
"Kita sudah sampai, Mas! itu tempatnya.
Strategis kan?" Beni menunjuk ruko dengan lantai dua dan terlihat agak luas, cocok buat buka usaha bengkelnya, selain strategis, lahannya juga memilki halaman yang luas, jadi bisa menampung beberapa motor nantinya.
Tapi ada yang membuat Rudi gak nyaman, keberadaan toko bangunan yang ada tak jauh dari tempat itu.
"Mas! ada apa?
Mas Rudi gak suka sama tempatnya?" tanya Beni menyelidik dan terlihat Rudi seperti ragu.
"Apa tidak ada tempat lain selain disini, Ben?" sahut Rudi dengan tatapan mengarah ke depan.
"Aku tau, pasti mas Rudi sedang kepikiran dan merasa gak nyaman, karena berdekatan dengan salah satu toko bangunan milik mbak Melati kan?"
Rudi hanya mengangguk malas, tatapan matanya masih fokus ke depan dengan kepala di sender kan di bahu kursi.
"Ini bisnis, Mas. Tempat ini sangat strategis, dan harga sewanya juga sangat murah, karena yang punya sahabat baikku. Dan ini juga dekat dengan kampusku, aku pastikan, akan banyak temanku yang akan membawa montornya kesini, kalau tau aku yang membuka bengkel.
Sudah, yakin dan percaya sama aku. Lagian yang mengurus toko itu sekarang kan, Riko, bukan mbk Melati.
Ayo temanku sudah menunggu di dalam."
__ADS_1
Beni berusaha memberi keyakinan kakaknya, karena menurutnya ini kesempatan yang bagus untuk membuka usaha, dengan awal yang baik. Dapat tempat strategis dan harga murah dibawah pasaran.
Tidak menyanggah lagi, Rudi turun dari mobil mengikuti langkah adiknya, menemui pemilik ruko yang katanya masih temannya Beni. Memantapkan niat seperti yang dibilang adiknya, Ini bisnis jadi fokus saja dengan usaha yang akan dirintis, lagi pula Riko adalah anaknya, yang gak akan mungkin memusuhinya meskipun kecewa dengan perbuatannya yang sudah membuat mamanya kecewa.
Harga sewa sudah disepakati, Rudi dan Beni akan mulai mencari barang barang yang akan dibutuhkan, dan Rudi menyerahkan semuanya pada adiknya, lebih tepatnya memberi modal agar adiknya bisa mengelola usaha yang sudah dipercayakan padanya. Rudi sangat yakin, adiknya mampu dan akan sukses.
"Seratus enam puluh juta, sudah Mas transfer ke rekening kamu ya! jangan kecewakan kepercayaan yang Mas berikan ini. Mas yakin kamu akan sukses." Rudi sudah mentransfer modal sebesar seratus enam puluh juta pada adiknya, dan Beni sangat bersyukur dan berterimakasih dengan kepercayaan yang kakaknya berikan, Beni sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat usahanya sukses dan bisa membahagiakan ibu juga membuat kakaknya bangga.
"Iya, Mas. Terimakasih banyak. Insyaallah Beni akan lakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Mas Rudi beri untuk Beni. Doakan Beni!" Balas Beni terharu.
"Mas tidak ingin bertemu sama Riko? itu mobilnya ada di depan, dia pasti sudah ada di dalam." sambung Beni berusaha untuk mengembalikan hubungan kakaknya dengan keluarganya membaik.
Rudi menjawab pertanyaan adiknya dingin, hatinya merasakan perih karena merasa tak lagi di butuhkan dan dianggap oleh anak anaknya.
"Kata siapa? papa tetap papa terbaik buatku juga buat anak papa yang lain. Kami rindu dengan papa yang dulu." tiba tiba Riko muncul dan menyahut obrolan Rudi dengan Beni.
Tadi saat akan meluncur ke lokasi, Beni sengaja menghubungi Riko terlebih dulu, mengabarkan niatnya dan sudah cerita kalau mau bikin usaha di dekat tokonya, Riko menyambutnya dengan baik dan berencana menemui papanya, apa lagi Riko sudah mendengar semua dari Beni soal huru hara hubungan papa nya dengan wanita simpanannya.
Riko pun juga langsung mengabarkan pada adik juga kakak perempuannya. Sekarang mereka sedang ada dalam perjalanan, berniat akan mengajak papanya untuk makan siang bersama, melepas rindu dan menjalin hubungan baik antara ayah dan anak.
Rudi menoleh ke arah suara, dan nampak Riko tersenyum penuh haru dengan kedua tangannya direntangkan untuk memeluk sang ayah. Keharuan tiba tiba menyelimuti mereka. Rudi tidak bisa menahan tangisnya, merindukan kehangatan keluarga seperti dulu, anak anaknya sudah besar dan semakin dewasa juga matang dalam berpikir, Rudi bangga dengan Riko yang sudah bisa berpikir dengan bijak dan masih tetap menghormatinya, terlepas dari semua perbuatannya.
__ADS_1
"Maafkan papa, nak. Maafkan!" Isak Rudi di pelukan anaknya.
Riko mengusap bahu ayahnya dan mengangguk haru, lega karena sang ayah sudah bisa menyadari kesalahannya, dan semoga kembali menjadi orang tua yang bisa memberi contoh baik pada anak anaknya dengan wibawa dan cintanya, meskipun papa dan mamanya telah berpisah. Riko berharap, mereka masih menyambung hubungan baik agar tidak kehilangan sosok ayah maupun ibu.
"Papa!" Ayu muncul dengan lelehan air mata di pipinya, terharu juga senang dengan kabar yang diterimanya, papa yang dia hormati dan sayangi, sudah kembali, dan berpisah dari perempuan selingkuhannya.
"Ayu! Fajar!
Kalian?" tunjuk Rudi ke arah anaknya satu persatu, Ayu dan Fajar langsung berhamburan memeluk rindu ayahnya. Rudi merentangkan kedua tangannya menyambut kedua anaknya yang lain. Bahagia dan lega. Inilah yang Rudi rasakan saat ini, pun dengan Beni, melihat kakaknya kembali rukun dengan anak anaknya juga ikut merasa bahagia.
"Kalian semua kok tau, kalau papa ada disini?
Atau jangan jangan ini ulah kamu, Ben?" Rudi menatap penuh selidik pada adiknya yang tersenyum lebar dan menggaruk tengkuknya, salah tingkah.
"Iya, Om Beni yang kasih tau, kalau papa akan datang kesini, dan om Beni juga sudah cerita kalau papa sudah mengusir perempuan itu. Kami bangga sama papa, kami ingin papa seperti dulu. Papa minta maaf ke mama ya!" bujuk Ayu pada papanya yang seolah masih enggan menuruti keinginannya.
"Jangan paksa papa bertemu mama kalian, papa masih belum siap dan papa masih kecewa dengan mama kalian. Tolong pahami papa ya, papa minta maaf sudah membuat kalian kecewa." balas Rudi tenang dan menatap anaknya satu persatu yang pasrah dengan keputusan papa nya.
"Yasudah, tapi nanti kalau papa sudah siap. Temuin mama ya, meskipun kalian memutuskan berpisah, kami ingin kita tetap berhubungan baik dan tidak ada istilah bermusuhan di keluarga kita. Fajar sangat berharap itu ke papa. Kami semua sayang papa juga mama. Kami tidak ingin kehilangan sosok kalian dalam hidup kami. Meskipun kita sudah dewasa, kita tetap butuh sosok papa dan mama." sahut Fajar dengan sorot mata sedih. Berharap hubungan renggang keluarganya, kembali seperti dulu, hangat dan penuh kasih sayang.
Rudi mengangguk, dan memeluk anak lelakinya yang paling kecil, meskipun terlihat paling pendiam dan cuek, Fajar itu manja dan perasa. Usia dewasa tidak menjadikan seorang anak hilang sifat manjanya kepada orang tuanya. Karena sampai kapanpun orang tua adalah tempat ternyaman untuk mereka bersandar dan bermanja.
__ADS_1