Sugar Teacher

Sugar Teacher
Abang Adek.


__ADS_3

Meski bingung Fiona pun membalas senyum Kris. Dia pun melangkah, lalu diam-diam menatap balik Kris yang ada di belakang dan melihat lelaki itu juga telah ke arah berlawan berjalan memunggunginya. Fiona tekan dadanya yang tak ubahnya seperti pacuan kuda.


"Gila gue harus waras. Harus," gumamnya pelan lalu tersentak kaget saat satu lengan mendarat di pundaknya.


"Bang Lio!" sentak Fiona. Dia tepis kasar lengan Lio. Namun Lio tidak peduli dan kembali mengunci leher Fiona dengan lengannya.


"Sakit, Bang! Lepas! Malu sama anak-anak," oceh Fiona lagi yang berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Lio. Hanya saja sang abang seperti tidak berniat melepaskannya dan bahkan semakin lebar saat melangkah, membuat gadis pendek itu terseok-seok mengimbanginya.


"Fi, hidup kita itu udah susah, jadi jangan ditambah susah, biasa aja dong mukanya. Mau ujian kayak mau berperang aja."


"Iya iya lepasin dulu, sakit ini," balas Fiona yang terbatuk-batuk seraya memukul lengan Lio. "Lepasin dulu, kagak bisa napas ini."


"Nah gitu, dong. Harus positif thinking. Itu baru Fiona." Cekalan Lio lepas. Akan tetapi fokusnya teralihkan saat melihat barang bawaan Fiona. Dia pun langsung tersenyum semringah dan tanpa permisi merampas bekal kue yang Kris beri.


"Wah, ada kue, bagi gue."


Tanpa mendengar jawaban Filio pun langsung menyomot kue yang ada dalam tempat itu, dia mengunyahnya dengan nikmat. Suara decakan terdengar jelas dan itu membuat Fiona kesal dan melayangkan pukulan.


"Nggak sopan banget sih maen ambil punya orang," gerutu Fiona. Decakan sinis terdengar jelas. Dia tutup lagi tempat kue itu dan agak menyayangkan karena tinggal dua potong lagi. Kris jelas-jelas beli itu buatnya dan sekarang sepotong sudah masuk perut abangnya itu. Mau marah tapi sudah terlanjur dimakan.


"Lah ini kan punya lo, bukan punya orang," balas Lio. Dia ingin mengambil lagi tapi Fiona menyembunyikannya di belakang punggung.


"Bang Lio! Jangan rakus napa?"


Namun, Lio merespon kemarahan sang adik dengan senyum saja. Dia bahkan tak segan menjilati ujung jarinya.


"Udah jangan stress gitulah, nanti malah nggak bisa fokus. Gue dengar pikiran yang tenang itu penting saat ujian. Jangan banyak takutnya."


"Ya elah, sok tau lu."

__ADS_1


"Lah, kagak percaya." Lio nyengir dan kembali meletakkan lengannya ke pundak Fio, tapi ditepis.


"Isi aja. Nanti kalo gak tau jawabannya tinggal kolom aja c. Ingat itu, ya. Katanya C itu keberuntungan."


"Sotoy."


Lio pun terkekeh. "Enak Fi kuenya. Lo beli di mana? Bagi lagi, dong."


Fiona spontanitas menyembunyikannya ke belakang punggung. Matanya mendelik kesal. "Enak aja. Ini jatah gue. Kalau mau beli sana!"


"Dasar pelit."


Keduanya kembali berjalan bersisian melewati banyak murid yang serius belajar di selasar. Mereka bersila di porselen sembari memegang buku. Berjejer tak ubahnya sedang mengantre sembako.


"Gue denger Tante Daisy mau masukin kita kuliah ke UNJ," tutur Filio.


"Lah, ngapa mendesahh lagi? Bukannya bagus ke UNJ. Gak jauh-jauh amat dari rumah, 'kan?" lanjut Filio yang tepat mensejajarkan diri di samping adiknya itu.


"Iya. Tapi masalahnya bingung mau ambil jurusan apa. Nggak ada satu pelajaran pun yang gue kuasai. Yang gue bisa cuma nyanyi. Itu doang."


"Eh, tapi lo kan pinter masak. Masakan lo juga enak. Kenapa nggak ke tata boga aja? Sapa tau nanti bisa jadi usahawati setelah lulus kuliah. Mayan gue bisa numpang makan."


Mata Fiona langsung berbinar. "Tata boga?" ulangnya antusias.


"Iya. Di UNJ kan ada jurusan tata boga. Gue pikir itu cocok di elo. Kakaknya Si Ali kan lulusan tata boga. Sekarang kerjanya di resto hotel bintang lima. Jadi Chef. Keren dia."


Mendengar ucapan Lio Fiona pun kembali membagi satu potong kue itu. Berbeda dengan tadi, kali ini dia membaginya dengan perasaan ikhlas luar biasa. Senyumnya mengembang tak ubahnya bunga di musim semi.


"Brilian, Bang. Otak lo tokcer. Ambil kue ini. Ikhlas dunia akhirat mah. Tata boga kayaknya pilihan terbaik. Nanti bantu gue ngomong sama Tante, ya."

__ADS_1


Lio yang dapat sepotong kue pun berbinar matanya. Dia nikmati kue itu sembari mengacak poni sang adik. Keduanya menikmati kue cokelat itu dengan perasaan senang sembari terkekeh bersama hingga akhirnya buru-buru menelan kue itu karena bel telah berbunyi.


-


-


Masa-masa menegangkan itu pun akhirnya berlalu. Semua siswa sudah pasrah dengan hasil akhir dan hanya bisa berdoa agar lulus dan bisa melanjutkan rencana masing-masing. Ada yang kuliah, ada juga yang tidak.


"Theo, Daddy boleh masuk nggak?"


Suara ketukan dibalik pintu itu buat Theo lekas-lekas menyembunyikan beberapa kertas formulir pendaftaran mahasiswa baru ke dalam laci. Tanpa Kris tahu sebenarnya Theo mengambil formulir salah satu universitas yang ada di Surabaya. Namun yang dia beritahukan ke Kris adalah universitas yang ada di Jakarta. Theo ingin satu kampus dengan Fiona, tapi juga sangat ingin melanjutkan ke Surabaya yang merupakan kampus ilmu hukum terbaik di Indonesia.


"Masuk, Dad!"


Kris pun membuka pintu lalu melihat Theo sedang menghampirinya.


"Nggak usah, Daddy cuma mau nanya, kamu jadi jalan sama Fiona nanti?"


"Jadi, Dad. Bentar lagi. Aku mau cari sepatu futsal sambil ajak dia ke bioskop," sahut Theo. Diam-diam dia telisik ekspresi Kris yang berubah walau tidak kentara.


"Ya udah kalau gitu. Daddy tinggal. Daddy juga mau pergi. Nanti jangan lupa dikunci pintunya."


Kris pun pergi meninggalkan Theo yang memegang handle pintu. Tanpa Kris tahu Theo melihat tangannya mengepal.


"Dad?"


Spontan Kris membalik badan. Tangan juga dia lemaskan sebagaimana mestinya, lantas menyembunyikan di belakang punggung. Dia tidak ingin memperlihatkan kalau tengah merasa cemburu sekarang. Theo dan Fiona memang dekat dan dia tidak berhak marah. Hanya saja ada satu bagian dalam hati tidak menerima kedekatan mereka. Rasa itulah yang buat Kris mengutuk diri sendiri. Tak sepantasnya membenci anak sendiri. Namun, hati susah sekali dikendalikan.


"Kenapa, Theo? Ngomong aja. Apa uang kamu kurang?" lanjut Kris. Alisnya mengernyit heran pasalnya Theo tak kunjung bicara.

__ADS_1


__ADS_2