
"Kamu benar, mama akan menghubungi pak Andi kalau begitu, dan besok sebelum subuh kita harus berangkat, biasanya papamu akan sampai disana jam sembilan pagi, saat para pekerja mulai menguras kolam dan menghitung hasilnya."
"Baiklah Ma, kita akan datang lebih pagi dari papa. Kita beri kejutan papa disana, oke mama? you strong mom, love you." Fajar mengusap bahu sang mama lembut, berusaha memberi kekuatan agar mamanya tetap kuat menghadapi masalah rumah tangganya dengan sang papa.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Melati sudah sampai lebih dulu di tambak dan langsung menuju gubuk kecil yang terbuat dari triplek, tempat para pengawas dan pekerja istirahat, dari kejauhan Melati menatap ke arah orang orang yang sedang bekerja menguras kolam dan mulai menimbangnya. Terlihat Fajar sudah ada diantara mereka, ikut mengawasi dan belajar. Karena Melati memintanya untuk mengambil urusan tambak setelah hari ini.
"Aku sudah memberikan kepercayaan penuh padamu, Mas. Tapi kamu sudah menyia-nyiakan kepercayaan ini dengan penghianatan. Sekarang rasakan akibatnya, aku juga ingin tau, seperti apa kamu tanpa uang dari Melati. Untung aku tidak bertindak ceroboh, selama ini masih membiarkan semua aset peninggalan almarhum papa tetap atas namanya, agar nanti saat ada pembagian harta gono-gini, kamu tidak bisa menikmati sepeserpun apa yang memang bukan milikmu. Mungkin kamu pikir selama ini aku lemah, karena selalu mengandalkan dirimu, itu kulakukan karena aku menghargai kamu, agar harga dirimu sebagai pemimpin dalam rumah tangga kita tidak di pandang rendah, tapi justru rasa sakit yang kamu torehkan, sekarang kamu akan melihat siapa Melati yang dulu." Melati bergumam sendirian sambil menatap kosong ke depan, ada rasa perih yang menyergap ulu hatinya, penghianatan yang dilakukan suaminya telah melukai jiwa juga hidupnya, hingga sudah tidak ada lagi kata maaf dan kesempatan untuk Rudi sampai kapanpun, meskipun Melati terkesan lebih memilih diam oleh kata kata, tapi Melati sudah membalaskan sakit hatinya dengan langsung bertindak tegas, karena Melati tau, siapa Rudi tanpa sokongan darinya.
Dalam lamunannya Melati menangkap kedatangan mobil yang tidak tau siapa di dalamnya, karena mobil itu tampak asing di matanya, belum pernah Melati jumpai, tapi saat pemiliknya mulai keluar dan benar benar memunculkan dirinya, Sungguh Melati dibuat tak percaya, Seorang Rudi yang selama ini dikenal dengan kekayaan dan kemewahannya, dalam sekejap sudah berubah hanya karena pembalasan seorang Melati, istri yang selalu dipandangnya lemah. Avanza hitam keluaran 2010, sangat tidak sepadan dengan Pajero yang Melati berikan.
"Kemana mobil Mas Rudi? kenapa dia membawa mobil lain yang bukan menjadi seleranya? apakah dia sudah menjualnya, karena sangat membutuhkan uang? kalau memang benar, keterlaluan kamu, Mas. Mobil itu aku yang membelinya, tapi dengan tanpa rasa bersalah kamu sudah menjualnya, dasar licik!" geram melati yang menatap tajam penuh kebencian ke arah laki laki yang terlihat mematung mengetahui keberadaan Melati dan juga Fajar.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
POV Rudi
Sebenarnya, aku ingin menemani istri mudaku ke acara pernikahan temannya, kasihan dia, karena kemana mana selalu naik taksi atau ojek. Tapi aku sudah punya janji sama salah satu temanku untuk melihat mobilku, Ya. Aku menjual mobil pemberian Melati, karena biar nanti tidak masuk dalam hitungan harta gono-gini, lagian aku juga butuh uang untuk bertahan hidup, mengandalkan uang gajiku saja mana cukup, apalagi sekarang aku harus memikirkan cicilan rumah yang baru saja aku ambil untuk menuju keinginan istri mudaku. Belum lagi aku harus mencukupi kebutuhan dapur ibuku dan biaya kuliah adikku, aah kenapa hidupku jadi sulit begini. Dasar Melati saja yang terlalu membesarkan masalah, harusnya dia itu sadar, kalau dirinya sudah tidak bisa melayaniku dengan utuh, bukan malah bersikap sok tersakiti. Dasar perempuan egois dan tidak punya hati, karena perbuatannya itu, aku jadi mumet dan kelabakan begini, belum lagi, teman temanku sudah banyak yang bertanya, tentang perubahan gaya hidupku yang di nilainya irit dan mulai bangkrut. Ah sialan! benar-benar sial!
Mobil Pajero sekarang aku ganti dengan yang biasa, aku menukarnya dengan Avanza hitam milik temanku, dan uang lebihnya masih lumayan banyak, aku bisa membelikan mobil kecil sekelas Brio tapi yang second untuk Piana, dan sisanya biarlah masuk dalam rekening, untuk pegangan jika sewaktu waktu ada keperluan yang mendesak.
Setelah urusan mobil selesai, dengan kecepatan tinggi, aku langsung menuju ke sorum untuk membeli mobil buat di pakai Piana istri cantikku yang seksi, pasti dia akan bersorak senang karena sudah tidak lagi repot kalau mau kemana mana.
"Iya, yang penting bisa jalan." jawabku acuh dan terus melangkah memasuki rumah, nampak Piana terus mengikuti langkahku dan terus bicara yang membuat telinga ini sakit. "sebentar lagi mobil untukmu sampai, tunggu saja diluar, kamu pasti senang." balasku tenang, dan benar saja dia langsung memekik kesenangan bahkan memelukku erat dari belakang dengan kata rayuan yang seperti biasa dia lontarkan kalau aku bisa menyenangkan hatinya. Dasar perempuan!
Semalaman Piana melayaniku dengan penuh gelora, dia selalu bisa membuatku senang dan puas, itulah yang aku suka darinya, pandai menyenangkan hati suami dan tau caranya berterimakasih saat aku memberinya barang barang mewah. Meskipun sebenarnya aku malas bangun, tapi aku harus bangun, karena harus segera berangkat ke tambak, hari ini akan ada kolam yang di panen, aku bisa dapat uang banyak lagi dari sana, karena aku yakin, untuk urusan tambak Melati tidak tau apa apa, dia tidak akan tau kalau ada ikan yang hari ini akan dipanen, selama ini tambak aku yang urus, Melati bahkan tidak pernah tau berapa hasil dan segala ***** bengeknya.
__ADS_1
"Sayang, aku mau pergi ke tambak, tolong buatkan aku kopi dan sarapan." aku membangunkan Piana yang masih tertidur pulas di bawah selimut tebalnya, kalau saja tidak buru buru harus ke tambak, mungkin aku sudah memintanya lagi, melihatnya polos seperti itu, selalu membuatku gemetar dan aah.
"Masih pagi Mas, aku ngantuk." balasnya dengan masih menutup matanya.
"Aku harus segera berangkat sayang, ada ikan yang di panen hari ini, nanti aku akan memberikanmu perhiasan setelah pulang dari tambak, dan kita belanja semua yang kamu butuhkan, ayolah."
Sekali lagi aku mencoba membangunkannya. Dan mendengar belanja juga perhiasan matanya langsung terbuka lebar.
"Benar, Mas? baiklah aku akan segera membuatkan sarapan untukmu, mas mandi gih, biar cepat berangkat." balasnya semangat dan aku hanya bisa geleng kepala dengan tingkahnya itu, dasar wanita!
Pukul sepuluh pagi, aku menginjakan kaki di tambak, sudah terlihat para pekerja mulai melakukan pekerjaannya, bahkan sudah mulai menimbang ikan ikannya.
Tapi bukankah itu Melati dan juga Fajar, kenapa mereka bisa ada disini?
__ADS_1
Aah benar benar sialan! sepertinya aku kalah langkah dari mereka. Sial!
Mau tidak mau, aku harus bersikap baik dan pura pura memelas di hadapan wanita itu, karena cuma ini caraku mendapatkan uangnya, benar benar sialan!