Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Rencana Melati dan anak anaknya


__ADS_3

"Baiklah, kita lihat. Apa dia akan tetap bertahan dengan papamu setelah mama mencabut akses keuangan ke rekening papa. Mama gak rela, jika uang mama di buat memanjakan perempuan itu. Mama sudah mengambil alih keuangan di semua usaha kita."


"Bagus, Ma. Kita harus segera bertindak sebelum perempuan itu merongrong papa lebih jauh lagi."


Melati dan ayu saling bertatapan dengan wajah datar, kedua wanita yang memiliki sikap tegas itu benar benar sudah dibuat geram dengan sikap Rudi yang sudah dengan berani menikahi wanita seperti Piana.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Baiklah, aku akan pulang dulu. Besok kita lihat rumah yang kamu mau, Kamu siap siap saja, jam sepuluh pagi aku akan kesini menjemputmu." Rudi memberikan beberapa lembar merah pada Piana dengan jumlah hampir lima juta, dengan sumringah Piana menerima uang itu sambil bergelayut manja pada sang suami. "Iya, Mas. Terimakasih ya. Aku sudah gak sabar segera pindah ke rumah baru." balas Piana manja dan penuh harap. "Iya, sebentar lagi kamu akan pindah kerumah baru kita. Sabar dulu ya." Balas Rudi penuh kasih, lelaki itu benar benar mencintai istri sirinya, hingga apa yang di inginkan Piana segera mungkin akan di penuhi, tak perduli jika harus menghabiskan uang istri tuanya.


Rudi melangkah pergi, meninggalkan Piana yang tengah bahagia, membayangkan rumah mewah yang akan dimilikinya, dan juga agar segera bisa melancarkan niatnya untuk mendekati Dimas, suaminya Rihana.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Rudi menuju ke salah satu toko bangunan milik istrinya, yang sudah beberapa bulan terakhir ini dia yang sudah memegang kendali keuangannya, niatnya ingin mengambil uang untuk memenuhi keinginan istri mudanya. Toko bangunan milik Melati memang sangat besar dan mempunyai omset yang fantastis, wajar kalau Rudi lebih sering mengunjunginya dan mengambil uang seenaknya, toh selama ini Melati tidak pernah protes.


Saat kakinya mulai memasuki toko, semua karyawan memberi hormat dan segan terhadapnya, kakinya terus melangkah menuju ke ruang kerja milik Melati, dan ternyata di dalam sudah ada Riko dan Fajar yang sedang duduk menghadap laptop. "Kenapa mereka ada disini, sejak kapan mereka ikut campur urusan disini?" Batin Rudi bertanya tanya, karena selama ini kedua anak lelakinya tidak pernah mengurusi toko ini, Fajar sibuk dengan kuliah dan geng montornya, sedangkan Riko sibuk dengan toko bangunan yang ada di cabang lain. Rudi menatap heran dengan pandangan menelisik ke arah anak anaknya yang sedikitpun tidak perduli dengan kehadirannya.


"Kok tumben, kalian ada disini?" sapa Rudi pada anak anaknya yang langsung menatap datar ke arahnya. "Owh papa! Papa juga kenapa ada disini? memang papa gak kerja?" balas Fajar menatap penuh selidik pada Rudi yang langsung salah tingkah. "Em, papa tadi niat mampir saja, mau cek keadaan disini, sebelum berangkat ke kantor." Rudi beralasan agar kedua anaknya tidak curiga dengan niatnya yang akan mengambil uang hasil toko.


"Kok, kalian ada disini, tumben." sekali lagi Rudi mengulangi pertanyaannya yang tadi belum di jawab. "Mama yang menyuruh kami kemari, Fajar akan mengambil alih urusan toko disini atas keinginan mama dan aku sedang memberi arahan dan petunjuk, agar Fajar paham apa aja tugasnya disini." Sahut Riko tenang, dan tetap memasang wajah datarnya. Meskipun di hati Riko dan Fajar sangat kesal dengan perbuatan papanya, tapi sebisa mungkin mereka menahannya, karena bagaimanapun Rudi adalah orang tua yang baik selama ini, tidak pernah kasar dan penuh perhatian pada semua anaknya, hanya perlu diluruskan saja karena saat ini papanya sedang hilaf, itu yang kini sedang ada di dalam pikiran anak anaknya.


"Bukankah Fajar masih sibuk sama kuliahnya, apa tidak keteteran kalau harus ngurus toko segala, biar fokus dulu saja sama kuliahnya, biar nanti papa yang akan bicara sama mama kalian." balas Rudi sedikit geram dengan memasang wajah tak suka.


"Pa, ini sudah jam berapa? kenapa papa gak pergi ke kantor?" sahut Riko yang memang sengaja membuat papanya segera pergi, karena mama dan kakaknya akan segera datang untuk menyusun rencana menghancurkan hubungan Rudi dan Piana.


"Iya, sebentar lagi. Papa kesini cuma mau ngecek toko saja, tapi sudah ada kalian. Yasudah papa kembali ke kantor dulu. Ingat kamu Fajar, fokus saja sana kuliah kamu dulu." Rudi langsung bertolak meninggalkan ruangan dan tergesa menuju kasir buat mengambil uang hasil toko.

__ADS_1


"Ratna, tolong berikan semua uang yang ada di laci." perintah Rudi pongah sambil kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya.


"Maaf pak, kemarin ibu Melati sudah berpesan kalau tidak boleh ada yang mengambil uang toko tanpa seijin dari beliau." sahut Ratna tegas meskipun hatinya ketar ketir kalau kalau Rudi akan marah dan memukulnya.


"Kamu tau kan aku siapa, aku suami dari Melati, jadi sama saja. Cepat berikan uangnya, aku tidak punya waktu banyak." Rudi mulai kesal karena Ratna tak kunjung menuruti keinginannya. "Tapi, Pak. saya gak berani, nanti Bu Melati marah." jawab Ratna tegas menolak perintah Rudi dan membuat Rudi semakin geram saja. "Apa kamu mau aku pecat sekarang juga, hah! cepat berikan uangnya!" Rudi sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya, merasa tidak dihargai sebagai suami pemilik toko.


"Ada apa, Pa? Kenapa papa marah marah sama Ratna?" tiba tiba suara Riko mengagetkan Rudi, Riko dan Fajar sudah menduga kalau papanya akan melakukan ini. "Ratna sudah lancang berani melawanku." sahut Rudi yang masih dikuasai emosi. "Lancang, maksudnya?" balas Fajar santai sambil terus menatap papanya yang mengepalkan kedua tangannya. "Ratna, apa yang terjadi? kenapa papaku bisa semarah ini?" tanya Riko dengan masih memasang wajah datarnya.


"Itu, pak. Emm Pak Rudi mau meminta semua uang yang di laci, tapi saya gak berani, karena kemarin Bu Melati sudah berpesan untuk tidak menyerahkan uang pada siapapun tanpa persetujuan beliau lebih dulu." balas Ratna jujur dan masih dengan sikapnya yang tegas.


"Owh, tapi kenapa papa memaksa? bukankah Ratna sudah mengatakan alasannya, harusnya papa mengerti posisi Ratna yang hanya ingin mematuhi aturan atasannya, yaitu Mama." Rudi memberi penekanan dalam setiap kalimatnya, agar papanya mengerti dan menyadari posisinya.


"Aah, awas saja kalian. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini." Rudi bertolak pergi meninggalkan toko dengan membawa amarah, tapi hanya ditanggapi senyuman kecil dan gelengan kepala oleh anaknya.

__ADS_1


Tak lama setelah kepergian Rudi, Melati dan Ayu datang memasuki toko dan langsung menemui kedua anak lelakinya di ruangan kerjanya.


__ADS_2