Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Permintaan maafnya Rudi


__ADS_3

"Iya, Ma! Semoga ada hikmah dibalik ini semua buat papa dan kita semua. Aamiin!"


"Om Dimas apa kabar? maaf belum bisa main kerumah, habis lagi sibuk ngerjain skripsi ini."


Fajar beralih menatap ke arah om nya dan mencoba mengakrabkan diri dengan keluarga mamanya yang terkenal dingin dan kaya raya itu.


"Alhamdulillah, baik. Sesekali mainlah kerumah, biar kenal sama istri dan anak om lebih dekat." sahut Dimas dengan ekspresi datar dan kaku. Karena memang Dimas tak biasa bersikap ramah tamah pada siapapun sekalipun itu sama orang tuanya, hanya dengan Rihana dan Alma Dimas bisa menjadi dia yang berbeda, manja, lebay dan humoris. Cinta memang bisa merubah orang dalam sekejap. Seperti Dimas yang begitu mencintai Rihana.


"Iya om, insyaallah nanti Fajar akan kesana. Boleh kan Tante?" balas Fajar dan mengalihkan pandangannya pada Rihana yang sedari tadi memilih diam menyimak obrolan suami dan keponakannya.


"Boleh banget, Tante akan sangat senang." sahut Rihana sangat ramah dan terlihat Fajar juga Melati tersenyum menanggapi. Mereka mengobrol kan banyak hal, sampai tak sadar kalau waktu sudah beranjak sore. Bahkan Dimas juga sempat menceritakan pertemuannya dengan Bu Endang juga Reni, ibu dan adiknya Rudi pada Melati.


Melati sempat tertegun, merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk kepada mertua dan iparnya. Namun mau bagaimana lagi, Melati juga tak bisa terus terusan dimanfaatin oleh Rudi, karena hati punya batasan bertahan dalam kubangan derita.


"Nanti Tante akan mampir sama anak anak kalau pas acara tujuh bulanan kandungan istri kamu. Jaga baik baik rumah tangga kalian, jangan sampai ada ketidakjujuran dalam sebuah hubungan, jaga hati istri kamu, Dimas. Tante harap, kamu adalah laki laki yang bertanggung jawab dan setia pada satu wanita, jangan le nah sakiti hati istri dan anakmu. Karena Tante sangat tau bagaimana sakitnya di perlakukan demikian."


Melati menasehati Dimas dengan mata berkaca kaca saat Dimas akan berpamitan pulang, rasa sakit dihatinya belum sembuh benar, masih menyimpan luka dan kecewa yang begitu dalam, karenanya kata maaf tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka batinnya.


"Iya, Tan. Insyaallah, Dimas akan berusaha menjadi suami terbaik buat Rihana dan anak anak kami nanti." balas Dimas tegas dan menatap iba pada tantenya.


"Aku yakin, Rihana wanita yang kuat dan tangguh, Tante sudah dengar semuanya dari ibu kamu. Jangan pernah torehkan lagi luka di hati wanita yang pernah terluka begitu dalam, karena itu akan membuatnya lebih sakit dari lukanya yang kemarin." Sambung melati menatap serius ke arah Dimas yang mengangguk dan langsung merangkul pundak istrinya.

__ADS_1


"Terimakasih Tante, Tante juga perempuan tangguh, insyaallah akan selalu ada kebahagiaan dan hikmah di balik ujian yang kita hadapi. Tante beruntung, memiliki anak anak yang begitu sayang dan cinta sama Tante, karena aku yakin, Fajar yang mendadak pulang bukan karena sebab, pasti dia sedang mencemaskan mamanya yang dirumah, benar begitu, Fajar?"


Rihana mengalihkan pandangannya pada Fajar yang menunduk dalam, tidak menyangka, kalau istri dari omnya bisa membaca pikiran dan kecemasannya, sebenarnya Fajar tidak benar benar ingin ke tambak, tapi ingin memastikan keadaan sang ibu tercinta.


"Iya tante! Fajar jadi malu, bisa terbaca sama Tante Rihana."


Fajar tertunduk malu dan takut kalau mamanya akan mengomeli dirinya lantaran sengaja meninggalkan jam kuliahnya.


"Hebat! Om bangga sama kamu! tetap jadi anak yang baik, jaga mama dan ingat, meskipun papa kamu bersalah, tidak sepatutnya, anak hilang hormat pada orang tuanya. Tetap hormati papa, dan doakan semoga mendapat hidayah dan kembali menjadi orang baik. Om yakin, kamu sudah dewasa, dan paham apa yang harus kamu lakukan. Tetap hormati dan bersikap sopan pada orang tua selepas apapun kesalahannya." Dimas memberikan nasehatnya, dan tanpa ada yang menyadari, Rudi sedang menguping obrolan mereka di balik pintu kamarnya. Rudi merasa terenyuh dengan setiap kalimat nasehat yang diberikan Dimas pada putranya. Tak menyangka jika seorang Dimas yang terkenal dingin dan angkuh, ternyata memiliki sisi berbeda dalam pemahaman adab dalam keluarga.


Dimas dan Rihana meninggalkan rumah mewah Melati, hari sudah sore, dan Alma pasti sudah pulang dari sekolahnya, Dimas hawatir kalau Alma akan mencari mereka dan kesepian dirumah sendirian. Dimas memang sangat menyayangi anak sambungnya dari Rihana seperti anak kandung.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Papa!"


Fajar menatap papanya yang sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk dengan tatapan sayu, terlihat gurat kesedihan di wajah tegas Rudi.


Melati bersikap acuh, dan terus berjalan melewati Rudi yang menatapnya tak berkedip.


"Melati, aku ingin bicara!"

__ADS_1


Saat Melati melewati dirinya, Rudi membuka suara untuk mengawali obrolan. Melati langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Rudi dengan memicingkan sebelah matanya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Mas! Semua sudah jelas. Anggap saja semua sudah berakhir, hanya menunggu waktu saja." sahut Melati dingin, tak ingin berdebat dan menambah beban pikirannya lagi. Karena hatinya pun juga sudah terlanjur mati untuk Rudi, tak ada lagi cinta dan rasa apa pun.


"Sebentar saja, tolong!" balas Rudi mengiba. Dan membuat Melati kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada laki laki yang terlihat begitu tertekan.


"Baiklah, kita bicara diruang tamu." sahut Melati pada akhirnya, dan berjalan menuju ruang tamu, lalu duduk di salah satu kursi empuk yang terlihat mewah dan mahal. Sedangkan Fajar tetap memilih diam mematung menatap orang tuanya yang tak lagi akur, harmonis dan canda tawa itu sudah berganti dengan air mata dan kecewa di mata ibunya.


"Fajar, ikutlah! mari kita bicara." Rudi menoleh pada anak bungsunya, dan mengajaknya untuk mengikuti ke ruang tamu, mengobrol bersama. Tanpa membantah, Fajar mengikuti langkah papanya dari belakang.


Saling diam dan menunggu apa yang akan Rudi sampaikan, Melati duduk satu kursi dengan Fajar di kursi panjang, sedangkan Rudi memilih duduk di kursi single di depan Melati.


Kecanggungan dan kaku mewarnai pertemuan mereka, padahal dulu mereka adalah keluarga yang sangat harmonis dan penuh cinta.


"Aku tau, aku salah."


Rudi membuka suaranya dan langsung mengakui kesalahan yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Melati maupun Fajar memilih bungkam, menyimak apa yang akan Rudi sampaikan.


"Maaf, kalau selama kita menikah, aku sudah banyak menyakiti kamu, Melati!


Aku sudah kelewat batas dalam bersikap dan mengotori ikatan kesucian cinta kita dengan wanita wanita di luar sana, bahkan aku sudah menghamburkan uang kamu dan menyalahgunakan kepercayaan yang kamu berikan. Maafkan aku. Sungguh aku menyesal!"

__ADS_1


Rudi tidak mampu meneruskan kata katanya, dadanya terlanjur sesak oleh penyesalan. Entah itu penyesalan yang sungguh sungguh, atau hanya sekedar ingin mendapatkan simpati dari istri dan anaknya lagi, agar dia tidak jadi ditendang dari kekayaaan Melati.


__ADS_2