
Aku sudah memulai beranjak untuk melupakan Rihana, meskipun aku sadar kalau ini tidaklah mudah. Tapi jika dipikir semua memang tergantung dari niatku untuk berusaha melupakan, seperti kata kakakku. Jika aku tidak memaksa melupakan dan belajar membuka hati untuk wanita lain, selamanya pasti aku akan terkungkung oleh perasaan yang hanya menyiksaku saja, karena menunggu dan berharap pada wanita yang sudah bahagia dengan kehidupan barunya itu seperti membunuhku berlahan.
Aku mulai belajar membuka diri dan hati untuk Safitri, dia memang tak sama dengan Rihana tapi aku bisa mendidiknya seperti Rihana setelah kami menikah nanti, karena aku mulai nyaman dan menyukai wanita yang memakai pakaian longgar, auratnya terjaga dan hanya bisa dinikmati pasangannya saja, jika Safitri wanita yang penurut dan paham cara menghargai dan menjaga kehormatan suami, pasti dia tidak akan keberatan jika aku memintanya merubah penampilannya. Dan itu sudah aku sampaikan saat kita janjian makan malam di luar kemarin. Kami mulai belajar mengenal satu sama lain. Mengatakan harapan dan keinginan masing masing. Dan Alhamdulillah Safitri menyambut keinginanku itu dengan antusias, bahkan terlihat matanya berbinar bahagia.
Dia bilang, kalau sebenarnya sudah mempunyai keinginan itu sejak lama, tapi pekerjaannya tidak mendukungnya untuk berpenampilan syar'i, meskipun dibolehkan memakai hijab, tapi harus dengan gaya yang kekinian.
"Jika aku memintamu keluar dari pekerjaanmu, dan kamu kerja saja di kantorku gimana? kamu bisa bantu bantu aku disana, nanti kalau kamu sudah menjadi istriku, insyaallah aku tidak akan memintamu lagi untuk bekerja. Karena aku tau saat ini kamu butuh pekerjaan untuk membantu keluargamu bukan? Dan kita juga masih dalam masa saling memperkenalkan diri masing masing." aku mengutarakan niatku untuk Safitri kerja denganku saja, dengan begitu, dia biar sambil belajar dan terbiasa dengan perubahan cara berpakaian juga kita bisa lebih saling mengenal. Mungkin aku bisa saja, memintanya langsung menjadi istriku, tapi aku tidak ingin gegabah lagi dalam hal ini, aku tidak mau mengulang kesalahan yang dulu pernah aku lakukan sama Piana. Dulu awal bertemu dan kenal dengan Piana, dia nampak baik dan lugu, hingga aku tunduk dan sekalu percaya dengan tipu muslihatnya, tapi pada akhirnya dia menampakkan sifat aslinya, yang hanya mengincar hartaku saja, bahkan sudah sengaja menipu anak yang dia kandung itu anakku, nyatanya itu anak hasil dari dia berzina dengan pacarnya. Astagfirullah, rasanya sesak karena penyesalan setiap kali mengingat itu semua.
"Iya, Mas. aku akan belajar dan mulai mengikuti apa yang Mas Alim mau, insyaallah aku percaya, Mas Alim akan membawaku ke jalan yang lebih baik." jawab Safitri merona, dan di matanya mulai nampak mendung, sepertinya dia terharu atau justru malah tertekan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semoga kita bisa saling cocok dan merasa nyaman, hingga hubungan dan niat kita bersama bisa segera dilaksanakan dalam sebuah ikatan pernikahan."
"Aamiin, Insyaallah, Mas." jawabnya bergetar dan tampak satu tetes air bening jatuh di kedua matanya.
"Kenapa kamu menangis fit? apa kamu tidak suka atau tertekan dengan ini?" tanyaku ragu, karena aku harus memastikan jika dia menerimaku atas dasar suka bukan terpaksa karena keinginan ibu dan kakak ku.
Aku menarik nafas ini dalam, mencari kejujuran akan ucapan yang Safitri lontarkan, dan aku menemukannya disana.
"Aku tidak pernah menilai orang dari harta, aku hanya berharap punya pendamping yang mau menerimaku dan anakku dengan tulus, bisa menjadi tempat ternyaman saat aku dirumah, meneduhkan dan mampu menjaga kehormatan ku sebagai seorang suami. Bukan perempuan yang pandai berfoya foya dan keluyuran tak jelas, jujur aku tidak suka dengan wanita yang seperti itu. Karena aku memiliki trauma tentang semua itu. Sebagai orang yang pernah gagal dua kali dalam pernikahan, aku harus benar benar hati hati dalam memilih calon pendamping, dan aku harap kamu bisa menjadi pendampingku dan menerimaku apa adanya." panjang lebar aku menjelaskan harapanku padanya, dan nampak Safitri mencerna ucapanku, seulas senyum tipis tercetak di bibirnya.
__ADS_1
"Insyaallah, Mas. Bantu aku untuk bisa menjadi istri yang baik untukmu kelak. Bismillah." ucapnya lembut dengan sorot mata yang menatapku sayu.
Sejak kami memutuskan untuk menjalin hubungan, aku dan Safitri mulai sering berkirim pesan untuk bertukar kabar, kami mulai bicara banyak hal tentang masa depan dan aku pun mulai belajar meninggalkan angan tentang mantan istriku.
Hari ini aku sudah punya janji dengan Alma putriku, melihatnya ikut lomba lari di sekolahnya, dan aku juga berencana untuk mengenalkan Alma pada safitri nanti setelah acara disekolah Alma selesai, aku yakin Alma pasti senang dan Rihana pasti memberinya ijin.
Saat aku baru datang di sekolahnya Alma, anakku itu langsung berlari menghampiriku dengan riang, terlihat dia sangat bahagia aku bisa hadir untuk melihatnya lomba lari, semoga ini menjadi motifasi untuk anakku, agar lebih semangat lagi dalam menjalani hobinya. Alma mengantarkan aku menuju tempat yang sudah dibuatkan kusus untuk kami wali murid yang hadir, dan ternyata Rihana sudah duduk dengan anggun di salah satu kursi yang ada, Rihana nampak sedang berbincang dengan salah satu gurunya Alma.
jujur, hatiku kembali berdetak, melihat mantan istri yang semakin hari semakin terlihat cantik, penampilannya begitu anggun, gamis warna hitam dan hijab lebar dengan warna senada membuatnya semakin terlihat cantik dan anggun. Tapi sekuat hati aku berusaha menepis perasan gundah yang hadir mengusik hati ini. Bersikap biasa saja dan mulai sedikit menjaga jarak, hanya sekedar menyapa lalu mengambil tempat duduk agak jauh darinya, karena Rihana bilang, kalau sebentar lagi Dimas suaminya juga akan datang melihat Alma yang mengikuti lomba lari, aku tidak ingin ada salah paham, karena bagaimanapun aku dan Rihana pernah ada hubungan, apa lagi hatiku masih menyimpan. harapan untuk bisa bersama, tentu sebagai laki laki, aku bisa merasakan kecemburuan di mata Dimas tiap melihatku dengan Rihana. Aku sudah bukan lagi Alim yang dulu, yang hanya mementingkan diriku sendiri, selalu berusaha mendapatkan apa yang aku ingin dengan menghalalkan segala cara, tapi justru semua itu menghancurkan diriku sendiri pada akhirnya. Sekarang aku sudah berubah, mulai memahami bagaimana menghargai orang lain, bagaimana menempatkan diri di tempat orang lain, agar tidak lagi berbuat sesukaku. Alma adalah tujuan utamaku berubah, anak gadisku itu sudah bisa merubah segalanya pada diriku, pasti nya perubahan untuk menjadi lebih baik. Semoga saja, aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku dan menjadi contoh serta pelindung untuknya hingga nanti dia menemukan seseorang yang pantas menjadi pendamping nya.
__ADS_1