Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
imitasi


__ADS_3

"Jangan pernah papa menyentuh mama lagi, sekali saja tangan papa menyakiti mama, papa akan berhadapan dengan kami, dan kami juga tidak akan segan memberi pelajaran sama papa. Harusnya papa Sadar dengan kesalahan papa, bukan malah menyakiti dan mempermalukan diri papa sendiri." ucap Riko tegas dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Dengan penuh amarah, Rudi meninggalkan rumah dan melajukan mobilnya kencang menuju tempat istri mudanya. Dan inilah awal kehancuran hidupnya. Membuang permata hanya demi batu kali.


Dengan hati yang kesal dan pikiran kacau, Rudi pulang ke tempat Piana dan membuat Piana bingung, karena penampilan Rudi terlihat sangat kacau sekali. Yang biasanya rapi kini terlihat acak acakan dan nampak lesu dengan mata memerah menahan amarah. "Loh, kenapa, Mas? kok kamu kusut gini?" sambut Piana yang terheran melihat Rudi tak seperti biasanya. "Gak papa, aku lagi pusing saja, malam ini aku akan tidur disini dan gak tau sampai kapan." balas Rudi datar dan membuat Piana mengernyitkan dahinya heran menatap suami sirinya.


"Kamu lagi ada masalah, Mas?" selidik Piana dengan tatapan menyelidik. "Iya, aku sedang berselisih dengan Melati dan anak anakku. Sementara aku tidak akan pulang, malas bertemu dengan mereka.


"Apa kamu akan meninggalkan anak istrimu, Mas?" sahut Piana menatap lekat manik mata lelaki yang masih terbakar emosi. "Sepertinya begitu, karena Melati akan melayangkan gugatan cerai, dia sudah tau hubungan kita." sahut Rudi dengan ekspresi yang sulit untuk di mengerti.

__ADS_1


"Bagus dong, jadi kita bisa nikah resmi dan gak perlu lagi sembunyi sembunyi kayak gini, capek aku, Mas." balas Piana dengan sikap manjanya. Piana berpikir, harta Rudi yang banyak dan semua usaha yang pernah Rudi sebutkan itu milik Rudi, padahal kenyataan yang ada justru sebaliknya, Rudi hanya numpang hidup pada istrinya. Jika hanya mengandalkan gajinya saja, Rudi tidak akan bisa hidup mewah bergelimang uang. Tapi Rudi diam saja menanggapi pemikiran istri mudanya. Kalau dia jujur, pasti Piana akan memilih pergi dan meninggalkannya.


"Apa akan ada pembagian harta gono-gini, Mas?" sambung Piana antusias. "Iya" jawab Rudi singkat dan beranjak ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Piana mengekor di belakang Rudi, hatinya sudah lebih dulu bahagia, dalam bayangannya, dia akan hidup mewah setelah Rudi mendapatkan harta gono-gini dari perceraiannya. Dan berkhayal menjadi nyonya kaya yang memiliki kekayaan melimpah, membayangkan saja sudah membuat Piana kegirangan, padahal kenyataan tak seindah apa yang ia bayangkan.


"Mas sudah mau tidur? kok tumben." Piana mendekati suaminya yang sudah merebahkan dirinya diatas ranjang. "Iya, mas capek, ingin tidur lebih awal, gak papakan?" balas Rudi tak semangat. "Em, tapi besok jadi kan kita lihat rumahnya?" sambung Piana penuh harap, dan Rudi langsung bangkit dari tidurnya menatap Piana lekat, bingung mau menjawab apa, sedangkan kondisinya sedang tidak memungkinkan, uang yang ada belum cukup untuk memenuhi keinginan Piana sekalipun itu hanya untuk uang DP nya saja. Saat pikirannya kalut, Rudi teringat dengan cincin yang tadi sempat diambil nya dari meja rias Melati.


"Lihat rumahnya ditunda dulu ya sayang, pikiranku lagi kacau, tapi aku punya sesuatu untuk menggantikannya." balas Rudi serius dengan tatapan mengiba. Lalu mengambil cincin yang tadi dia simpan di dalam saku celananya. Melihat cincin yang sangat memukau di tangan suaminya, membuat Piana menjerit kegirangan. Memang bagi yang tidak teliti, cincin berlian imitasi yang kini di pegang Rudi nampak sekali terlihat seperti aslinya. Jika tidak teliti memperhatikannya akan percaya jika itu asli cincin berlian, padahal hanya cincin imitasi dengan harga satu jutaan.


"Wah, bagus sekali cincinnya, Mas. Ini cincin berlian kan, Mas?" Piana tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, berkali kali dia mencium cincin ditangannya, hatinya nya sangat senang sekali, lantaran dia nanti akan bisa pamer saat berkumpul dengan teman temannya yang rata rata mempunyai kehidupan yang sama dengannya, yaitu menjadi istri simpanan para pria hidung belang. Melihat Piana begitu senang, Rudi merasa lega, setidaknya dia bisa menghindar sementara waktu dari permintaannya meminta rumah mewah, sampai nanti harta gono-gini di bagi secara adil.

__ADS_1


"Bagus sekali Mas, aku suka banget. Terimakasih ya, aku makin cinta sama kamu." rayu Piana dan memberi ciuman lembut di bibir suami sirinya. Mendapat sengatan kecil dari Piana membuat tubuh Rudi menegang seketika. Melihat suaminya mulai terbakar syahwatnya, Piana beranjak dan mengganti pakaiannya dengan baju dinasnya yang minim bahan, itu membuat Rudi semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, karena Piana terlihat sangat menggoda dengan balutan lingerie merah menyala yang ia kenakan, setiap inci tubuhnya yang sintal terlihat jelas.


"Kamu selalu bisa membuatku senang sayang, melupakan masalah yang membuatku pusing dan hampir gila. Mari kita lakukan dan aku akan memberimu hadiah yang lebih indah lagi." sambung Rudi dengan menelan saliva nya, menahan gejolak yang tiba tiba membuat tubuhnya memanas.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Dilain tempat, Alim sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Safitri yang sedikit demi sedikit bisa membuatnya merasa nyaman. Safitri memang gadis yang pandai mengambil hatinya Alim yang beku. Dengan perhatian dan ketulusannya. Safitri selalu berusaha menunjukkan bagaimana dia bersikap dalam memperlakukan Alim dengan perhatian perhatian kecil, seperti selalu membiarkannya sarapan dan makan siang dengan masakan yang dibuatnya sendiri. Dan saat di kantor Safitri juga selalu patuh dengan yang Alim perintahkan, selalu berusaha menjadi yang terbaik agar cinta di hati calon suaminya tumbuh seiring kebiasaan yang mereka lakoni setiap hari.


"Nanti habis makan siang, kita akan ada foto prewedding, kamu sudah siap kan?" tanya Alim sama Safitri yang sibuk dengan komputernya. "Hari ini ya, Mas? tapi aku tidak bawa bajunya." sahut Safitri merasa bersalah. Alim tersenyum dengan kepolosan gadis di depannya. "Gak perlu bawa baju ganti, sudah ada MUA yang menyediakan baju apa yang akan kita pakai. Kamu cukup mengikuti apa yang nanti di suruh petugas W.O nya." balas Alim menjelaskan dan membuat Safitri mengerjap menahan malu akan ketidaktahuan nya. "Yasudah kamu siap siap gih, kita keluar cari makan dulu." sambung Alim kemudian dan menatap lekat manik hitam dimata calon isterinya. "Tapi aku sudah bawa bekal makan siang kita, biar aku panasi dulu. Mas, gak keberatan kan? atau kalau mas gak suka, gak papa kita makan diluar saja." sahut Safitri tak enak, takut kalau Alim menolak masakan yang dibawanya. "Yasudah, kita makan masakan kamu saja, jangan lupa aku kopi ya." jawab Alim dengan senyum tersungging di wajah tampannya. Tanpa banyak bicara lagi, Safitri mengambil kotak makan yang ia bawa dan membawanya ke dapur yang ada di kantor Alim, sayur rendang dan acar timun, serta telur bumbu balado, ditambah secangkir kopi hitam menemani makan siang Alim dan Safitri.

__ADS_1


__ADS_2