
"Wah, romantisnya, jadi membuatku iri."
Alim dan Safitri saling beradu pandang, dengan kehadiran Piana yang memang sengaja membuat suasana menjadi tidak enak, itu terlihat dari bagaimana Piana bersikap. "Alma masuk saja ya, istirahat di dalam, minta ganti baju sama budhe." Alim menoleh dan berucap lembut pada Alma yang mengerutkan dahi menatap kedatangan Piana. "Iya ayah." sahut Alma menurut tanpa banyak bicara dan berlalu meninggalkan pelaminan. Setelah memastikan anaknya sudah tidak ada, lantas Alim berdiri dan menatap tajam pada wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. Melihat suaminya menahan emosi, membuat Safitri menegang, takut kalau kalau Alim tidak bisa mengendalikan dirinya, dan terjadi keributan, itu pasti akan berakibat fatal, memalukan diri dan keluarga hanya karena ulah satu orang perempuan.
"Mas, sabar! tidak usah menghiraukan perempuan ini." bisik Safitri sambil mengusap lembut lengan suaminya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan terpancing dengan perempuan ini, aku cuma ingin memberinya peringatan, agar tidak lagi muncul di depan kita, karena aku sudah muak berurusan dengannya." sahut Alim dengan rahang mengeras menahan kekesalan akan kehadiran Piana yang membuatnya tidak nyaman. Safitri hanya bisa pasrah, dan terus mengusap lengan suaminya lembut, berharap dapat menenangkan emosinya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, Piana! karena aku tidak Sudi melihatmu ada disini dan jangan pernah lagi hadir di hadapanku sampai kapanpun." herdik Alim dengan sorot mata tajam di arahkan pada perempuan yang justru menanggapinya dengan senyuman miring.
"Kenapa, Mas? kamu takut jatuh cinta lagi dan sebenarnya kamu belum bisa melupakan aku kan? sampai kamu begini takutnya ketemu aku." sahut Piana dengan gaya congkaknya. Alim menghirup udara sebanyak mungkin dan melepaskan dengan kasar. "Jangankan jatuh cinta, melihatmu saja aku sudah muak, aku hanya tak ingin sakit mata melihat perempuan ular seperti kamu, jadi jangan terlalu percaya diri kamu, karena laki laki yang punya otak sehat, tidak akan pernah Sudi berdekatan apalagi berurusan dengan wanita murahan dan licik sepertimu." Alim sudah tak lagi bisa menahan kekesalannya, apa yang dia pikirkan langsung terlontar dari bibirnya.
Piana berdecak, matanya menatap nyalang ke arah Alim yang juga tengah menatapnya tajam, penuh dengan kebencian. "Pergilah, aku tidak butuh kehadiran kamu di hari bahagiaku." sambung Alim yang juga menunjuk Piana untuk segera meninggalkan acara.
__ADS_1
"Mas! Mas! aneh kamu. Aku kesini hanya ingin mengucapkan selamat dan ingin tau, seberapa mewah pernikahan pengusaha sukses sepertimu, tapi ternyata hanya pesta pernikahan orang kampung. Gak level." hina Piana secara gamblang, niatnya ingin membuat Safitri tersinggung. Tapi justru Safitri menampilkan senyum manisnya dan membalas ucapan Piana dengan kalimat yang tidak terduga.
"Memang saya tinggal dikampung, jadi wajar nikahnya di kampung tapi tidak kampungan dengan datang tanpa di undang, karena orang yang beradab tidak akan bersikap rendah dengan mempermalukan dirinya sendiri. Dan satu lagi, aku tidak perduli semewah apapun pesta, tapi jika tidak ada cinta akan percuma, pun dengan kebalikannya, meskipun pernikahan kami diadakan sangat sederhana, tapi kami saling mencintai dengan tulus dan saling menerima kekurangan dan kelebihan kita masing masing, bahkan Mas Alim juga sudah memberi hadiah pernikahan dengan mobil mewah juga satu set berlian untukku, lalu apa lagi yang aku tuntun dari suamiku, jika tanpa aku minta pun, Mas Alim sudah tau bagaimana cara menghargai dan menunjukkan cintanya." balas Safitri panjang lebar dan itu membuat Piana langsung bungkam dengan menyimpan rasa kesal, iri tentu saja.
"Makasih sayang, terimakasih sudah belajar memahami ku, aku tidak salah memilihmu menjadi pendamping hidupku." sahut Alim dengan ekspresi yang tak bisa dibaca, namun ada rasa nyaman saat mendengar tutur ucap yang Safitri lontarkan untuk membalas hinaan Piana. Safitri terlihat lebih elegan dan santun dalam menyikapi sesuatu, itu menjadi nilai lebih untuknya.
"Sama sama, Mas." balas Safitri lembut dengan tangan yang belum lepas dari menggandeng lengan suaminya, pemandangan yang membuat Piana muak untuk melihatnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dilain tempat, Melati sedang duduk dan termenung sendirian di Tamang belakang yang ada dirumahnya. Secangkir teh melati selalu menjadi teman dalam sendirinya. Meskipun hatinya sudah mantap untuk bercerai dengan Rudi, tapi masih ada rasa yang membuatnya merasakan sakit, kenangan indah selama menjalani rumah tangga, perlakuan manis yang selalu Rudi berikan untuknya juga semua anak-anaknya. Melati memang tak lagi menyimpan rasa pada laki-laki yang sudah menciptakan luka di hatinya, tapi perjalanan yang diarunginya juga tidaklah sebentar dan itu pasti membekas di ingatannya.
"Ma!" suara Fajar anak bungsunya tiba tiba membuyarkan lamunan Melati.
__ADS_1
"Sudah pulang kamu, nak! tumben jam segini sudah dirumah?" sahut Melati menatap anaknya lekat dengan sedikit mengerutkan pandangannya.
"Iya, Fajar kepikiran mama. Tadi habis dari kampus, fajar mampir ke supermarket dan melihat perempuan itu sedang belanja sendirian. Fajar laku memutuskan untuk mengikuti perempuan itu, dan ternyata dia sudah tidak tinggal di apartemen yang dulu, wanita itu sudah pindah di perumahan elit yang ada di Ngasem. Apa ada kemungkinan papa yang membeli rumah itu, tapi itu perumahan elit loh, pasti bajetnya besar, apa papa punya uang sebanyak itu?" Fajar mengatakan apa yang dia lihat dan pikirkan pada mamanya, dan Melati menanggapinya dengan senyuman kecut.
"Busa saja papa kamu mengambilnya secara kredit, karena semua saldo yang ada di rekening papa sudah mama tarik, dan mama juga sudah menutup akses masuk keuangan dari toko dan butik ke papamu, jadi ya itu, kemungkinan papa mengambil rumah itu dengan cara kredit. Biarkan saja, biar papamu tau betapa susah dan kerasnya kehidupan ini. Dia akan kelabakan dengan hidup hanya mengandalkan gajinya yang sedikit itu." balas Melati tenang dan menatap penuh arti pada putranya yang mengangguk.
"Besok, kamu temani mama ke tambak ya. Ada beberapa tambak yang akan di panen ikannya. Jangan sampai keduluan papa kamu, karena mama belum memberi tau pekerja disana. Takutnya papa kamu akan kesana dan mengambil uang hasil penjualan tambak, karena jumlahnya tidak sedikit. Mama gak iklas, kalau jerih payah mama dinikmati perempuan itu." sambung melati datar dengan tatapan kosong ke depan.
"Iya, Ma. Besok Fajar yang akan menemani mama. Tapi lebih baik mama telpon orang kepercayaan mana disana terlebih dahulu, agar tidak melakukan transaksi apapun dengan papa, minta mereka menunggu mama datang ke sana. Besok kita berangkat pagi pagi sekali." sahut Fajar memberikan idenya.
"Kamu benar, mana akan menghubungi pak Andi kalau begitu, dan besok sebelum subuh kita harus berangkat, biasanya papamu akan sampai disana jam sembilan pagi, saat para pekerja mulai menguras kolam dan menghitung hasilnya."
"Baiklah Ma, kita akan datang lebih pagi dari papa. Kita beri kejutan papa disana, oke mama? you strong mom, love you." Fajar mengusap bahu sang mama lembut, berusaha memberi kekuatan agar mamanya tetap kuat menghadapi masalah rumah tangganya dengan sang papa.
__ADS_1