
"Lah, kok Bapak yang bukain pintu?" tanya Fiona. Mukanya berubah drastis karena Kris ternyata masih ada di rumah. Padahal tadi Theo bilang kalau Kris pergi ke acara reuni.
Kris yang kaget dengan kedatangan fiona pun berdeham dan mencoba bersikap biasa.
"Tentu saja saya yang buka, kan Ini rumah saya," balas Kris denah wajah datar tanpa gelombang. Padahal isi dadanya sudah seperti diterjang tsunami.
"Sorry ya, Fi." Theo datang dari belakang. Dia dekati Fiona yang terbeku menatap Kris. "Gue lupa ngabarin lo, nggak papa kan?"
Fiona menggeleng pelan.
"Memangnya kenapa? Apa masalah kalau Daddy ada di rumah?" balas Kris yang menatap heran. Hanya saja anaknya itu bukannya menjawab malah cuma nyengir saja sembari garuk-garuk kepala pula.
"Kalian keganggu. Fiona keganggu?"
Spontan Fiona menggelengkan kepalanya begitu juga Theo. Keduanya tampak gelagapan.
"Ya udah yuk, Fi. Kita belajarnya gazebo sebelah aja. Buku sama laptop udah ada di sana," timpal Theo mengurai kecanggungan. Dia sadar, Fiona hampir menangis saat ini.
"Lo kok tega banget sih sama gue," sungut Fiona. Sekarang mereka berdua duduk di gazebo sedang muat enam orang dengan meja kecil sedada di tengah mereka.
"Gue juga nggak tau, Fi. Nggak sengaja gue," balas Theo sembari menghidupkan laptop miliknya. Dia tatap Fiona yang tetap memandang dinding rumahnya.
"Kenapa? Sakit banget, ya? Atau kita pilih tempat lain aja. Ke kamar gue mungkin."
Fiona yang mendengar hal gila itu tentu saja kaget. Dia timpuk Theo dengan buku paket. "Jangan ngeres."
"Idih, bilang gue ngeres padahal otak lo yang begitu. Kan ke kamar bukan artinya lain-lain. Kita pelajar. Cuma belajar," balas Theo. Dia cekikikan puas menggoda Fiona.
Sementara Fiona cuma bisa manyun menatap kesal.
"Eh tapi gue serius. Kalau lo emang nggak bisa kita cari tempat lain aja."
Namun usul ini ditolak Fiona dengan kibasan tangan. "Di sini aja. Nggak papa deh di sini aja. Anggap aja ini sebagai latihan. Kata orang kita nggak boleh lari dari masalah. Masalah harus dihadapi. Begitu juga dengan rasa sakit kata orang kalau sering dihadapi rasa sakit itu sendiri bakalan pergi. Di sini masalah gue dan sakit gue itu berasal dari dia. Jadi ya coba aja hadapin. Kali aja nanti bosan terus bisa lupa."
"Pinter. Lagian Daddy gue nggak suka elo. Jadi jangan buang waktu. Mending sukai gue aja. Sama-sama ganteng ini."
Dan lagi, Fiona timpuk Theo dengan buku. Keduanya lalu tertawa bersama dan itu dilihat Kris.
__ADS_1
"Sudah lama aku nggak lihat dia ketawa kayak gitu," gumam Kris. Bibirnya tersenyum tapi bukan senyum bahagia, melainkan senyum getir. Senyum yang tampa sengaja Fiona lihat.
Kris yang ketahuan segera pergi dari sana.
"Fi, Fiona?"
Fiona yang kaget kontan menatap Theo. Cowok itu bahkan tengah melambaikan tangan.
"Eh kenapa?"
Theo balas dengan decakan saja. "Gue itu nanya dari tadi, kira-kira kita mau pakai puisi yang mana?" sungutnya.
"Yang Aku aja. Judulnya Aku."
"Oke, gue cari."
Saat Theo mulai fokus ke laptop, Fiona tiba-tiba mengulurkan satu lembar kertas folio bergaris. Di atasnya tertulis sesuatu. Theo yang heran tentulah mengernyit.
"Apa ini?" tanyanya heran.
"Baca aja." Fiona cuek dan mulai membuka buku paket.
"E-elo bikin surat perjanjian pacaran?" teriak Theo yang buat Fiona mendesis.
"Kurang kenceng. Mau gue cariin toa?" balas Fiona sinis. Dia takut Kris mendengar sebenarnya.
Theo lepas kertas itu. Dia tatap tidak percaya Fiona. Bisa-bisanya berpikir buat surat perjanjian.
Sebenarnya Theo tidak keberatan dengan persyaratan Fiona. Ada tiga syarat yang harus Theo ikuti selama mereka pacaran. Dari tiga syarat itu hanya satu yang buat Theo sulit terima.
"Kenapa kita harus backstreet?" tanya Theo. Ini mengacu syarat pertama yang Fiona tulis. Di sana tertera kalau Theo tidak boleh mengumumkan ke orang lain kalau mereka pacaran. Tidak boleh memperlihatkan perhatian dan itu buat Theo tidak habis pikir.
"Siapa yang bilang backstreet? Itu bukan backstreet. Gue cuma minta lo nggak usah liatin perhatian yang lebih. Gue nggak mau kayak tadi pagi, mereka semua ngincer gue. Udah kayak buka lapak bakso aja gue. Ditanyain ini itu," sungut Fiona.
Namun Theo masih tidak paham. "Memang apa salahnya? Kita yang jalanin ini."
"Di elu nggak salah. Di gue yang masalah. Lo tau kita itu ibarat langit dan bumi. Walaupun gue cantik tetep aja nggak sederajat sama elo yang pinter. Gue nggak mau lo nunjukin rasa. Kita diam-diam aja."
__ADS_1
"Lah, itu sama aja backstreet," timpal Theo yang masih belum paham.
"Lah ya enggak. Intinya kita itu dekat, cuma lo nggak usah bilang ke semua orang kalau kita deket. Kalau yang udah tahu ya tahu aja, gak apa-apa. Yang nggak tahu nggak usah dikasih tahu, terus nggak usah dikasih lihat juga. nggak usah kentara kalau kita ada hubungan. Gue nggak nyaman, gue malu."
Untuk alasan ini Theo cuma bisa tepuk jidat. Baru kali ini dia nemu perempuan aneh seperti Fiona. Dikasih perhatian malah nggak nyaman. Kan aneh.
"Baiklah. Gue paham nggak masalah," balas Theo. Terpaksa menerima padahal tadinya mau bilang ke teman-teman kalau dia dan Fiona pacaran.
"Terus syarat yang lain gimana. Nomor dua dan nomor tiga. Elo keberatan nggak."
Theo malah tersenyum. Bagaimana bisa dia keberatan jika syaratnya itu tergolong mudah?
Di sana Fiona hanya menginginkan tidak ada sentuhan fisik. Theo pun tidak mempermasalahkan karena dia juga sadar, kalau ada sentuhan fisik takutnya malah merembet ke lain-lain sedang dia ingin menggapai cita-cita. Dia tidak ingin mengecewakan Kris.
Sedangkan syarat nomor tiga Fiona ingin apa-apa Theo yang bayar. Jalan, jajan, makan, nonton harus yang keluar uang itu Theo.
"Yang nomor tiga lo nggak keberatan?" selidik Fiona. Mukanya sudah berubah warna karena menahan malu sekaligus waswas.
"Elo nggak mikir gue matre, 'kan?" lanjutnya lagi.
Theo cuma diam menikmati muka Fiona yang terlihat merah.
"Sumpah. Gue nggak ada niatan morotin elo. Elo tahu lah jajan gue pas-pasan, mana bisa traktir lo. Tapi tenang aja, kalau kita jajan gue nggak bakalan minta makanan yang mahal-mahal. Gue janji. Kalau jalan kita cukup beli kuaci aja. Rela gue."
Kontan Theo tertawa ngakak. Bahkan sampai mengeluarkan air mata. Dia terpingkal-pingkal memegang perut.
Fiona, gadis unik. Fiona benar-benar menggemaskan di matanya
"Lo kok ngakak? Jawab, dong. Keberatan enggak?" sungut Fiona. Pipinya mulai hangat menahan malu.
"Gue nggak keberatan. Kita deal," balas Theo setelah sukses meredam tawa.
"Ya udah. Sekarang tulis aja syarat dari elo. Elo bisa kasih gue syarat tiga juga."
"Gue cuma minta satu hal," balas Theo.
Fiona serius menatap. "Cuma satu?"
__ADS_1
Theo mengangguk. "Lo hanya harus lihat gue. Hanya gue."