Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Rudi menemui Melati


__ADS_3

"Aku akan jadi perisai buat mama, karena aku yakin papa akan berbuat nekad untuk mencapai ambisinya, aku tidak akan biarkan mama disakiti sama papa lagi!" Fajar mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat terdiam dan kedua kakaknya langsung mengalihkan pandangan pada adik bungsunya.


Sedangkan Beni sudah pergi duluan menyusul Rudi, Beni takut Rudi akan melakukan hal bodoh lantaran emosinya.


"Mas! tunggu Mas!"


Beni lari lari kecil mengejar langkah kakaknya yang lebar, Rudi tak perduli dengan suara adiknya yang manggil-manggil dirinya. Rudi terus melangkahkan kakinya, membawa rasa sakit hatinya atas pembelaan anak anaknya pada mama mereka. Rudi merasa tidak dianggap dan tidak dihormati lagi.


"Mas! Tunggu!"


Beni sudah ada tepat di depan kakaknya, menghalangi langkah Rudi dan mencoba mengajaknya bicara lagi.


"Sudah, jangan ikut campur. Biar aku selesaikan masalahku sendiri dengan caraku sendiri. Kamu fokus sama bengkel kamu saja. Dan jangan pernah bicara apapun soal ini ke ibu, paham?" Rudi menatap tak suka ke arah adiknya dan memberi penekanan pada setiap kalimat yang di ucapkan.


"Baiklah, setidaknya aku sudah mengingatkan Mas Rudi, gugur sudah kewajiban ku sebagai saudaramu untuk menasehati. Maaf kalau Beni sudah ikut campur." Sahut Beni penuh dengan kekecewaan, meskipun begitu, Beni masih berharap Rudi mengurungkan niatnya. Karena itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri, tapi Rudi seolah tutup mata dengan fakta yang ada.


"Kamu pulang naik taksi apa ojek saja, Mobilnya biar Mas bawa dulu. Ada yang harus aku selesaikan sekarang juga." balas Rudi dingin dan meminta kunci mobil yang di bawa adiknya, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Beni termenung sendirian di area parkir.


"Om!"


Sapa Riko saat sudah ada dekat dengan Beni yang terlihat mematung menatap kosong ke depan.


Beni menoleh, dan tiga keponakannya sudah ada tepat dibelakangnya.


"Papa dimana?" sambung Ayu dengan wajah cemasnya.


"Barusan pergi, gak tau mau kemana. Nyuruh om pulang naik ojek dan membawa mobilnya gak tau akan kemana, tapi om takut, kalau papa kalian akan pergi menemui mama kalian, lantaran tidak terima dengan kalian yang terkesan membela mama dari pada papa kalian." Beni mengusap kasar wajahnya, bingung bagaimana menyadarkan kakaknya.

__ADS_1


"Mungkin apa yang di duga om Beni benar, papa kerumah menemui mama!" sahut Fajar dengan ekspresi datar, tenang karena yakin kalau pak Joko tidak akan berani membukakan gerbang seperti perintahnya.


"Kalau begitu, lebih baik kita pulang kerumah mama, jangan sampai papa melakukan sesuatu sama mama." Ayu semakin panik dan cemas memikirkan mamanya, takut kalau-kalau Rudi melakukan sesuatu yang menyakiti mamanya.


"Tenang, mbak! Aku sudah memberi perintah ke pak Joko, agar tidak membukakan pagar, pada siapapun tamu yang datang kerumah, tak terkecuali papa!" sahut Fajar masih dengan wajah datarnya, entahlah hatinya sudah terlanjur kecewa dengan kerasnya hati papanya.


"Tapi kita akan tetap pulang, jangan sampai papa bikin keributan disana, gak enak dilihat tetangga."


Riko menimpali dengan sikap yang tenang, karena percaya dengan Fajar yang sudah mengantisipasi keadaan sebelumnya.


"Om, mau ikut atau gimana?" tawar Riko sopan dan menatap Beni yang terlihat gelisah.


"Om pulang saja, karena tadi papa kalian sudah mengancam om untuk tidak ikut campur, tapi kalau papa kalian melakukan sesuatu yang fatal, beritahu om ya, Om akan bantu sebisanya."


Balas Beni dengan wajah lesu, karena tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan, Rudi sudah berada di depan pagar sebuah rumah mewah yang dulu jadi istananya bersama anak dan istrinya, tapi kini dia terusir karena keangkuhan istrinya yang tidak terima dengan perselingkuhannya.


Rudi menekan klakson mobilnya, berharap scurity yang berjaga segera membukakan pagarnya, tapi sudah ada kesepuluh kali Rudi menekan klakson belum ada tanda tanda pagar dibuka, bahkan tidak terlihat siapapun yang berjaga di pos satpam.


Rudi semakin emosi dan turun dari mobilnya dengan menggedor gedor pintu pagar, sehingga menimbulkan suara yang gaduh dan jadi perhatian orang yang sedang lewat.


Sedangkan pak Joko, tadi sempat dapat telepon dari Fajar, agar tidak membukakan pintu saat papanya berkunjung sampai dia datang, jadi pak Joko memilih bersembunyi dan mengintip di balik tembok pos jaganya.


"Joko! Joko! buka pagarnya!

__ADS_1


Joko! mau aku pecat kamu, hah?"


Rudi terus berteriak memanggil nama Joko sambil tangannya terus di gedorkan ke pagar yang membuat suara gaduh dan memancing rasa penasaran Melati, sehingga dia memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi di depan rumahnya.


"Kamu ngapain disitu, Joko?


ada tamu, kenapa kamu sembunyi disini, buka pagarnya!" perintah Melati yang tidak tau kalau tamu yang bikin gaduh adalah suaminya sendiri.


"Itu Bu! Itu! yang di depan pak Rudi, dia marah marah karena tidak dibukakan pagar, karena saya dapat perintah dari Den Fajar, untuk tidak membukakan pintu kalau pak Rudi datang. Barusan Den Fajar juga telepon saya, untuk tidak membuka pintu pagar sebelum dia datang, sekarang den Fajar sedang ada di jalan sama den Riko juga den Ayu." Pak Joko menjawab pertanyaan melati jujur dan mengatakan apa adanya tentang apa yang sudah di perintahkan Fajar pada nya.


"Yasudah, kalau begitu lebih baik kamu temani saya, untuk bicara dengan Mas Rudi." sahut Melati yang menghembuskan nafasnya dalam dan segera berlalu menuju pintu gerbang yang terlihat kokoh dan menjulang tinggi.


"Tapi, Bu! Nanti saya kenal marah den Fajar. Kalau biarkan ibu bertemu sama oak Rudi." balas pak Joko ragu dan menyusul langkah nyonya rumah yang seperti tidak mendengarkan omongannya.


Melihat kedatangan Melati, Rudi menghentikan teriakannya, dan tersenyum sinis menatap perempuan yang sudah membersamai nya selama ini. Bahkan dimatanya Melati justru terlihat lebih muda dan cantik setelah hampir satu bulan lebih tidak pernah bertemu. Melati semakin terlihat berisi dan segar.


"Ada apa lagi, Mas? kenapa kamu teriak teriak di rumahku?" sambut Melati dingin menatap Rudi yang ada dibalik pagar tanpa mau mempersilahkan masuk.


"Apa begini caramu menyambut kedatangan suami kamu? Tak sopan!" balas Rudi kesal dan menatap tajam ke arah melati yang tak begitu meresponnya.


"Suami? sebentar lagi kita akan jadi mantan. Tunggu saja, saat itu akan tiba."


Balas Melati tak kalah dingin dan sinis.


"Buka pintunya, aku masih punya hak dirumah ini. Jangan buat aku makin murka Melati! Aku muak dengan sikap angkuh kamu itu!" sahut Rudi penuh dengan kebencian.


Namun Melati tampak acuh dan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri, menatap Rudi miris, bukannya minta maaf dan menyadari kesalahannya, tapi semakin memperlihatkan sifatnya yang arogan dan sok berkuasa. Memalukan.

__ADS_1


__ADS_2