
"Bu doakan Beni ya, karena dengan doa ibu, Beni yakin mimpi Beni akan terwujud. Aamiin. Alhamdulillah ya Alloh." Sambung Beni menatap ibunya dan minta doanya.
Beni terlihat semangat dan senang sekali, membuat Rudi yakin untuk memberi modal adiknya yang memang dasarnya suka bekerja keras dan cerdas, sedangkan Bu Endang tidak bisa menahan tangisnya, terharu dengan kedekatan anak anaknya yang saling perduli dan menyayangi. Inilah yang selalu di minta Bu Endang dalam setiap doa doanya, anak anaknya rukun dan saling menyayangi.
"Kalau begitu, kamu segera cari tempat yang cocok, cari yang strategis juga harga sewanya yang agak murah saja, karena uang nya cuma ada seratus enam puluh juta, Aku percaya sama kamu, pergunakan kesempatan ini baik baik." Rudi kembali bersuara dan tangannya sambil memegang rokok lalu menghisapnya.
"Kalau untuk tempat, sepertinya Beni sudah punya pandangan, ada tak jauh dari kampus, masih punya teman sih, kapan hari bilang .aku di kontrakan, nanti biar beni hubungi dia. Insya Allah, uang segitu cukup, kira mulai dari nol dulu, semoga Alloh mudahkan dan nanti bisa jadi bengkel besar yang memiliki omset ratusan juta. Aamiin." Beni begitu semangat, tak menyangka di balik sikap keras kakaknya, ternyata dia begitu perduli dan sayang padanya, Beni berjanji akan berjuang keras agar sukses dan tidak mengecewakan kakaknya.
"Ben, nanti kamu tidurnya sama Mas, saja ya. Aku males naik kamar atas, masih capek jadi tidak ingin tambah capek karena pasti saat melihat Piana emosiku akan berantakan. Biar besok saja aku urus wanita itu, sekarang aku akan istirahat dulu. Aku tidur duluan." Rudi beranjak pergi menuju kamar tamu yang sebenarnya untuk kamarnya Beni, tapi Rudi sedang tidak ingin bertemu Piana, lagi males saja kalau harus bertengkar, tidak buahnya sudah lelah, apalagi pikirannya, untuk itu Rudi memilih untuk diam dulu.
"Gak papa, Mas. Santai saja, aku bisa tidur di mana saja, tidak usah khawatir." balas Beni santai dengan mengulas senyum di bibir tipisnya.
Meskipun banyak pertanyaan tentang rumah tangga kakaknya, Beni tidak ingin terlalu mencampuri dan banyak bertanya, diam itu jauh lebih baik pikirnya.
"Ibu kasihan sama Mas mu, Le.
Pasti dia sedang pusing karena ulah perempuan itu, kalau saja Mas mu bisa di nasehati, pasti hidupnya tidak berantakan seperti sekarang. Kasihan, tapi mau gimana lagi, ini sudah jadi pilihannya. Ibu cuma bisa berharap, Mas mu segera bertaubat dan menyadari kesalahannya." Bu Endang tak bisa membendung air matanya, dan sebagai orang tua, pasti hatinya juga ikut merasakan sakit juga kecewa, melihat anaknya dengan begitu mudah dikhianati.
__ADS_1
"Aku sudah tau semuanya, Bu! Reni sudah bilang sama aku semuanya. Tapi kita bisa apa, semua itu pilihan mas Rudi sendiri, saat ini tugas kita itu mendoakan dan menyadarkan mas Rudi dengan kesalahannya, terus dampingi dan jangan bosan mengingatkan. Aku juga gak habis pikir, Mas Rudi bisa berbuat nekad seperti ini, padahal apa kurangnya mbak Melati selama ini, selalu baik dan sopan pada kita, aku saja selalu sungkan kalau berhadapan dengannya, karena mbak Melati itu, tulus orangnya, apa adanya dan gak neko-neko." sahut Beni bicara apa adanya yang sesuai dengan apa yang dia nilai.
"Yasudah sudah malam, kita tidur, ngobrolnya dilanjut besok ya, kamu masih lama kan di rumah, Le?" Bu Endang bertanya pada Beni, sedangkan Reni sudah kembali ke kamar sejak tadi, memilih mengerjakan tugas kuliahnya.
"Ibu ke kamar saja duluan, biar Beni tidur di sini saja, itu kan ada kasur di depan televisi, cowok mah bebas mau tidur di mana saja bisa. " Sambung Rudi meyakinkan ibunya. Bu Endang menurut dan menuju kamarnya dan memilih memejamkan mata, hari ini tubuhnya sudah sangat lelah, lantaran membersihkan rumah sendiriaa dan memasak. Sedangkan Piana asik di dalam kamarnya, sama sekali tidak perduli dengan kewajibannya sebagai istri dan menantu.
Piana mengintip keadaaan di bawah dari balik pintu kamarnya, takut dan juga bingung harus bagaimana, kalau dia pergi dari rumah ini, yang ada dia akan kembali luntang-lantung diluaranan sana, sehingga Piana memutuskan bertahan, meskipun harus menghadapi amarah Rudi dan kebencian keluarga Rudi pada dirinya.
"Apa semua sudah tidur?
kok tidak menemuiku dan, mungkin dia tak tega marah padaku, mas Rudi kan cinta banget sama aku, baguslah kalau begitu. Biar nanti aku kasih pelajaran pada perempuan tua itu." gumampiana sendirian dan kembali masuk ke dalam kamarnya, lalu menguncinya rapat, takut tiba tiba Rudi masuk dan menghajarnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dirumah Dimas saat ini. Dimas sedang melamun sendirian di balkon kamarnya, Rihana sudah tidur sejak tadi. Semenjak hamil, Rihana selalu tidur lebih cepat, belum ada jam delapan pasti sudah mengantuk dan beranjak tidur, tak masalah bagi Dimas, karena Dimas selalu berusaha mengerti keadaan istrinya.
"Kalau benar, Tante Melati dihianati sama suaminya, keterlaluan sekali om Rudi, apa yang kurang dari Tante Melati, cantik dan juga kaya, bahkan Tante Melati sangat baik, tapuom Rudi sudah mengkhianati nya dengan perempuan gak punya etika seperti Piana." Dimas bergumam sendirian di dalam gelapnya malam, pikirannya sedang tertuju pada tantenya dan nasib rumah tangganya. Yang pasti bakalan hancur, apa lagi yang masuk dalam rumahtangga tantenya adalah seorang Piana.
__ADS_1
Setelah puas merenung, Dimas menyusul istrinya yang tengah tertidur lelap, merebahkan tubuhnya di samping sang istri lalu memeluknya penuh cinta. Dan tak lama kemudian Dimas pun ikut larut dalam buaian mimpi dengan dekapan sahdu keheningan malam.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
pukul lima pagi Bu Endang sudah berkutat di dapur, menyiapkan menu sarapan untuk anakn anaknya, Reni juga ikut membantu ibunya memasak lalu dia tinggal membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai.
"Ibu mau masak apa buat sarapan? bikin nasi goreng saja yang gak ribet." tanya Reni sambil tangannya memegang sapu.
"Ibu mau bikin makanan yang enak enak buat kalian, masak nasi goreng terus, kan bumbunya juga tinggal masukin saja, semua sudah di haluskan tinggal masukin, jadi gampang." Sahut Bu Endang sumringah. Wanita setengah baya itu sedang bahagia, lantaran anaknya bisa saling mendukung dan perduli satu saja lain.
"Iya deh, suka sukanya ibu saja. Reni mau nyaoy dulu." balas Reni pasrah dan tersenyum menatap ibunya yang sedang bahagia.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul tujuh pagi, semua sudah pada ngumpul di meja makan, kecuali Piana. Wanita itu masih belum berani menampakkan dirinya. Rudi sengaja ingin menyiksanya dengan keadaan seperti ini, karena tau, kalau Piana tidak akan berani menemuinya lebih dulu.
"Biar dia menahan lapar di dalam kamar, aku ingin tau, sampai kapan dia sanggup bertahan. Hari ini aku sengaja ijin cuti kerja untuk memberinya pelajaran dan juga akan melihat tempat buat buka usaha bengkelnya Beni. Kita akan bermain main Piana, bersiap siaplah." Batin Rudi penuh rencana di dalam otaknya.
__ADS_1