Sugar Teacher

Sugar Teacher
Rendah diri.


__ADS_3

"Nggak sesederhana itu, Alin. Ada hati Theo. Aku harus menjaga hatinya. Dan juga ... Fiona belum tentu nerima aku lagi. Kamu lihat sendiri drama apa yang aku lakukan untuk mendorongnya pergi. Aku banyak kekurangan, aku ini pengecut. Mana mau dia dengan laki-laki pengecut seperti ini. Aku hanya pria tua yang nggak punya nyali. Dibanding Theo aku nggak ada apa-apanya, anak itu jauh lebih gentle dari aku."


"Itu karena kamu terlalu baik hati, Kris. Ayolah, nggak papa kali sekali-kali egois. Kejar apa yang kamu mau," balas Alin, mulai gregetan.


Kris menggeleng, menolak. "Masalahnya sainganku Theo, anakku. Bukan anak orang lain. Nanti kalau aku nekat, terus gimana dan hubunganku dengan Theo? Bisa kamu bayangin apa yang bakalan terjadi?"


Kris kembali menggelengkan kepala. "Enggak, Alin. Theo satu-satunya harta berharga yang harus aku jaga."


Saking geramnya Alin sampai menepuk jidat sendiri. "Lalu, apa kamu pikir Theo bakalan ngucapin terima kasih? Theo itu anaknya dewasa, anaknya pintar, nurun dari kamu. Jadi aku rasa dia bakal memaklumi atau bahkan akan menghargai kejujuran kamu ketimbang pengorbanan kamu yang kayak begini."


Kris kembali diam. Lamat menatap Alin.


"Andai kamu jadi Theo. Apa kamu bakalan tenang karena udah ngambil wanita yang ayahmu suka? Pasti enggak kan? Yakinlah, dia bakalan mengalah. Lagian masa depannya masih panjang. Di luaran sana masih banyak gadis-gadis lain. Theo itu pintar, populer dan yang jelas dia itu dewasa, jadi dia nggak bakalan nyiksa diri sendiri. Dia itu sayang sama kamu. Kamu satu-satunya orang yang dia percaya, kamu orang yang ingin dia banggakan. Jadi kamu juga harus percaya dia Kris. Jangan korbankan diri demi dia. Dia pasti nggak bakalan mau."


"Maka dari itu aku nggak bisa ngelakuin itu. Biarkan dia bahagia. Awas aja kalau kamu mengacau dengan bilang yang enggak-enggak. Mereka cocok. Dan seperti yang kamu bilang, Theo dewasa, jadi nggak mungkin dia macam-macam sama Fiona. Dia tau batasan."


Alin kembali menepuk jidat, gemas dengan Kris yang bebal.

__ADS_1


"Lalu Fiona, apa kamu bakalan gini kalau tahu Fiona juga ada rasa ke kamu?" lanjut Alin.


"Fiona suka aku?" Sebelah ujung bibir Kris naik sedikit. "Itu nggak mungkin, Alin. Aku udah lihat tatapan dia, tatapan dia itu benci. Justru bareng Theo dia ketawa, dia bahagia."


Alin makin gemas, dia memilih menyeruput jus buah naga miliknya agar emosi tak meledak.


"Kamu terlalu cepat menyimpulkan. Sedang di mataku nggak gitu. Dia itu masih sayang sama kamu, percaya deh sama aku. Kalian itu sama-sama nggak berani. Coba kalau kalian ngadepin masalah ini, kalian pasti bakalan bahagia, kok. Kalian itu cocok."


"Jangan mengatakan sesuatu yang buat kau berubah egois, Lin. Kamu tau pasti itu nggak mungkin. Lagian Fiona itu udah benci banget. Tiap ketemu selalu ngindar. Apa namanya kalo bukan benci?"


"Kris, come on. Jangan keras kepala."


"Ya, udah aku pulang kalian bersenang-senanglah."


"Lah kenapa udah mau pulang?" tanya Julio keheranan, pasalnya Kris telah berdiri. Wajah sahabatnya itu tampak kusut.


"Biarin aja, Sayang. Dia lagi nggak enak body dan nggak enak hati."

__ADS_1


"Kok bisa?" Julio menggaruk kepala. Pengacara muda itu menatap secara bergantian Alin dan Kris.


"Ya, bisalah. Kamu kayak enggak tau aja Kris kayak apa. Dia kan manusia berbudipekerti tinggi. Nggak inget julukan dia waktu SMA?"


"Alina!" Kris berdengkus dan melotot geram. Alin yang tidak tahan pun terbahak-bahak. Sedang Julio cuma garuk-garuk kepala.


"Ya sudah, apa pun sakitnya semoga cepat sembuh." Julio menepuk pundak Kris, Kris balas menepuk lengan Julio, lalu pamit.


Kris terus melangkah dan terhenti saat tak sengaja bertemu Fiona, Aulia, dan Filio dan Theo. Dari kejauhan dia mengamati. Keempat remaja itu terlihat ketawa-ketiwi sembari berjalan.


Kembali Kris mengeluarkan napas panjang, lalu mengusap wajah kasar. Agak berdenyut hatinya saat melihat wajah ceria Fiona. Wajah bahagia itu tidak pernah Kris lihat ketika mereka berhadapan.


Ah salah. Ralat. Dulu wajah itu pernah menghiasi hari-harinya. Hari-hari yang sangat dia rindukan saat ini. Dia rindu momen disaat Fiona terang-terangan mengatakan mencintainya, terang-terangan mengatakan ingin mendapatkan hatinya. Belum lagi gombalan receh yang selalu masuk ke ponselnya setiap pagi.


Tapi yang berlalu telah berlalu. Sesal juga tidak berguna. Ketika mengetahui kenyataan yang sebenarnya gadis itu berubah 180 derajat. Belum lagi drama-drama gila yang Kris lakukan agar Fiona menjauhinya. Jadi Kris mewajarkan kebencian Fiona.


"Ya, begini lebih baik," gumamnya lirih lalu kembali mengayunkan kaki.

__ADS_1


***


__ADS_2