal ekspresinya jangan ditanya. Wajahnya langsung berubah mengkerut. Dari alis sampai bibir semuanya mengerucut.
"Buset, dah. Asam banget." Fiona melempar sisa buah yang ada di tangan. Lalu menatap heran sang abang yang yang masih mengunyah buah, wajah abangnya itu datar, seperti tidak semangat hidup.
"Bang, lo baik aja, kan? Lidah lo baik-baik aja kan? Kok ekspresi elo datar gitu?" cecar Fiona. "Ini asem banget, loh."
__ADS_1
Namun lagi-lagi bukannya menjawab Filio justru mengembuskan napas panjang.
"Lo tau, Fi, asamnya buah ini nggak sebanding dengan perasaan gue."
"Emang lu ngapain, Bang?" Fiona yang masih kesal mencoba menetralkan lidah dengan teh hangat yang sedari tadi menemaninya.
"Gue patah hati. Seumur hidup baru ini ditolak. Sakit."
"Apa? Lo ditolak?" Fiona terbelalak
Filio pun mengangguk.
"Seriusan?" Fiona terdiam menatap wajah abangnya itu tak ubah seperti ayam jago yang sekarat. Tak ayal gelagat itu buat Fiona tergelak nyaring. Dia bahkan memukul berkali-kali pundak abangnya itu. Konyol.
"Astaga, Bang gitu amat, sih. Lagian elo sih aneh-aneh. Ya kali naksir Mrs Jean. Pasti ditolaklah. Lo nggak lihat hubungan Mrs Jean sama tante kita. Ya kali dia mau nerima elo. Kalau dia nerima elo itu artinya Mrs Jean nggak waras. Lagian ingat umur dong." Fiona kembali tergelak, tak habis-habisnya.
"Cinta enggak pernah memandang umur. Lagian jangan ngeledek kalau lo sendiri aja nggak bisa ngatur perasaan. Lo juga tergila-gila kan sama orang yang lebih tua."
Fiona kontan terdiam menerawang langit malam dan merasa sesak di dada. Galau segalau-galaunya.
"Bang, bisa nggak sih perempuan punya dua suami?"
__ADS_1