Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Sama sama salah


__ADS_3

Rihana terpaku, bibirnya Kelu menatap bergantian antara suaminya dan kedua perempuan yang tersenyum melihatnya.


"Maafkan aku, Mas! aku sudah menuduh kamu yang tidak tidak. Sekali lagi maafkan aku ya!" ucap Rihana pada akhirnya, dan dibalas pelukan hangat oleh suaminya.


"Gak papa, Insyaallah aku ridho, dan memakluminya. Sekarang sudah yakin kan, kalau aku tidak akan pernah memasukkan wanita manapun di hidupku selain kamu, istriku, anak anakku dan orang tuaku. Percayalah!"


Dimas mengecup kening istrinya sayang dan mengucapkan banyak terimakasih pada Bu Endang dan Reni, dan Rihana juga menyampaikan permintaan maafnya karena sudah berburuk sangka pada Reni, tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dahulu.


"Maafkan saya, Bu! Mbak Reni!


Maaf, saya sudah mempunyai pikiran buruk sama mbak!" ucap Rihana menyesal dan dibalas senyuman hangat oleh Reni dan ibunya.


"Owh iya, ibu pindah di komplek daerah sini juga, dimana?" balas Dimas menimpali dan mencoba mencairkan suasana dengan beramah tamah dengan keluarga tantenya.


"Panjang ceritanya, ibu saja kalau ingat sesak dada ini, suka sedih saja dan merasa bersalah sama Melati, tapi ibu ini bisa apa?" sahut Bu Endang dengan wajah yang berubah murung, bahkan di kedua matanya sudah tampak mendung. Reni mengusap lembut bahu ibunya, memberi kekuatan agar wanita yang begitu ia cintai tidak lagi bersedih karena ulah kakaknya.


"Maaf sebelumnya, apakah ibu sedang ada masalah dengan Tante Melati?" balas Dimas penasaran. Rihana memilih diam, menyimak pembicaraan antara suami dan keluarga dari tantenya.

__ADS_1


"Kami sekarang tinggal dirumah sebelah, Mas. Ikut tinggal di rumah istri mudanya Mas Rudi, karena kami tidak punya pilihan lagi, rumah yang kami tempati itu milik mbak Melati, kami hanya menumpang saja. Dan sekarang hubungan rumah tangga antara mbak Melati dan Mas Rudi sedang tidak baik-baik saja, juga rumah itu sudah diminta kembali oleh Mbak Melati, jadi mau tidak mau, saya dan ibu ikut tinggal dengan Mas Rudi di sini, jarak tiga rumah dari rumahnya Mas Dimas." sahut Reni menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tanpa sedikitpun ada yang di tutupi.


"Semua yang terjadi semua salah kakak saya, yang tidak pernah bersyukur memiliki istri sebaik dan penurut seperti mbak Melati, justru lebih memilih perempuan yang, ah tak perlu saya sebutkan, karena dia gak pantas untuk diceritakan, terlalu memalukan." sambung Reni yang sedikit emosi saat berkaitan dengan Piana.


"Apa wanita itu, namanya Piana?" Rihana ikut menimpali setelah mendengar penuturan Reni, dan langsung teringat dengan kedatangan Piana waktu itu, memberitahu kalau dia sudah menjadi tetangga barunya Rihana.


"Kok mbak tau, mbak kenal dengan Piana?" balas Reni penasaran, pun dengan Bu Endang yang juga langsung ikut mengalihkan pandangannya pada Rihana.


"Iya, saya kenal dan sangat tau perempuan itu. Dia yang sudah merusak rumah tangga saya dulu, dengan suami pertama saya. Bahkan beberapa hari yang lalu dia sempat kesini, memberitahu kepindahannya di komplek ini, Entahlah, saya punya feeling gak enak dengan niatnya itu, tapi saya takut justru akan menjadi fitnah.


"Astagfirullah.' Bu Endang dan Reni mengucap istighfar berbarengan, benar benar tidak percaya dengan kenyataan yang sudah di dengar.


"Jadi Tante Melati sudah berpisah dengan suaminya?" Dimas ikut menyahuti setelah hanya diam menyimak. Kecewa, tapi mau bicara apa, itu urusan rumah tangga tantenya. Namun Dimas akan berencana menemui tantenya dan langsung bertanya soal kebenaran berita yang ia dengar, apalagi perempuan yang menjadi duri dalam rumah tangga tantenya, adalah perempuan yang sama, yang merusak rumah tangga Rihana dengan mantan suaminya dulu, Alim.


"Iya, katanya begitu, saya juga baru dengar dari Rudi, kalau Melati sudah mengajukan gugatan ke pengadilan. Tapi saya sadar, apa yang terjadi adalah kesalahan anak saya, yang tidak bisa mengendalikan dirinya dari nafsu yang akhirnya menghancurkan masa depannya.


Apalagi, wanita yang dia nikahi, sungguh bukan wanita baik baik, sesak rasanya dada ibu.

__ADS_1


Saat ini ibu hanya bisa berdoa, semoga Rudi segera tersadar dari kesalahannya yang sudah tergoda dengan rayuannya wanita ****** itu."


Bu Endang menangis sesenggukan, terlihat jelas gurat kecewa dan kesedihan seorang ibu akan kelakuan anaknya, Dimas maupun Rihana hanya bisa bungkam dengan pikiran yang tak menentu, tak ingin banyak ikut campur, apalagi masalah rumah tangga orang lain, mendengarkan dan diam adalah pilihan yang tepat saat ini, meskipun hatinya ikut sedih melihat kesedihan seorang ibu.


"Ibu yang sabar, banyak banyak berdoa. Minta pada Alloh, semoga putra ibu segera bertaubat dan menyadari kesalahannya." balas Rihana lirih dan ikut prihatin dengan apa yang terjadi, sedangkan Dimas memilih tetap diam, meskipun hatinya sangat kecewa dengan sikapnya Rudi yang sudah tega menyakiti dan mengkhianati tantenya.


"Kalau begitu, kami mohon pamit dulu ya, karena sebentar lagi, Rudi akan pulang dari kerjanya. Karena akan ada hal penting yang ingin kami sampaikan pada dia, semoga dengan bukti yang ada, bisa membuat Rudi sadar, sudah salah memilih pendamping." Bu Endang menghembuskan nafasnya dalam, matanya yang sedari tadi berkabut mulai menjatuhkan leleh bening yang membasahi wajahnya yang mulai keriput.


"Maaf, Bu. Kalau boleh saya tau, bukti? bukti apa yang ibu maksud?"


Dimas memberanikan diri untuk bertanya pada Bu Endang tentang perkataannya barusan yang menyebut soal bukti, kalimat yang membuat Dimas penasaran. Lantaran baginya itu menyangkut rumah tangga tantenya.


"Ibu memergoki perempuan itu berbuat hal tidak senonoh di dalam kamarnya, dia melakukan itu dengan laki laki di ponselnya, Video call tanpa memakai sehelai baju pun, dan... saya rasa Mas Raihan sudah paham maksud saya. Ibu merekamnya diam diam, dan akan kami perlihatkan pada Mas Rudi setelah ini, semoga saja Mas Rudi sadar dan melepaskan perempuan itu, jujur saya, ibu juga kakak laki laki saya yang satunya, sama sekali tidak menyukai wanita itu, kami hanya terpaksa karena tidak punya pilihan lain, selain mengiyakan apa yang dikatakan Mas Rudi, karena hidup kami selama ini bergantung padanya." Tanpa diminta, Reni menjabarkan semuanya tanpa ada yang ia tutupi. Semua sudah terlanjur, tidak perlu lagi ditutupi. Pikir gadis itu.


Rihana terpaku hingga tak lagi mampu mengucapkan satu kalimat pun, Tak menyangka kalau Piana ternyata bisa berbuat serendah itu.


Sedangkan Dimas tak lagi kaget, karena dari pertemuannya yang hanya beberapa kali dengan Piana, Dimas sudah menilai seperti apa perempuan itu, itulah kenapa, sedikitpun Dimas tidak ingin meresponnya, melihatnya pun enggan.

__ADS_1


"Mbak Rihana, lebih baik tidak usah dekat dekat dengan dia, takutnya dia memiliki tujuan buruk sama keluarga mbak." sambung Reni memperingati, karena dia sudah sangat geram dengan ulah Piana, perempuan perusak rumah tangga orang lain, meskipun Reni sadar kalau kakaknya juga salah, karena hubungan itu tidak akan terjadi kalau Rudi tidak menanggapi. Intinya mereka sama sama salah.


__ADS_2