Sugar Teacher

Sugar Teacher
Resepsi.


__ADS_3

Hotel megah telah disulap sedemikian rupa. Kris dan Fiona bagai raja dan ratu di sana. Semua memberi restu, baik guru-guru maupun teman seangkatan. Mereka tak ada yang menyangka kalau Kris akhirnya menikahi Fiona. Bahkan beberapa guru menginterogasi Kris tak tanggung-tanggung. Terutama Sri, si guru BP yang selalu naik tensi saat menghadapi Fiona.


"Pak Kris. Ini serius jadikan Fiona istri? Enggak mau pikir ulang?" ucap Sri saat menyalami tangan Kris. Jean yang menemani hanya geleng-geleng kepala dan menahan Daisy yang mulai mengepalkan tangan karena tidak terima keponakannya dihinakan.


"Kenapa harus pikir ulang, Bu? Kalau ada yang lebih bagus kenapa harus nunggu yang lain. Kalau daun muda udah cocok ngapain cari yang tua?" balas Fiona sengit. Saat ini dia mengenakan gaun pengantin panjang berwarna putih. Terlihat anggun seperti Barbie saleha karena mengenakan jilbab. Hanya saja saat bicara serta pelototan matanya itu menunjukkan sikap terbalik dari kata saleha.


"Ya habisnya kelakuan kamu begitu. Ya kasian kan Pak Kris-nya. Nanti puyeng ngadepin kamu. balas Sri bernada bercanda tapi sebenarnya serius.


"Nggak mungkin puyeng. Kalau puyeng pun udah ada obatnya." Fiona tersenyum manis saat Kris menatapnya.


"Lagian ya Bu Sri." Fiona bergelendot mesra di lengan Kris yang kekar. "Apa tampang aku ini nyusahin. Enggak kayaknya. Bahkan gemesin, iya kan, Yang?" lanjut Fiona sembari mengedip genit pada Kris.


Tentu saja Kris mengiakan, dia tersipu berbunga karena Fiona bermanja begitu. Biasanya boro-boro pegang tangan, menatap agak lama saja ada suara dehaman Daisy yang hampir selalu menginterupsi. Wanita itu selalu ada menemani mereka.


"Ya sudah, deh. Semoga langgeng." Sri melengos pergi diikuti Jean. Sebenarnya dia agak iri melihat Fiona yang masih muda sudah menikah, dengan seseorang yang sudah mapan dan dewasa pula. Sedang dirinya ....


Setelah kepergian Sri dan Jean Kris pun mencondongkan badan ke Fiona. "Bisa kamu ulang lagi kata yang tadi," bisiknya.


"Kata yang mana, Pak?"


"Panggil saya sayang."


Fiona auto melotot, tapi setelahnya bersemu merah. Dia cubit gemas pinggang Kris hingga suaminya itu sedikit mengaduh.


"Kenapa, Kris?" tegur Daisy.


"Ah, nggak kenapa-napa, Tan. Dia cuma jatuh," sahut Fiona.


Tentu saja jawaban itu buat kedua orang tua Kris serta Daisy dan Aris saling tatap.

__ADS_1


"Kamu ini aneh. Jelas-jelas suami kamu itu berdiri tegap. Mana ada jatuh." Daisy mulai sewot.


"Ih, Tante dibilangan kagak percaya." Fiona bergelendot di lengan Kris. "Pak, Bapak tadi habis jatuh kan."


Kris cuma bengong, bingung. "Kapan saya jatuh?"


"Iya, Bapak jatuh. Jatuh cinta dalam pesonaku. Buktinya kecanduan dipanggil sayang. Eak eak cieee ... tersipu."


Kris cuma diam melotot. Sedang Fiona terkekeh-kekeh kecil bahagia menggoda suaminya. Suasana agak heboh hingga membuat para tamu yang duduk di kursi menerka-nerka apa yang meraka bahas.


"Ehm, kayaknya senang banget ini pengantin baru," sindir seseorang dari samping.


"Nando?" Kris menegakkan tubuhnya. Di belakang Nando dia melihat Alin, suami beserta teman alumni lain.


"Selamat, ya. Akhirnya nikah juga," lanjut Nando. Dia menyalami Kris dan Fiona. Begitu juga teman yang lain.


"Tentu, jodoh rahasia Tuhan. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan."


"Ya enggak apa-apa, dong, Om. Daun muda itu kan enak. Hanya orang istimewa yang bisa dapat daun muda. Iya kan, Yang?" timpal Fiona yang kembali bergelendot di lengan Kris. "Lagian walau tua guruku ini mempesona. Dia guru paling manis, smart dan keren. Dan yang paling kece dia ini setia. Enggak kayak laki-laki dewasa lain yang aku kenal. Murahan, sukanya hinggap ke hati perempuan sana sini nggak jelas. Ujung-ujungnya enggak nikah-nikah."


Nando mengeram kecil. Ingin dia sumpal mulut lamis Fiona dengan tisu. Sebenarnya dia tersinggung karena memang dia belum menikah dan memang punya beberapa perempuan.


Mendapati itu Kris pun merasa bangga. Dia punya istri seperti Fiona yang tak pikir panjang menjaga harga dirinya. Mendadak gejolaknya berapi-api.


"Ya. Ini keberuntungan. Apa kamu nggak iri? Kamu ganteng lebih ganteng, kaya dan pintar. Masa belum nikah juga. Aku aja udah dua kali nikah. Kamu kapan? Jangan kelamaan, ya. Aku ingin anak kita juga jadi teman di masa depan."


Mendapati sindiran halus itu buat Nando jengkel. Dia pun pergi mendahului teman-teman yang lain yang sebenarnya juga menahan tawa.


Setelah yang lain saling salaman kini Alin dan suami yang memberi mereka ucapan selamat.

__ADS_1


"Akhirnya kalian nikah juga." Alin cipika-cipiki ke Fiona.


"I-iya, Kak. Makasih, ya."


"Aku enggak ngapa-ngapain. Aku cuma kasih dorongan aja ke laki-laki ini. Lembek." Alin melirik sini Kris yang tengah bersalaman dengan suaminya.


"Aku enggak lembek," sanggah Kris.


"Lembek. Buktinya butuh bertahun-tahun baru bisa balas Nando. Harusnya dari dulu biar dia nggak gede kepala. Heran, temen kayak gitu kok dipelihara. Mending peliharaan tutul. Cepet kaya. Atau ba biii ngeepet sekalian."


"Aku cuma malas berdebat. Nggak mau cari musuh," sahut Kris.


"Nah ini, nggak bener ini," timpal Fiona. "Harusnya nggak gitu konsep hidup, Pak. Biar hidup tenang itu balas kebaikan orang sekenanya. Orang baik, balas baik. Jika datang orang nyinyir, gak jelas, iri, dengki dan segala macam gengnya, sikat habis saja. Babat tuntas biar nggak ngusik hidup lagi. Terlalu baik itu juga ngak bagus."


"Eciee pak guru di guruin istri. Dengerin itu Kris." Alin terbahak sedang Kris cuma diam. Mati kata dikeroyok dua perempuan.


***


Seusai acara.


Kris dan Fiona masuk ke kamar pengantin yang sudah disulap sedemikian rupa. Harum ruangan serta bunga mawar yang ditata di sana sini membangunkan fantasi liar Kris. Dia tatap Fiona yang telah menanggalkan jilbab dan gaun. Saat ini istrinya itu hanya mengenakan kaus manset serta legging. Tentu saja lekuk tubuh yang padat berisi itu buat Kris menelan ludah.


"Pak, aku mandi duluan, ya."


Kris balas dengan dehaman saja, lantas melihat punggung Fiona yang akhirnya hilang di telan pintu kamar mandi.


Dan tanpa siapa pun duga sebenarnya Kris punya sisi lain. Dia berjingkrak kegirangan sembari salto beberapa kali. Akhirnya dia bisa menikahi Fiona. Gadis yang selalu menjadi wanita pengisi mimpi. Sekarang gadis itu telah halal untuk dia sentuh.


Namun Fiona yang lupa dengan pembersih mukanya tentu saja berbalik dan heran melihat Kris yang berjoget kegirangan.

__ADS_1


"Pak, Bapak kesurupan reog?"


__ADS_2