
"Iya, ibu tau. Makanya ibu melarang kamu bertindak saat ini, kita tunggu mas mu pulang. Simpan baik baik Vidio itu, kita bersikap biasa saja, jangan sampai dia curiga, karena perempuan seperti dia bisa melakukan apa saja demi menyelamatkan dirinya."
"Iya, Bu! Reni paham."
Bisu, Reni dan ibunya kembali larut dalam keheningan, berada dalam pikiran masing masing.
Tak menyangka perempuan yang dipilih Rudi serendah itu, lebih rendah dari yang mereka pikirkan.
Sedangkan diluar, nampak Roni sedang mondar mandir menimbang, memencet bel nya atau tidak. Hatinya gamang, takut kalau tebakannya salah. "Tapi apa salahnya mencoba." batin Roni meyakinkan dirinya.
Dengan memantapkan hati, Roni memencet bel yang terpasang di dinding samping pintu, tak menunggu lama, pintu terdengar dibuka dari dalam. Perempuan paruh baya dengan wajah sembab keluar dan menatap bingung dengan kedatangan Roni.
"Maaf, cari siapa, pak?" sapa Bu Endang mencoba ramah.
"Anu, itu Bu! Em, itu!" Roni bingung harus bagaimana, karena tidak tau nama gadis yang tadi bertanya padanya.
"Iya, pak! ada yang saya bantu?" sambung Bu Endang bingung melihat Roni yang terlihat salah tingkah.
"Itu, saya lagi cari seseorang Bu, yang tadi bertanya ke saya. Perempuan, masih muda, cantik, pakai jilbab warna coklat, terus tingginya kurang lebih seratus enam puluhan, seperti anak kuliahan." terang Roni pasti dan membuat Bu Endang langsung paham dengan yang dimaksud Roni.
"Maksud bapak, Reni, anak saya?" balas Bu Endang mengernyitkan matanya.
"Em, sepertinya begitu Bu, karena tadi saya lupa menanyakan namanya, tapi saya sempat lihat dia masuk kesini." sahut pak Roni jujur dengan sikap yang sopan.
"Emangnya ada apa ya, sama anak saya? kok sampai bapak mencarinya." balas Bu Endang mengungkapkan kecemasannya, karena di wajah sembabnya terlihat cemas, takut anak perempuannya melakukan kesalahan, sampai ada security yang mencarinya kerumah.
"Itu, tadi mbaknya bertanya sama saya tentang bos laki laki saya dan diketahui sama istrinya, ya gitu deh Bu, ada salah paham, hingga menimbulkan huru hara dirumah, jadi bos saya meminta untuk menjemput mbaknya, ingin tau alasannya menanyakan nama bos saya itu dan memintanya untuk menjelaskan pada istrinya yang saat ini sedang menangis karena mengira suaminya sudah selingkuh. Eeh!" Roni langsung membekap mulutnya, keceplosan.
"Loh kok bisa?" sahut Bu Endang cemas, takut kalau anaknya sudah mengganggu hubungan rumah tangga orang lain.
__ADS_1
"Gak tau Bu, mungkin cuma salah paham saja, istri bos saya lagi hamil muda, jadi ya itu, sensitif orangnya, tapi sebenarnya baik banget."
"Sebentar ya pak, saya panggilkan dulu anaknya. Bapak silahkan tunggu di depan." sambung Bu Endang berusaha mengerti dan berpikir positif. Lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah memanggil anak gadisnya.
"Ren, keluar nak. Ada yang ingin ketemu." Bu Endang mengetuk pintu kamar dan memanggil anak gadisnya untuk keluar. Reni langsung membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya.
"Iya, Bu! ada apa?"
"Itu, diluar ada yang cari kamu."
"Siapa?"
"Gak tau, temui saja, nanti juga kamu paham sendiri."
"Ibu."
"Sudah keluar dulu, nanti juga kamu tau, ayo ibu temani."
Reni mengernyitkan dahinya heran, melihat pak Roni ada di depan rumahnya.
"Kamu kenal sama beliau, nak?" tanya Bu Endang memastikan.
"Iya, Bu. Itu satpam yang bekerja dirumahnya mas Dimas." Sahut Reni pasti dan membuat Bu Endang menatapnya lekat.
"Sepertinya ibu pernah dengar nama itu, siapa dia nduk?"
"Itu loh Bu, Mas Dimas, keponakannya mbak Melati. Masak ibu lupa?"
"Owalah, apa rumahnya yang besar itu, deretan kita yang tiga rumah dari sini, bener itu, nduk?" sambung Bu Endang dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Itu Bu tau, sudah bertemu sama mas Dimas?" tanya Reni penasaran dan membuat pak Roni terbengong dengan obrolan dua wanita di hadapannya.
"Belum, tapi tadi pagi ibu sempat lihat, tapi lupa. Wajahnya familiar tapi siapa ibu yang gak ingat, maklum faktor usia." sahut bu Endang terkekeh.
"Hmm, ibu itu masih muda, masih sehat, dan masih cantik. Mungkin karena jarang ketemu saja jadi ya itu, lupa." sahut Reni membesarkan hati ibunya, dan memeluknya manja.
"Oh iya, bapak cari saya?" sapa Reni pada pak Roni yang masih setia menunggu dan memilih diam menyimak obrolan dua wanita beda usia yang begitu hangat.
"Iya, mbak! Pak Dimas meminta saya, untuk mengajak mbak..." pak Roni bingung mau menyebut nama, karena tidak tau namanya. Reni langsung paham dan menyebutkan namanya.
"Reni! Panggil saja Reni, pak." sahut Reni sopan.
"Oh iya, mbak Reni! Pak Dimas mengundang mbak Reni kerumahnya, karena istri pak Dimas sudah salah paham, dikiranya mbak sama pak Dimas ada apa apa gitu, em maaf ya mbak!" sambung pak Roni sungkan, takut kalau Reni tersinggung, tapi Reni justru tersenyum dan paham dengan maksud pak Roni menemuinya.
"Saya paham, pak. Baiklah saya akan ikut bapak kerumah pak Dimas. Nanti akan saya jelaskan, biar tidak ada salah paham, jujur saya jadi tidak enak." balas Reni merasa sungkan, karena ulahnya, Dimas jadi bertengkar dengan istrinya.
"Mohon maklum ya mbak, habis nyonya lagi hamil muda, jadinya itu, bawaannya beda. Aslinya Mah, orangnya baik banget." sambung pak Roni memuji majikannya, yang memang sangat baik.
"Iya pak, saya paham kok. Mari" balas Reni sopan dan bersiap untuk pergi, menerima undangan dari Dimas.
"Ibu ikut, nduk! Ibu akan temani kamu, siapa tau nanti dengan ibu ikut kesana, Dimas juga ingat sama ibu." sahut Bu Endang bersemangat.
"Boleh Bu, silahkan!" Pak Roni menimpali dan merasa sangat bersyukur, karena usahanya tidak sia sia, salah paham yang terjadi akan segera terselesaikan.
"Yasudah, ibu akan ganti baju dulu dan pakai kerudung, sebentar!" balas Bu Endang yang langsung masuk kedalam rumah, mengganti dasternya dengan gamis sederhana dan memakai jilbab instan yang masih tergantung di pintu kamarnya.
Saat Bu Endang keluar kamar, terlihat Piana menuruni tangga dengan rambut yang basah dan memakai baju yang kurang sopan, Bu Endang cuma melihatnya sekilas, lalu kembali meneruskan langkah. Hatinya sudah benar benar sakit dengan kelakuan menantunya itu. Sehingga wajah sinis yang ia tampakkan.
"Ibu mau kemana?" sapa Piana pura pura bersikap baik.
__ADS_1
"Bukan urusanmu!" sahut Bu Endang cuek tanpa menoleh sedikitpun, meneruskan langkahnya ke luar rumah dimana Reni dan pak Roni sudah menunggu dirinya.
"Dasar nenek sihir, sudah tua saja belagu. Mau mati saja kok sok angkuh!" sungut Piana penuh kebencian, segala umpatan kasar ia lontarkan pada ibu mertuanya yang bahkan tidak mendengarnya. Bu Endang sudah pergi bersama Reni juga pak Roni menuju rumahnya Dimas.