
Seperti biasa Kris akan mengemas segala sesuatunya sendiri. Dari kemeja sampai perlengkapan mengajar. Tak tertinggal sedikit pun karena dia ini memang tipe laki-laki disiplin dan suka kerapian.
Tak ayal meski sudah duda dan berusia hampir kepala tiga, Kris tetap terlihat seperti remaja. Dia terurus dan makin terlihat tampan meski sudab sendiri lebih dari tujuh tahun lamanya. Tak jarang banyak yang mengatakan dia dan Theo itu bersaudara.
Di depan cermin Kris berdiri. Dia semprotkan parfum beraroma mint ke tubuh, lantas merapikan rambut. Dan seperti biasa dia akan melihat walau tiga menit foto kebersamaan dirinya dan Marwa yang selalu ada di meja itu.
Rasa bersalah perlahan merayap ke dada, Kris merasa getir karena bersalah pada almarhum sang istri. Dia merasa telah berselingkuh dan itu dikarenakan karena Fio yang keras kepala. Dia terjebak dalam hubungan rumit dan sangat berharap itu lekas berlalu..
"Maafkan aku, Mar. Aku janji bakalan akhiri ini dengan baik. Sebulan, aku hanya akan bertahan sebulan. Setelah itu aku akan biarkan dia mengurus perasaannya sendiri," gumam Kris, setelah itu merabaa pigura kecil itu dan menatapnya penuh cinta.
"Dad?"
Pandangan Kris berubah drastis saat menyadari ternyata ada Theo di ambang pintu. Anak tirinya itu memberi tatapan sengit, lantas mendekat. Dia juga menyambar foto prewedding Kris dan ibunya, lantas memasukkan ke dalam laci dengan cepat.
Kris yang melihat kekurangajaran itu membeo dengan mulut setengah terbuka
"Theo!"
"Move on, Dad. Mommy pasti gak mau Daddy kayak gini terus sampe tua."
Kris hanya bisa menghela napas berat. Berdebat dengan Theo sama saja bohong. Dia pun memilih mengiakan. Padahal dalam hati memang tidak berniat move on.
Bagi Kriss, di dunia ini tak ada wanita setara dengan Marwa. Dan yang terpenting tak ada wanita yang membuatnya berdebar. Tak juga dia menemukan sosok yang bisa membuatnya menggila jika tak bertemu barang sehari. Seperti Marwa.
"Ya sudah, ayo kita berangkat."
__ADS_1
Keduanya pun berjalan menuju garasi. Mereka mengeluarkan motor masing-masing. Saat melihat body motornya Kris terdiam. Melihat motor dia jadi teringat Fiona. Fiona yang terus mengerling dan mengedip genit jika bertatapn dengannya. Tak juga lupa memberinya senyum.
Mengingat Fiona Kris jadi serba salah. Dia embuskan napas panjang sekadar meringankan dada yang entah kenapa serasa sesak.
"Kenapa, Dad?" tanya Theo. Dia yang sudah berada di motor menatap heran Kris, lantas memasang helm.
Kris cuma menggeleng. Untuk beberapa adetik dia menatap kosong ke Theo dan merasa bersalah padanya. Soal kesepakatan kencan dengan Fiona dia putuskan akan menjadi rahasia. Dia tidak ingin Theo emosi lantas menghardik Fiona.
"Kamu duluan aja. Nanti telat," ucap Kris perhatian seperti biasa. Itulah yang membuat Theo tak tega jika Kris menghabiskan sisa usia mengenang sang mama yang sudah tiada. Bagi Theo, Kris itu sudah seperti ayah sendiri walaupun tidak demikian kenyataannya.
Seperti biasa Theo tidak menyanggah lagi. Dia gas kendaraan besi miliknya keluar dari komplek. Sementara Kris memilih mengecek ponsel dan melihat satu pesan masuk. Pesan dari Fiona.
[Pak, aku mau kasih teka-teki. Selain buaya darat, buaya apa yang buat perempuan gak doyan makan?]
Iseng bercampur penasaran dia balas juga pesan itu. Karena berkencan sebulan dialah yang menyanggupi. Jadi, walau kesal, walau tak senang dia akan memperlakukan Fiona dengan sewajarnya.
Setelah lama berpikir, dia pun mengetik.
[Buaya buntung]
[Bukan. Bapak salah.] Pesan masuk dari Fiona.
[Lalu?] Alis Kris mengernyit saat mengetik pesan itu.
Selang beberapa detik masuk lagi pesan dari Fiona.
__ADS_1
[Buaya. Buaaayangin Bapak bersanding denganku di pelaminan]
Tanpa sadar kedua sudut bibir Kris terangkat. Namun, cepat-cepat dia menetralisir hati yang berubah secara drastis itu. Dia juga sempat heran, kenapa bisa tersenyum setelah membaca gombalan receh gadis bau kencur.
[Jangan main-main. Daripada main mending kamu belajar. Nanti akan ada ulangan tentang materi yang saya ajarkan sebelumnya. Jadi persiapkan diri alih-alih lebai seperti ini]
-
-
-
Seperti kata Kris. Dia memang mengadakan ulangan, tapi buka mendadak sebab sudah diumumkan jauh hari, dan semua siswa seperti bisa melewati itu. Mereka terlihat tenang terkecuali Lio. Cowok jangkung itu terlihat celingukan. Seringkali juga dia memberi kode pada sang adik yang duduk tak jauh darinya. Berharap sang adik sadar dan memberi contekan, seperti biasa. Mau salah apa benar dia akan bergantung pada jawaban Fiona. Makanya, nilai mereka selalu sama. Jika Fio mendapatkan nilai lima puluh, maka Lio juga tak jauh beda.
Namun, kali ini ada yang beda. Lio sama sekali tak mendapati respon. Fiona terlihat serius dengan kertas ulangan dan tak menyadari kalau sang abang sedang ada di ujung kehancuran. Lio jadi kesal dan sedikit dendam.
Fiona emang bener-bener, batin Lio. Mau tak mau dia asal menjawab karena waktu telah hampir selesai.
Seperti biasa semua siswa akan mengumpulkan jawaban, sama seperti Fiona Namun, jawaban yang ada di kertas Fiona berhasil membentuk lipatan di dahi Kris, lelaki dewasa itu juga terlihat sedikit kesal dan menggeram.
Hanya saja alih-alih merasa bersalah, Fiona justru mengedip genit. Kris makin berang dan ingin bertanya, tapi sayang bel tanda istirahat sudah berbunyi.
"Nanti sebelum pulang kamu ke ruangan saya," ucap Kris pelan, tapi didengar Fiona dengan jelas. Cewek itu pun mengangguk antusias dan tetap memberikan tatapan cinta.
Sementara Kris, cuma bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1