
POV Alim
Sudah satu tahun berlalu. Aku mati-matian menata hidupku kembali. Bangkit dari keterpurukkan dan penyesalan yang hingga kini masih menyiksaku. Aku memang sangat bodoh, sudah membuang wanita luar biasa hanya demi wanita murahan seperti Piana. Hidupku hancur dan berantakan karena wanita itu. Dia sudah membodohi ku dengan mengaku bayi yang dia kandung adalah darah daging ku. Padahal pada kenyataannya Piana tak lebih perempuan bergilir yang senang berganti ganti pasangan. Untung saja, aku belum terkena penyakit menular darinya, meskipun sempat merasakan perih dan gatal di **** ***** ku. Namun karena aku rajin berobat akhirnya penyakit mengerikan itu hilang dari tubuh ini.
Meskipun Rihana mengijinkan aku bertemu dengan Alma, tapi tiap kali melihat dia sedang berduaan dengan suami barunya. Hati ini terasa tersiksa, cemburu itu masih menguasai hati ini, meskipun aku sudah berusaha untuk menerima kenyataan jika wanita yang masih aku inginkan itu sudah menjadi milik laki-laki lain.
Agar hati ini tidak selalu merasakan perih, setiap kali ingin bertemu dengan Alma, aku lebih memilih untuk menjemput anakku itu dari sekolahnya, lalu mengajaknya jalan jalan, menikmati waktu hanya berdua. Aku sudah berjanji, untuk menebus semua dosaku pada putriku, akan aku penuhi semua kebutuhannya, meskipun aku tau kalau Rihana juga mampu melakukan itu, akan tetapi aku adalah ayahnya, orang yang lebih berhak untuk melakukan itu. Tidak akan aku ulangi kesalahanku yang dulu. Apalagi Alma tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik, wajahnya mirip sekali denganku, bahkan kulit putihnya yang sama dengan ibunya, sungguh menyempurnakan anak gadisku sebagai perempuan. Aku janji, akan selalu menjaga dan melindunginya. Tidak boleh ada laki laki yang mendekatinya untuk main main. Anak gadisku harus terjaga dan akulah yang akan pasang badan dan menjadi perisainya.
"Ayaaah." Alma berlari ke arah mobilku, dia tau kalau aku pasti akan menunggunya pulang di hari Sabtu dan mengajaknya jalan jalan. Dan hari ini rencananya kami akan pergi ke mall untuk nonton film kesukaannya, setelah itu Alma juga minta untuk dibelikan sepatu baru buat lomba lari katanya. Anakku itu memang selalu membuatku bangga. Rihana telah berhasil mendidiknya untuk menjadi anak yang cerdas, pintar, energik dan sopan pada orang tua.
"Sudah siap tuan putri?" sambut ku pada anak gadisku yang mulai duduk di bangku samping. Seketika senyumnya langsung merekah. Pipi putihnya terlihat merona, sangat cantik.
"Siap dong ayah. Kita jadi kan nonton filmnya?"
"Jadi dong, kita beli sepatu dulu, apa langsung nonton nih?"
__ADS_1
"Langsung nonton aja deh yah, nanti habis itu baru beli sepatunya. Boleh kan?"
"Pasti boleh dong, apa sih yang gak buat tuan putrinya ayah."
"Yah, nanti pas pulang kita beli buah buat Bunda ya, kasihan bunda muntah muntah terus, kata bunda, di perut bunda ada calon Dede bayi. Itu artinya bunda lagi hamil kan yah?"
Deg, kenapa mendengar ini hatiku terasa sakit, padahal nyata nyata itu hal yang lumrah bagi perempuan bersuami. Apalagi Rihana terlihat sangat bahagia dengan suaminya sekarang.
"Iya nak, bunda Rihana lagi hamil. Mau dibelikan buah apa sama Alma nanti?"
mau beli buah apel, pear, anggur, jeruk, melon, kelengkeng. pokoknya semua yang ada deh nanti. Boleh kan yah?"
"Iya sayang, boleh banget." aku mengelus pucuk kepala putriku yang berbalut jilbab warna coklat, wajahnya sangat ceria, dan aku sangat suka melihatnya seperti itu. Kalau saja, dulu aku tidak bodoh, mungkin saat ini kami adalah keluarga yang bahagia. Rihana akan tersenyum menyambutku pulang dan Alma akan berlarian menjemput ku di teras rumah. Tapi itu hanya mimpi, Rihana sudah bahagia dengan laki laki yang lebih pantas untuknya.
"Yah, kok ayah melamun sih." Alma menatapku dengan kening berkerut, mulutnya terlihat mengerucut kesal karena aku tidak mendengar apa yang dia bicarakan.
__ADS_1
"Iya sayang, maaf. Ada apa nak?"
"Alma mau tidur dirumah ayah boleh? besok kan hari Minggu, Alma mau jalan jalan ke air terjun yah. Boleh kan?" Aku langsung menoleh dengan keinginan anakku, dia pasti akan gigih meminta hingga keinginannya terpenuhi.
"Ayah sih boleh saja, tapi Alma harus ijin bunda dulu ya, biar bunda gak marah dan biar gak salah paham sama ayah. Alma paham kan nak?"
"Iya ayah, kalau begitu Alma telpon bunda ya, minta ijin sekarang." aku mengangguk sebagai tanda setuju dengan keinginan anak semata wayang ku, tak tega membuatnya kecewa, sebisa mungkin selalu berusaha menuruti apa yang di inginkan nya, toh Alma tidak pernah minta yang aneh aneh, dia terdidik untuk menjadi pribadi yang mandiri, tegar dan sederhana. Meskipun dia mengajak jalan jalan, itupun juga masih di tempat terdekat. Aku justru berencana mau mengajaknya berlibur ke Jogja, karena akan ada pekerjaan disana, sekalian buat menyenangkan putriku. Semoga Rihana mengijinkan Alma aku bawa ke Jogja.
"Asalamualaikum bunda. Bund, Alma mau minta ijin tidur dirumah ayah ya, malam ini. Alma kangen sama ayah, dan Alma juga mau ajak ayah ke air terjun besok. Boleh ya bund?" Aku hanya mendengarkan putriku bicara dengan mantan istri , yang masih kuat menempati sudut hati ini, aku justru semakin mengagumi perempuan yang dulu pernah aku buang itu, berharap masih ada kesempatan untuk bisa kembali padanya lagi.
"Oke, terimakasih ya bunda. A love you." terlihat Alma tersenyum lebar setelah menutup obrolannya dengan sang bunda. " Ayah, bunda sudah kasih ijin. yeey."
"Senengnya anak ayah."
"seneng dong ayah, kan besok kita bisa jalan jalan lihat air terjun, nanti fotoin Alma ya yah, yang bagus." Aku hanya ketawa dengan tingkah centilnya, anakku semakin beranjak dewasa. Tak terasa sudah sampai di tempat tujuan. Akupun memarkirkan mobil lalu langsung menuju tempat penjualan tiket buat nonton film yang jadi pilihan anak gadisku. Menghabiskan waktu dengannya, adalah kebahagiaan yang tak terkira untukku. Aku mati-matian memulihkan usahaku kembali maju semua demi untuk masa depan dan bahagia putriku. Itulah kenapa, aku juga tidak membuka hatiku buat wanita lain. Apa yang terjadi dulu menjadi pelajaran untuk lebih berhati hati dalam mengenal wanita. Aku tidak ingin ada Piana Piana selanjutnya.
__ADS_1
Selagi masih ada waktu, aku akan terus memperbaiki diri ini agar bisa lebih baik kedepannya. Soal jodoh biarlah menjadi urusan yang diatas. Yang aku tau saat ini hanyalah membahagiakan putriku dan menyimpan rasa buat mantan istri di sudut hati terdalam. Hingga nanti ada perempuan yang mampu menggantikan Rihana di hati ini, yang tidak aku tau kapan itu terjadi. Biarlah semua berjalan sesuai dengan air yang mengalir.