Sugar Teacher

Sugar Teacher
Nikah sah.


__ADS_3

Meski jantung berdegup kencang Kris tetap memberanikan diri menghadapi Daisy lagi. Karena bagi Kris saat ini telah kepalang tanggung untuk mundur. Sebab dibalik tekatnya yang bulat ada hati sang anak tiri yang tengah sekarat merelakan Fiona. Maka dari itu dia akan menggunakan kesempatan ini untuk berjuang keras. Galaknya Daisy akan dia hadapi. Karena jika gagal, maka dia akan menyakiti Theo, Fiona, dan juga tentu saja diri sendiri. Sebenarnya tanpa siapa pun percaya dia itu ngebet pengin nikah lagi. Menduda bertahun-tahun tak masalah untuknya. Hatinya telah beku seperti es kutub Utara. Tak ada yang mampu menggoyahkan kesetiaannya pada almarhumah. Saat bertemu Fiona saja yang jumpalitan tak terkendali. Dia bahkan beberapa kali mimpi basah karena cewek pendek yang barbar itu.


"Jadi kalian benar-benar ingin nikah?" tanya Daisy memastikan pendengarannya. Matanya melotot geram, tapi agak mereda saat mendengar dehaman Aris dari samping.


"Iya, Tan. Aku udah yakin buat jadi istri."


"Aku juga udah yakin. Terima aku jadi menantu kamu, Des."


Gubrak!


Sebuah bunyian dari ambang pintu mengagetkan keempatnya. Dan itu ternyata adalah Filio yang tersandar shock si pintu. Tatapan remaja itu nanar saat beradu dengan sang adik.


"Lalu gimana dengan kuliah? Kamu udah daftar Fiona." Daisy menimpali. Masih tak rela sang ponakan nikah muda. Hanya saja perkataan Arus ada benarnya. Kris tak akan menyengsarakan Fiona.


"Soal itu aku bakalan dukung penuh Fiona. Aku nggak bakalan biarkan dia putus sekolah," sahut Kris.


"Matamu!" sambar Daisy dan itu buat Kris terbelalak. Seingatnya dulu Daisy sangat manis dan santun. Sekarang malah mirip singa betina. Galaknya minta ampun.


"Jangan janji kakau nggak bisa nepatin. Kalau kalian nikah otomatis berhubungan. Nah kalau udah berhubungan yang pasti ada buahnya." Daisi mengomel sembari menyentuh perutnya yang buncit. Secara tersirat dia mengatakan kalau Fiona pasti hamil.


Untuk itu wajah Kris menegang. Rasanya dia merasakan pipi mulai panas menghadapi perkataan Daisy yang frontal. Namun berbeda dengan Fiona. Cewek itu malah terkekeh kecil.


"Oh, kalau itu tenang aja, Tan. Kan ada pil kontrasepsi. Yang bentuk suntikan juga ada. Katanya bahkan alat kontrasepsinya bisa ditanam di kulit."


"Fiona!" Daisy dan Filio menyebut serentak dan buat Fiona kaget menyentuh dada.


"Kaget aku. Kenapa harus teriak. Aku nggak budeg."

__ADS_1


"Fiona!" Lagi, Daisy dan Filio membentak.


"Eh, kalian jangan salah paham. Aku nggak pernah ya begituan. Aku cuma liat di google. Kebetulan baca tentang reproduksi wanita."


Daisy dan Filio mengetatkan rahang.


"Serius. Aku nggak bohong. Aku masih perawan tingting," lanjut Fiona yang masih tak sadar kalau bahasan itu tak pantas dibicarakan saat ini.


Filio yang geram langsung menarik lengan sang adik lantas memiting kepala. Dua beradik itu kontan ribut.


"Jadi kapan kira-kira akadnya?" tanya Aris mengabaikan Filio dan Fiona yang berisik. Dia sadar saat ini harus turun tangan.


"Kalau bisa sih besok."


Kali ini keributan langsung lenyap berganti keheningan yang hakiki. Fiona bahkan mengerjap heran.


"Nikah ambil sah aja, Tan. Nggak usah resepsi," celetuk Fiona.


Kali ini semua mata terarah ke Fiona. Gadis yang lehernya sedang diapit Filio itu bahkan tersenyum tanpa beban, dan itu kontan buat Filio dan Daisy kembali membentak.


"Jangan bentak-bentak, Tan. Nanti jantung aku melorot ke lambung. Nggak jadi nikah entar."


"Kamu ini gimana, sih? Kenapa nggak mau resepsi? Takut status diketahui temen? Takut nggak bisa lirik cowok lain?" cecar Daisy yang sebenarnya juga jadi pertanyaan Kris. Dia ingin nikahi Fiona, hanya saja tetap tak setuju jika cuma nikah KUA. Dia ingin mengabarkan pada dunia dia bukan jomblo yang dikutuk mantan istri. Dia juga ingin mengatakan pada teman-teman kalau dia punya istri cantik dan menarik walau sebenarnya menyimpan kebobrokan yang hakiki.


"Bukan, Tan." Fiona melepaskan apitan lengan Filio. Lantas mendekati Daisy dan bergelendot di lengan tantenya itu. "Aku itu nggak mau resepsi karena itu mubazir. Sayang uang."


"Ehm, soal uang kamu jangan pikirin. Saya ...."

__ADS_1


"Aku belu selesai bicara, Sayang ...."


Mendengar kata sayang dari Fiona kembang kempis hidung Kris. Dia tersipu malu dan itu buat Filio ingin muntah melihat pasangan beda umur itu.


"Aku itu nggak setuju hamburkan uang buat resepsi, ngapain buang-buang uang untuk sehari. Sebenarnya aku itu pengen pakai uangnya ke luar negeri. Aku mau pakai uangnya liburan ke Jepang, China sama Korea."


Kontan Kris menganga. Permintaan ini lebih besar dari resepsi.


"Gimana, Pak. Sanggup?" lanjut Fiona. Dia mengedip genit.


Kris yang kagok menggaruk tengkuk, senyum tak nyaman dia ukir. Jika dikalkulasikan maka dia harus siap menjual beberapa petak rumah kontrakan yang tersebar di beberapa kota besar.


"Fiona kira-kira," geram Daisy. "Kamu mau buat suami kamu bangkrut?"


"E cieee ada yang nerima jadi menantu," goda Fiona yang juga buat Kris menunduk menahan senyum. Secara tak langsung Daisy merestui pernikahan ini.


"Kamu ini, serius bisa?"


"Cuma canda, Tan. Aku cuma mau ke Jepang aja. Mau lihat musim gugur."


Filio yang geram seketika langsung menjitak kepala adiknya itu.


"Sakit, Bang!"


"Makanya ini otak di pake. Lo tau sekarang lagi musim apa? Ini lagi musim panas."


"Ya udah, tinggal nunggu musim gugur aja baru berangkat. Gimana, Pak? Mau nggak. Kita honeymoon ke sana. Ajak aku jalan-jalan ke Jepang."

__ADS_1


__ADS_2