
Jadi......
Alim tak melanjutkan lagi ucapannya, hatinya tiba tiba merasa sangat sakit dengan ucapan Rihanna, penekanan kata lebih baik, begitu memukul harga dirinya sebagai laki laki.
namun tak banyak yang bisa Alim lakukan selain diam, karena memang selama ini Alim sudah banyak membuat Rihana menangis bahkan menderita fisik dan batinnya karena perbuatannya.
"Owh ternyata masih ada ya laki laki yang mau dengan wanita udik sepertimu."
Bu Dian mencebik meremehkan, namun Rihana tidak menggubrisnya sama sekali, bagi Rihana meladeni orang seperti Bu Dian hanya buang buang tenaga saja, toh apa bedanya kita kalau membalas omongan sepertinya, jadi biarin aja, biar capek sendiri dan sukur sukur sadar kalau keberadaannya tidak dianggap.
"Heh kalau orang tua ngomong itu di dengerin, kamu budek apa?" murka Bu Dian karena merasa tidak dihargai.
"Emangnya ibu ngomongin saya tadi?"
Rihana pura pura tak paham, dengan ekspresi setenang mungkin, dan itu semakin membuat Bu Dian kepanasan.
"Sombong sekali kamu, paling paling juga calonnya sama udiknya kayak kamu, kalau tidak ya paling sudah aki aki bau tanah, secara penampilan saja tidak ada menarik nariknya kayak begitu."
Bu Dian terus saja menyerocos meremehkan, Rihana hanya bisa geleng geleng menghadapi kelakuan wanita tua itu.
"Lebih baik kalian pergi dari rumahku, selesaikan masalah kalian.
karena sebentar lagi saya mau ada tamu, tolong jangan membuat keributan disini."
sekali lagi Rihana menegaskan.
"Baiklah aku akan pergi, tapi aku ingin pamitan dulu dengan Alma, ada sesuatu yang ingin aku berikan padanya, boleh aku menemuinya?"
Alim menatap Rihana iba penuh permohonan.
"Baiklah mas, Alma ada di dapur dengan budhe, temui saja."
"Trimakasih Han."
"Hmmm."
hanya deheman yang di berikan Rihana.
"Alma sini nak, ayah punya sesuatu untuk Alma." Alma langsung menghampiri ayahnya dan budhe tin hanya melihat sambil mengawasi dari jarak beberapa meter saja.
"Ini buat Alma disimpan ya."
Alim menyodorkan kotak perhiasan yang tadi diberikan pada Rihana namun ditolaknya, karena Alim sudah bertekad untuk memberikan perhiasan itu kembali, saat Rihana menolaknya, Alim jadi berpikir untuk memberikan pada Alma saja.
"
__ADS_1
Dan ini uang jajan dari ayah untuk Alma, disimpan yaa.'
Alim menyodorkan amplop coklat yang lumayan tebal untuk putrinya, Alim bertekad untuk menebus kesalahannya, meskipun sudah tidak mungkin lagi kembali mendapatkan Rihana, tapi untuk mendapatkan hati Alma anaknya itu harus, karena Alim tidak ingin lagi melakukan kesalahan .
"Ayah ini apa?
kok banyak banget."
Alma memasang wajah bingung, karena tiba tiba diberi uang banyak sama ayahnya.
"ini semua buat Alma, sebagai penebus kesalahan ayah, semoga Alma mau menerimanya ya nak, Alma bisa beli apa aja dengan uang ini dan juga boleh Alma tabung buat nanti sewaktu waktu Alma membuatuhkannya, ayah janj nanti setiap bulan akan kasih uang jajan untuk Alma.
Doain ayah ya sayang, semoga usaha ayah lancar."
Alim megelus pucuk kepala anaknya lembut dan diraihnya tubuh mungil gadisnya dalam pelukan ada perasaan hangat yang menjalar, rasanya sungguh menenangkan.
"Baiklah , ayah harus pulang, ada yang harus ayah selesaikan, nanti ayah datang lagi buat Alma, baik baik ya nak, nurut sama bunda.'
Alim mengecup lembut pipi gadisnya dan dibalas anggukan serta senyuman yang begitu manis oleh Alma,
budhe tin sampai melongo tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya,sampai sampai tak mengindahkan teguran Alim untuk berpamitan.
Alim melangkah keluar dan tak lupa berpamitan dengan mantan istrinya, meski hatinya belum bisa terima kalau Rihana akan jadi milik orang lain, namun sebisa mungkin Alim berusaha untuk bersikap biasa saja, bersikap kasar pun percuma, sudah tak ada lagi cinta untuknya di hati Rihana.
'aku harus belajar merelakannya bersama laki laki lain, mungkin inilah yang dulu Rihana rasakan saat aku lebih memilih Piana dan membuangnya dengan cara yang biadab.'
"Alim tunggu "
dan Bu Dian langsung membuka pintu mobil duduk disamping kursi pengemudi dengan pongahnya.
Sengaja Alim membiarkannya, karena Alim memang berniat membawa Zadan untuk test DNA, mungkin Bu Dian lupa dengan rencananya Alim soal test DNA.
Rihana hanya menatap geli melihat tingkah mantan mertua Alim, masih ada ya orang seperti itu, Rihana tersenyum geli saat membayangkan semua tingkah nggak tau malu Bu Dian.
Setelah mobil Alim menghilang dari pandangan matanya, Rihana kembali masuk kedalam rumahnya,dan disana sudah ada Alma yang menunggunya di depan pintu.
"loh kok mbak Alma senyum senyum sendirian, hayo ada apa ini dengan anak bunda?_
Rihana menatap putrinya gemas.
"Bunda, bunda yuk ikut Alma ke kamar.
ada yang ingin Alma tunjukkan pada bunda."
Alma menggandeng tangan bundanya dan mengajaknya masuk ke dalam kamarnya, Rihana hanya menurut saja dengan kemauan anaknya, saat sudah sampai dalam kamar Rihana melihat ada kotak perhiasan yang sudah tak asing lagi baginya dan disampingnya ada amplop coklat yang cukup tebal yang tergeletak di atas kasur putrinya.
__ADS_1
"Sini bund, duduk sini sama Alma.'
Alma mengajak Rihana untuk duduk diatas kasur miliknya.
"Bund, tadi ayah kasih ini ke Alma, katanya buat Alma simpan, dan uangnya ini buat gantiin kesalahan ayah yang sudah lalai pada kewajibannya.
kata ayah, Alma boleh gunakan uang ini untuk apa aja, dan ayah janji kalau mulai sekarang akan kasih Alma uang jajan tiap bulannya.
Bunda nggak marah kan, kalau Alma terima ini dari ayah?"
Alma bertanya ragu pada bundanya.
Rihana tersenyum dan memeluk Alma penuh cinta, mencoba memberi ketenangan lewat bahasa tubuh.
"sayang kenapa bunda harus marah?
ini sudah jadi haknya Alma dari ayah, jadi alma tidak perlu merasa bersalah begitu ya sama bunda, bunda nggak papa kok sayang, justru bunda senang sekali.
karena ayah sudah mulai menyadari kesalahannya selama ini, itu artinya Alloh sudah mulai mengabulkan doa doa anak shaleha nya bunda."
"Makasih bunda, Alma sayang banget sama bunda."
"Iya sayang, sudah sekarang Alma mandi dan dandan yang cantik yaa, sebentar lagi akan ada tamu, dan boleh bunda simpan ini?
besok sebagian uangnya kita masukkan ke bank ya?"
"Oke bund."
ada binar bahagia di raut wajah cantiknya, semua itu semakin membuat Rihana begitu lega, karena Alma lah yang selalu menjadi semangat dan kekuatannya selama ini.
☘️☘️☘️☘️☘️
Alim menghentikan mobilnya di salah satu rumah sakit dan itu membuat Bu Dian kian panik, Bu Dian baru sadar kalau Alim benar benar akan melakukan test DNA pada Zadan cucunya,
"aah sial kenapa aku bisa lupa dengan rencananya Alim untuk membawa Zadan test DNA, sekarang apa yang harus kulakukan, aku harus cari cara lain untuk menggagalkannya."
"Kenapa kamu membawa kami kerumah sakit? bukankah tidak ada yang sakit?"
tanya Bu Dian pura pura lupa dengan niat Alim untuk test DNA, Alim tetap cuek tak begitu menanggapi.
"silahkan turun atau mau tetap disini, karena aku hanya butuh Zadan saja."
Alim bicara dengan ekspresi dingin pada Bu Dian.
"Baiklah ibu ikut, tapi sebaiknya kita cari makanan dulu, kasihan Zadan belum makan sama sekali dari tadi pagi."
__ADS_1
Bu Dian masih berusaha untuk mengulur waktu, Alim diam sesaat dan memikirkan perkataan wanita yang sudah jadi mantan mertuanya, baiklah kita ke kantin yang ada di dalam ruah sakit saja, akhirnya alim mengalah setelah berpikir beberapa saat, bagaimanapun dia nggak Setega itu dengan anak sekecil Zadan, bagaimanapun dia hanyalah anak yang tak berdosa yang tak tau apa apa.
Bu Dian sedikit lega, disamping memang perutnya sudah sangat lapar, dia juga bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk menggagalkan rencana alim.