
Piana sedang bersantai sambil mengotak Atik ponselnya, dan Zadan putranya sedang asik sendiri dengan mainannya, tanpa Piana sadari tiba tiba Alim sudah berdiri di depannya.
Piana langsung terkejut mendapati suaminya dengan wajah yang tidak bersahabat, di tatapnya Piana dengan nyalang.
Alim sudah hilang kesabaran dengan perempuan itu, dengan kasar Alim meraih pergelangan tangannya dan menyeretnya masuk kedalam kamar, di hempaskanya tubuh Piana kasar, Piana menjerit berteriak kesakitan dengan perlakuan kasar Alim.
namun sedikitpun Alim tak perduli, tak ada rasa iba atau menyesal sedikitpun atas sikap kasarnya pada Piana, yang ada rasa muak dan kebencian yang membara.
"Apa apa'an sih kamu mas, kamu sudah melukaiku, sikapmu sangat kasar sekali."
Piana berteriak tidak terima.
Alim justru menyeringai jahat dan berjalan mendekat ke arah Piana yang duduk di tepian ranjang sambil memegangi tangan bekas cekalan Alim.
Piana meringis kesakitan,
tapi itu tidak membuat Alim sedikitpun terpengaruh dengan kepura puraan istrinya, Alim tau kalau Piana amatlah licik.
dan sudah hapal dengan sifat liciknya.
"kamu pikir dengan kamu memasang wajah kesakitanmu, aku akan memaafkanmu dan lupa dengan perbuatanmu yang sudah menghianatiku?
Jangan mimpi kamu Piana.
kemarin aku diam karena aku ingin menenangkan diriku, agar tidak menghabisi wanita murahan sepertimu."
__ADS_1
Piana yang merasa keselamatannya terancam oleh kemarahan sang suami berusaha untuk menjauh dan keluar dari kamar, namun sebelum Piana beranjak, Alim sudah lebih dulu mencekal pergelangan tangannya dan kembali dihempasnya tubuh istrinya di atas tempat tidur.
"jangan coba coba menghindar karena aku tidak akan segan segan untuk menyakitimu lebih dari ini."
Plaaaak....
Satu tamparan keras di daratkan di pipi sebelah kanan Piana, Piana meringis kesakitan.
"kurang ajar kamu mas, berani beraninya kamu menamparku."
Piana menatap nyalang suaminya.
Alim mengangkat sebelah bibirnya, seoalah menunjukkan dia sudah tidak perduli dengan protes kesakitan istrinya, hatinya sudah terlalu sakit oleh penghianatan dan sikap tak mau taunya Piana terhadap dirinya.
" tamparan itu masih terlalu ringan di bandingkan rasa sakit hatiku dengan perbuatan busukmu, katakan padaku sudah sampai mana hubunganmu dengan laki laki itu hah?"
Piana tidak gentar sedikitpun, kalau sekarang Alim akan meninggalkannya, karena dia sudah mengantongi uang yang tidak sedikit, dan kemarin dia juga sudah mengambil perhiasan yang disimpan Alim.
Dengan tatapan menantang piana tersenyum sinis ke arah suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan suami.
"kalau kamu sudah tidak lagi menginginkanku lepaskan aku, kita berpisah.
apa kamu pikir aku Sudi kamu sakiti, aku tidak bodoh seperti mantan istrimu."
Piana beranjak dan mengambil koper di atas lemari dan mulai mengemasi semua barang barang miliknya.
__ADS_1
"apa kamu pikir aku takut kamu tinggalkan mas, justru kamu yang akan menangisi kebodohanmu, setelah kamu menyadari kalau hartamu sudah kuambil, sebelum kamu menyadari itu semua aku akan pergi dan memanfaatkan keadaan ini untuk meninggalkan rumah ini." dalam hati Piana terus bergumam.
Melihat istrinya tak sedikitpun menyesal dan merasa bersalah membuat Alim semakin terbakar amarah, dia hanya melihat kelakuan Piana yang mengemasi barang barangnya.
pikirnya silahkan pergi saja aku tidak perduli lagi, apa kamu pikir aku akan mencegahmu, justru ini yang kuinginkan kamu pergi sendiri tanpa aku bersusah payah membuangmu.
Saat piana mau melangkah keluar kamar tiba tiba alim menghentikannya.
"tunggu ....sebelum kamu pergi aku akan melepaskan tanggung jawabku atasmu, mulai saat ini aku talaq kamu, kamu aku bebaskan dan lepaslah tanggung jawabku atasmu Piana."
dengan penuh keyakinan Alim mengucapkan kata talaq dan diterima dengan senyuman penuh ejekkan dari Piana.
'silahkan nikmati penderitaanmu setelah ini mas, dan saat kamu menyadari semua itu, aku sudah pergi jauh dan kamu tidak akan pernah lagi menemukanku.'
Piana melangkah mengambil anaknya dari gendongan sang bibi, dengan langkah pasti menyeret kopernya keluar dari rumah.
Alim hanya memandanginya tanpa ekspresi, dia sudah tidak perduli lagi apa yang akan dilakukan wanita itu.
Setelah tidak lagi terlihat punggung mantan istrinya, Alim kembali masuk ke dalam kamarnya, didalam kamar Alim menangis dan membuang semua foto pernikahannya dengan Piana.
setelah puas mengacak ngacak kamar untuk meluapkan amarahnya, Alim duduk terdiam dan menyenderkan tubuhnya.
sedih, marah, benci, kecewa, dan penyesalan semua bercampur jadi satu.
Piana sudah pergi dengan menggunakan taksi, dia tidak kembali ke kota kelahirannya, karena dia tau kalau nanti Alim mengetahui semua dan menyadari kalau dia mengambil uang dan perhiasan yang disimpannya pasti akan mencarinya dan membuat perhitungan dengannya.
__ADS_1
belum lagi kalau dia menyadari sertifikat rumahnya sudah tidak ada, pasti akan membuatnya sangat murka, untuk itu Piana sudah punya rencana untuk pergi ke suatu tempat yang tidak akan Alim ketahui.
Madiun adalah kota pilihannya, karena Alim tidak akan mungkin mencarinya ke kota itu, disana Piana maupun Alim tidak memiliki saudara yang tinggal di kota tersebut.