
"Ah sialan!" Rudi menggebrak mejanya frustasi, membuat beberapa orang yang berada satu ruangan dengannya kaget dan menoleh ke arahnya, menatapnya prihatin.
Rudi benar benar murka dengan tingkah Piana kali ini, kalau sampai dia dikeluarkan dari pekerjaannya, Rudi bersumpah akan membuat Piana membalas perbuatannya itu, menghancurkan hidup perempuan yang pernah membuatnya kagum sehingga rela meninggalkan anak dan istrinya.
"Jika aku dikeluarkan dari kantor ini, gara gara kamu, Piana! Kamu akan merasakan pembalasan yang lebih menyakitkan dari ini." Rudi mengepalkan kedua tangannya, dadanya sesak menahan emosi yang membuncah, 'Piana sudah benar benar melebihi batasannya.' geram Rudi di dalam hatinya.
Benar saja, pukul sepuluh pagi Rudi di panggil menghadap pada atasannya. Harusnya hari ini dia ada tugas ke luar kota, tapi mendadak tugas itu di gantikan oleh Dedi teman satu mejanya. Dan Rudi diminta untuk menghadap atasannya.
Saat keluar dari ruangan bos nya, Rudi terlihat memerah wajahnya. Lantas menuju meja kerjanya dan mengambil tas miliknya, lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan tatapan keheranan dari teman teman kantornya.
Saat memasuki mobil, Rudi terdiam menatap tajam lurus ke depan.
Pikirannya melayang jauh, teringat dengan wajah sembab Melati yang terluka dengan semua kelakuannya selama ini. Dengan pikiran kacau Rudi melajukan mobilnya menuju rumah perempuan yang masih sah menjadi istrinya. Berharap Melati mau memaafkannya dan mau kembali memulai dari awal.
Tiga puluh menit waktu yang Rudi butuhkan untuk sampai kerumah yang dulu jadi istananya bersama keluarga kecilnya.
Pak Joko yang ada dibalik gerbang enggan membuka pintunya, lantaran ingat pesan dari Fajar dan Riko.
"Maaf pak Rudi. Saya hanya menjalankan perintah saja, sekali lagi maafkan saya." pak Joko menjawab permintaan Rudi yang menyuruhnya untuk membuka pagar rumahnya.
"Yasudah biar saya telpon Melati dulu." Sahut Rudi dengan lesu. Membuat pak Joko terheran dengan sikap majikannya itu, karena biasanya Rudi akan langsung marah marah kalau keinginannya tidak dipenuhi. Tapi kali ini sangat berbanding terbalik, Rudi bahkan hanya diam dan memilih menghubungi pemilik rumah.
"Apakah di dalam sedang ada tamu, pak?" sambung Rudi penasaran, karena melihat ada mobil asing yang terparkir di halaman depan rumah.
"Iya, pak! Ada pak Dimas dan istrinya." sahut pak Joko jujur tanpa ingin menutupi.
__ADS_1
"owh." jawab Rudi santai, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja dan menekan nomor milik Melati.
Hanya di panggilan ketiga telpon tersambung dan terdengar suara Melati diujung sana dengan suara yang tak seperti biasa, tidak ada sapa sayang, manja dan riangnya lagi. Hanya sambutan datar yang terkesan dingin.
"Aku sudah ada di depan, tapi Joko tidak berani membuka pagarnya. ijinkan aku masuk Melati. Aku hanya ingin istrirahat sebentar, lagian di dalam ada Dimas bukan? Aku tidak akan macam macam, aku cuma rindu dengan suasana di rumah ini." Rudi tak ingin ribut dan juga sedang malas adu mulut, dia hanya butuh istirahat dirumah yang pernah memberinya kebahagiaan dan kenyamanan, itu saja.
Melati menarik nafasnya dalam dan menatap Dimas yang penasaran.
"Mas Rudi." ucap Melati lirih kepada keponakannya yang dibalas dengan anggukan.
"Baiklah, masuk saja biar aku yang bilang ke Joko untuk membukakan pagarnya." balas Melati pada akhirnya setelah meminta pendapat Dimas. Lagian ada Dimas disini, Rudi tidak akan berani bersikap kasar padanya. Melati membatin dan yakin.
Setelah menerima telepon dari Melati. Pak Joko membukakan pintu gerbang dan membiarkan Rudi masuk. Lalu kembali berjaga di pos.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rudi masuk kedalam rumah dengan lesu. Menemui Melati dan hanya menatapnya sekilas dengan wajah sendu, lalu menghampiri Dimas dan bersalaman dengan keponakan dari istrinya. Tak banyak bicara, Rudi kembali meneruskan langkahnya dan memasuki kamar tamu, lalu merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ingin melepaskan semua sesaknya saat ini.
"Ada apa dengan Mas Rudi, seperti orang tertekan begitu? Apa karena masalah di kantornya yang berkaitan dengan telpon dari atasannya kemarin, yang menanyakan status kami, dan kebenaran tentang perselingkuhannya yang sudah menikah siri dengan janda itu. Sepertinya itu yang membuatnya tak bersemgat dan seperti orang yang punya beban pikiran berat." Melati terus menerka di dalam hatinya.
"Ada apa dengan om Rudi, Tan? kok aku ngerasa ada sesuatu yang membuatnya tertekan." Dimas mengeluarkan isi dalam pikirannya.
"Sepertinya sedang ada masalah di kantor. Seperti yang kita bahas barusan, mengenai telpon dari atasannya kemarin." Melati menjawab dengan ekspresi biasa saja.
"Apa ada kemungkinan dipecat?" balas Rihana ikut menimpali. Melati menarik nafas dalam lalu menghembuskannya berlahan. "Sepertinya iya " sahut Melati pada akhirnya setelah terdiam beberapa saat.
Hening, tak ada yang bersuara, larut dengan pikirannya masing masing.
__ADS_1
Sampai akhirnya ada suara salam membuyarkan keheningan.
Fajar datang dan langsung mencium punggung tangan mamanya dan Dimas juga Rihana dengan sopan.
"Kok sudah pulang?" sambut Melati menatap anak lelakinya menelisik.
"Iya, gak ada jam kuliah, mau pergi ke tambak, tapi mau ganti baju dulu." balas Fajar sedikit berbohong. Padahal niatnya pulang semata menghawatirkan keadaan mamanya, karena tadi pak Joko memberinya kabar kedatangan Rudi di rumah, tapi sudah ada Dimas di dalam, tetap saja membuat pikiran Fajar tak tenang, takut papanya melakukan sesuatu yang bisa menyakiti mamanya.
Meninggalkan jam kuliah demi melindungi mamanya.
"Kok ada mobil papa diluar, apa papa pulang?" sambung Fajar yang membalas tatapan mamanya.
"iya, ada di dalam." sahut Melati biasa saja, dan membuat Fajar mengerutkan wajahnya.
"Papa masuk di kamar tamu dekat tangga. Datang langsung masuk kesana, katanya mau istirahat, merindukan suasana rumah." jelas Melati bicara jujur pada anak laki lakinya.
"Istrirahat dan merindukan suasana rumah? jangan jangan papa beneran di pecat dari pekerjaannya lantaran laporan perempuan itu?" selidik Fajar menatap serius mamanya. Dan dibalas senyuman tipis oleh Melati.
"Sudahlah, mungkin ini ujian untuk papa kamu, semoga dia bisa sadar dari kekeliruan nya selama ini. Kalau memang iya dan benar di pecat, yang penting bukan mama yang membuatnya kehilangan pekerjaannya, tapi wanita lain yang sudah ia bela dan pilih sendiri. Kita lihat saja, apa yang akan papa kamu lakukan setelah ini."
sahut Melati dengan ekspresi setenang mungkin, tak ada rasa iba apalagi perduli di hatinya dengan keadaan Rudi sat ini. Luka itu sudah membuatnya mati rasa dan membuang Rudi dari hati dan pikirannya.
"Iya, Ma! Semoga ada hikmah dibalik ini semua buat papa dan kita semua. Aamiin!"
"Om Dimas apa kabar? maaf belum bisa main kerumah, habis lagi sibuk ngerjain skripsi ini."
__ADS_1
Fajar beralih menatap ke arah om nya dan mencoba mengakrabkan diri dengan keluarga mamanya yang terkenal dingin dan kaya raya itu.