
"Elo?"
"Gue gak telat, 'kan?" ucap Fio sembari memperlihatkan senyum termanis yang dia punya, berharap mendapat sambutan hangat dari sang calon anak tiri.
Hanya saja itu hanyalah ilusi sebab yang Theo berikan kini hanya dengkusan kesal.
"Bukannya jadwal belajarnya dimulai besok?" balas Theo malas.
"Iya, sih. Cuma aku gak sabar aja. Biar cepet pinter. Biar lulus dan gak malu-maluin suami sama anak tiri nanti," balasnya tanpa beban.
Justru, Theo yang mendapat tekanan. Andai Fio adalah laki-laki, sudah pasti diajak berkelahi saat itu juga.
Sabar, gue kudu sabar .... ngadepin ni perempuan sedeng gak bisa pake emosi. Entar yang gila malah gue sendiri," batin Theo, setelah itu mengembuskan napas panjang.
"Bisa gak sih lo ngomongnya biasa aja? Gosah paket aku kamu. Geli gue dengernya."
"Ya gak apa-apa. Dibiasakan. Ya kali sama ibu sambung bicaranya pake gue elo. Yang ada nanti kita dikira temenan."
Lagi, Theo menelan ludah. Tangannya terkepal erat.
Gila, ni cewek mukanya berlapis baja kali ya. Theo membatin lagi.
Tentu saja jawabnya iya. Fiona nekat, dia telah membuang urat malu dan datang dengan percaya diri ke sana. Dia telah memutuskan berjuang maka apa pun akan dipertaruhkan. Apalah cuma sindiran. Peluru saja sudah dipastikan akan mental.
"Btw, aku gak diajakin masuk?" tanya Fiona sembari melihat keadaan di dalam.
"Ngapain masuk?"
"Ya belajar, dong."
Theo menggelengkan kepalanya. "Kita belajar di teras aja."
"Yah, tapi kan di luar berisik. Nanti malah gak bisa fokus," cicit Fiona. Sok imut.
"Alasan! Gue tau motif sama niat terselubung elo."
Namun, Fio kembali menjadi manusia yang selalu positif thinking. Dia keluarkan keripik singkong dari dalam tas dan menyerahkannya ke Theo.
"Ini buat kamu. Jangan marah, ya. Aku kan sedang usaha. Usaha biar gak malu-maluin kalau nanti udah jadi ibu kamu."
Lagi, balasan Theo hanya decakan sebal, lantas menuntun ke kursi teras. Dia meletakkan keripik pemberian Fiona ke meja.
"Mau minum apa?" ketusnya.
"Gak usah, aku gak mau ngerepotin. Aku bawa kok dari rumah." Fio dengan wajah ceria mengeluarkan sebotol air mineral dan menatanya di meja beserta buku dan kamus yang dia punya.
"Aku gak mau di cap sebagai ibu sambung yang banyak mau," lanjut Fio lagi. Theo hanya bisa memejamkan mata agak lama, lalu kembali menatap Fio yang terus tersenyum konyol.
"Serah lu, deh."
__ADS_1
Meski kesal Theo pun ikut duduk. Dia lihat wajah Fiona yang masih saja tersenyum. Senyum yang sangat menyebalkan dimatanya. Kalau bukan karena Miss Jean, tidak mungkin dia rela berurusan dengan Fio lagi. Cukup penderitaan di sekolah saja.
Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Miss Jean sepertinya begitu peduli pada Fiona hingga meminta secara pribadi pada Theo dan berharap nilai pelajaran Fiona meningkat setelah ini.
"Jangan celingukan. Bokap gue sedang gak ada di rumah," tutur Theo malas sembari membuka buku paket.
Fiona yang mendengar itu jadi melemah. Pupus sudah harapannya. Dia kira akan disemangati oleh sang pujaan hati.
"Nih, kerjain soal ini. Gue mau liat seberapa banyak pemahaman elo tentang pelajaran kemaren," perintah Theo mutlak.
Alih-alih mengiakan dan fokus, Fiona justru sengaja mencondongkan badan. Jelas saja gelagat aneh itu dibalas Theo dengan pelototan.
"Ngapain liat liat?" dengkus Theo. Dag-dig-dug jantungnya saat ditatap Fio sedekat itu.
Sialan, kenapa gue jadi gugup gini? lanjutnya dalam hati.
"Theo, aku cuma mau bilang, muka kamu sekarang merah," sahut Fiona. Bulu matanya yang lentik mengerjap cantik dan entah kenapa melihat itu jantung Theo semakin menggila.
Spontan Theo berdiri dan memegang pipinya.
"Apa kamu naksir aku?" lanjut Fiona lagi sembari mengerjap.
"Heh, lu kira gue gila? Lu bukan tipe gue." Tegas dan lantang, Theo sangat berharap Fiona segera enyah dari rumahnya.
Mendengar itu Fiona pun manggut-manggut. Benar-benar terlihat tak punya salah sama sekali.
"Bacot sekali lagi gue gak mau ngajarin elo," ancam Theo, penuh penekanan dalam setiap kata yang terlontar dan itu membuat Fiona mengerjap. Kicep dia dengan ancaman Theo. Jika Theo tidak bersedia mengajarinya, otomatis kesempatan untuk mendekati Kris bakalan mengecil.
"Aku cuma bercanda, jangan diseriusin. Lagian aku itu mau numpang ke toilet. Toiletnya di mana?"
Theo yang geram kembali harus menelan ludah kasar menahan kesal. Dia tatap Fio sebentar lalu membukakan pintu rumah yang tadi dia tutup rapat.
"Masuk aja. Lo lurus aja dari sini, nanti di ujung belok kiri."
Bergegas Fio berdiri, dia lewati Theo dan masuk ke rumah itu tanpa sungkan.
Sebenarnya ingin ke toilet itu hanyalah alasan belaka. Dia itu tak percaya jika Kris tidak ada di rumah. Bisa saja kan sembunyi. Makanya dia nekat berbohong agar bisa melihat isi rumah besar dua lantai itu.
Sekejap Fiona takjub. Rumah itu begitu rapi dan bersih untuk takaran dua laki-laki lajang. Semua tertata dengan apik. Rumahnya saja tak serapi rumah Kris ini.
"Kayaknya dia memang lagi gak ada," gumam Fiona. Sejauh mata memandang tak dilihatnya Kris di mana-mana. Dia bahkan tadi sempat membuka pintu kamar dan tak menemukan siapa pun.
Sekarang, langkah Fiona terhenti di ruang tamu. Di depannya kini ada sebuah pigura besar yang menampakkan kebersamaan antara Kris, Theo kecil dan Marwa. Mereka tampak bahagia, senyum mereka merekah. Di sana Theo dan Kris berdiri, sedangkan Marwa yang mengenakan kebaya putih dan jilbab berwarna senada sedang duduk di kursi dan tersenyum indah.
Melihat itu tak membuat hati Fiona perih, justru tekatnya untuk mendapatkan Kris jadi lebih besar. Dia semakin jatuh cinta pada Kris.
"Maafin aku, Mbak. Tahun depan mungkin aku yang bakalan duduk di kursi itu. Minta doa restunya aja. Aku janji bakalan jadi istri dan ibu yang baik untuk Mas Kris dan Theo," gumamnya pelan.
"Heh, lo ngapain? Cepetan! Gue gak punya banyak waktu." Teriakan Theo membuyarkan lamunan Fiona. Cewek yang mengenakan celana jeans dan kaus oversize itu merengut kesal.
__ADS_1
"Iya, galak amat, sih." Bergegas Fiona keluar dan kembali mendapati muka jutek Theo. Jika boleh jujur ingin dia menghajar cowok itu. Hanya saja demi cintanya pada Kris, dia telan bulat-bulat emosi itu dan meredamnya.
"Cepetan, kerjakan!" titah Theo lagi sembari mendorong buku paket ke Fiona.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Hingga satu jam berlalu begitu saja dan yang dilakuan Fiona hanyalah duduk sembari menikmati keripik singkong yang dia beli. Sementara itu, Theo tak putus-putusnya menjelaskan.
"Lo paham, 'kan?" tanya Theo yang dibalas Fiona dengan anggukan.
"Bagus, kalau gitu coba beri gue contoh."
Seketika keripik singkong terjatuh dari tangan Fiona. Dia nyengir. Sebenarnya otaknya yang sudah karatan itu sama sekali tak mengerti apa pun yang dijelaskan oleh Theo.
"S-sekarang?" tanya Fiona, terbata-bata lisannya.
"Enggak, nunggu lebaran haji," ketus cowok itu dengan nada geram. "Ya, iya sekarang, Fiona."
Dengan tangan gemetar Fiona pun membaca ulang bukunya. Dia tidak ingin dipermalukan, tapi apa yang bisa dilakukan jika memang benar-benar tidak paham?
"Kenapa? Gak bisa?" lanjut Theo. Senyumnya terlihat miring. "Masa otak sekecil itu mau jadi ibu tiri. Di rumah punya kaca gak, sih?"
Berdesir darah Fiona. Nyalang dia menatap Theo yang sudah bicara sarkas. Namun, tatapan benci itu teralihkan saat mendengar suara mesin mobil tak jauh dari mereka.
Di luar, tepatnya di dekat pagar ada sebuah mobil mewah dan keluarlah seseorang yang sangat tak asing.
"Mas Kris?" gumam Fiona. Tangannya secara berkala melepaskan buku paket. Keterkejutannya begitu kentara apalagi saat melihat seorang wanita dewasa dan cantik juga keluar dari mobil tersebut.
"Kenapa? Panas, ya? Apa butuh air es sekarang?" oceh Theo yang sengaja mengompori.
Namun, Fiona tak merespon. Hatinya terlanjur kacau. Melihat Kris bersama wanita lain bukan main kesal dia. Apalagi sekarang dia melihat dengan mata sendiri baik Kris maupun wanita itu terlihat sangat akrab. Mereka sesekali terlihat saling melempar senyum.
"Asal lo tau aja, perempuan itu namanya Alin. Dia teman satu angkatan Daddy. Tante Alin itu lulusan dari luar negeri, Oxford. Jadi, ya ... bisa kelihatan kan ya perbedaan antara elo dan dia. Jadi saran gue, berhentilah ngejar daddy gue. Lo bukan tipe dia."
Perkataan Theo tak ubahnya bensin yang memercik di bara api. Sakit, Fiona merasakan hatinya terbakar dan semuanya makin tambah parah kala Theo tak henti membanggakan wanita dewasa yang tengah berbicara dengan Kris itu.
"Nyerah aja, deh," lanjut Theo.
Fiona pun menatap nyalang. Iris matanya yang kecokelatan telah berkaca-kaca. Melihat itu senyum Theo pun sirna. Justru, yang ada rasa tak enak hati menyelimutinya. Fiona menangis karenanya.
Tiba-tiba saja Fiona mengemas semua perlengkapan, lantas berlari meninggalkannya.
"Bagus, sakit di awal lebih baik daripada sakit di akhir," gumam Theo.
Hanya saja sedetik kemudian senyumnya sirna beralih ke keterkejutan yang luar biasa. Matanya juga membola.
"D-dia ... apa dia gila?"
__ADS_1