
Waktu telah menunjukkan pukul satu tengah malam dan anehnya tak kunjung membuat Lio terlelap. Cowok remaja jangkung itu terus gelisah di atas dipan. Berkali-kali mencoba memejam, dan bermacam gaya agar mendapat posisi enak, tapi tetap tak kunjung membuatnya terlelap. Bergegas dia duduk dan menopang kepala yang serasa akan pecah.
"Apa yang harus gue lakukan?" gumamnya.
Terkenang dia dengan kejadian tadi sore saat Daisy memergoki Fio—kejadian kala Daisy menyeret Fio tanpa peduli pandangan orang lain. Keadaan makin kacau saat di rumah. Daisy yang tak pernah otoriter terlihat menyeramkan. Seolah bukan dirinya. Dia dengan tegas mengatakan kalau Fiona tidak boleh berhubungan dengan Kris. Tidak boleh menyukai Kris dan bertemu dengan lelaki itu lagi.
Fiona yang tak tahu menahu alasannya tentulah marah. Namun lagi-lagi, Daisy seperti orang berbeda, dia langsung melayangkan pukulan ke pipi keponakannya itu. Tak ayal, sampai sekarang Fiona masih mengunci diri di kamar dan tak keluar sama sekali. Bahkan melewatkan makan malam.
Lio raih ponsel, lalu melihat di aplikasi chat berwarna hijau dan baru tahu kalau sang adik masih online. Dia pun mencoba peruntungan mengirim pesan.
[Lo chattingan sama siapa malam-malam begini?] Send.
Centang dua tapi tak dibalas dan itu membuat Lio makin penasaran juga kasihan. Masalah tadi pasti membuat adiknya itu shock.
Lio pun kembali mengetik pesan.
[Fio, lo gak laper? Mau gue bikinin nasi goreng gak?]
__ADS_1
Tetap tak ada respon. Lio mengembuskan napas berat.
[Atau gue belikan di Mamang depan? Lo suka pecel ayam kan?]
Melihat tak ada respon, Lio pun menyentak napas panjang. Berusaha terus mengenyahkan sesuatu yang buat dada sesak. Sadar dia kalau Fio benar-benar merajuk dan dia sebagai abang jadi tidak tega. Adiknya itu tidak makan sama sekali dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Namun Lio pikir wajar Fiona begitu. Siapa yang suka dikekang? Siapa di dunia ini yang suka dimarah tanpa tahu alasan? Siapa?
Baik dia ataupun Fio membenci hal itu. Itu tidak adil bagi mereka. Sejak dulu, jika nakal mereka akan siap menerima hukuman. Namun berbeda hal jika tidak salah atau tanpa tahu alasan. Jiwa berontak mereka berkobar dan Lio tahu sang adik pasti sedang di fase meledak-ledak seperti itu.
Yang buat Lio heran adalah perubahan sikap tantenya itu. Dia mencurigai sesuatu ada yang tidak beres. Hanya saja tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih lagi sang tante kali ini terlihat begitu marah.
[Jangan sedih, Tante kayak gitu mungkin ada alasannya.]
Masih tak di jawab dan itu buat Lio makin gelisah. Dia keluar kamar dan berdiri di depan kamar sang adik yang tertutup rapat. Di dalam masih menyala lampunya. Lio yakin kalau Fio belum tidur
Perlahan tangannya pun terayun ingin mengetuk, tapi urung setelah tak sengaja melihat Daisy berjalan di bawah dengan mengenakan cardigan.
__ADS_1
"Lah, itu mau ke mana Tante malam-malam begini?" batinnya. Dia pun melongok ke bawah untuk memastikan. Benar saja, dia tak salah lihat kalau yang lewat di bawah itu benar-benar Daisy dan bukan setan. Tak hanya itu, terdengar juga pintu terbuka dan tantenya itu seperti tengah berbicara dengan seseorang.
Tante punya tamu? Tapi siapa? Kenapa datangnya tengah malam begini? batin Lio.
Nalurinya pun memerintahkan untuk mengikuti. Ya karena Daisy hari ini insangat berbeda.
Masih jelas di ingatan Lio kala tantenya menatap Kris. Seperti punya dendam kesumat.
Dengan langkah berjinjit Lio pun turun dari tangga. Suasana di bawah agak gelap karena Daisy mematikan ruang tamu dan hanya menyisakan lampu ruang tengah. Setelah tiba di depan, Lio pun mengintip dari balik tirai, dia melihat punggung tantenya. Tantenya itu berkacak pinggang di depan seorang pria yang Dikenal Lio. Mulut cowok itu bahkan ternganga saat melihat siapa itu.
"Pak, Kris?"
Namun, keterkejutan Lio tidak sampai di sana. Lewat lampu teras yang terpancar, Lio bisa melihat kalau sang guru berlutut di depan Daisy. Mata Lio terbelalak makin besar.
"Des, tolong maafin aku. Aku ... aku gak tau kalau Fiona ... Fiona keponakan kamu. Aku gak tau kalau ...."
"Pergi kamu dari hidup Fiona!" sela Daisy dengan nada pelan, tapi Lio bisa menangkap kalau sang tante saat ini tengah menggeram. Buktinya tangan yang ada di sisi kiri dan kanan paha sudah terkepal kuat.
__ADS_1
"Kamu pembunuh, kamu gak berhak ada di sekitar dia! Kamu gak berhak!"