Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
26


__ADS_3

Restu kedua orang tua Dimas, membuat Rihana bernafas lega, dan kini memikirkan bagaimana membicarakan pernikahannya pada gadis kecilnya.


bagaimanapun hati dan kebahagiaan anaknya lah yang utama buat Rihana.


Sepulang dari rumah Dimas, seperti biasa,


Rihana selalu menyempatkan waktu untuk bersama anaknya.


menemaninya belajar, menemani nonton televisi, dan saling bercerita hal hal kecil dan dari hal hal kecil itulah kedekatan ibu dan anak selalu terjalin harmonis dan rasa saling mengasihi tumbuh dengan kuat, bagi Rihana, Alma adalah nyawa keduanya, kebahagiaannya dan semangatnya untuk menjalani suka duka di kehidupan ini.


dia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan dan masa depan putrinya.


"Alma, ada yang ingin bunda sampaikan."


Rihana memegang lembut dan menggenggam kedua tangan anaknya, Alma menoleh ke arah sang bunda sambil mengernyitkan dahi dan tersenyum lantas menganggukkan kepala, aaah manis sekali gadisku.


"Bunda mau ngomong apa?"


Rihana diam sejenak, mencari kalimat yang pas untuk anak seusia putrinya.


"Begini sayang.


Rihana bingung bagaimana menyampaikan maksudnya pada anak semata wayangnya, dia takut jika akan melukai hatinya, namun ia juga harus menyampaikan dan meminta persetujuan gadis kecilnya, karena ini juga menyangkut hati dan kebahagiaan putrinya.


"Alma, tau om Dimas kan?


Gimana pandangan Alma tentang om Dimas?"


Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibir Rihana setelah sekian menit terdiam mencari kalimat yang cocok untuk putrinya.


"Om Dimas?"


Hmmmmm, sambil mikir dengan gaya khas anak anaknya.


"Om dimas baik bund dan juga perhatian sama Alma, Alma suka."

__ADS_1


sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih di depan bundanya.


"Hmmm, begitu yaa?


Kalau om Dimas ingin jadi ayah Alma, Alma keberatan nggak sayang?"


Rihana menggigit bibirnya cemas, takut jika Alma belum bisa menerima.


"Jadi ayahnya Alma? "


Sambil menatap bundanya dengan pandangan yang entah.


"Maksud bunda, bunda akan menikah lagi, dan nikahnya sama om Dimas?


Begitu ya bund?" balas Alma polos dan mencoba mencari tau jawaban dari kedua mata sang bunda dengan tatapan menyelidik.


Rihana terpaku, beberapa saat, terdiam membeku dengan lontaran pertanyaan dari gadisnya.


"Hmmm...


kalau mbak Alma setuju dan tidak keberatan, bunda akan menerima lamaran dari om Dimas untuk menikah, namun kalau mbak Alma tidak setuju dan tidak suka, maka bunda juga tidak akan menerima om Dimas jadi ayahnya Alma."


"Bunda berhak bahagia, dan Alma suka kok dengan om Dimas, om Dimas orang baik, tapi bunda harus janji, jika bunda akan tetap menyayangi Alma meskipun nanti bunda punya anak lagi."


Alma manatap bundanya haru.


Rihana menarik tubuh Alma dalam dekapannya, meyakinkannya jika sampai kapanpun kasih sayangnya tidak akan pernah berkurang untuk sang putri kesayangannya.


"Bund."


Alma mendongak melihat wajah sang bunda dengan masih sambil kedua tangannya memeluk pinggang bundanya.


"Iya nak, ada apa?"


"Boleh kalau Alma tidur dikamar bunda, Alma kangen tidur bareng bunda."

__ADS_1


Rihana tersenyum mengecup pucuk kepala anaknya penuh cinta.


"Boleh dong sayang, kalau begitu yuk ke kamar, sudah malam.


Kita tidur ya, dan besok harus bangun pagi pagi, dan mereka beranjak menuju kamar untuk beristirahat.


☘️☘️☘️☘️☘️


Piana merasa lega, karena apa yang diharapkan berjalan sesuai keinginannya, Alim tidak pulang malam ini dan itu tidak lagi membuatnya hawatir. bahkan piana merasa sangat senang, karena dengan tidak pulangnya Alim, bisa membuatnya leluasa menjalankan rencana yang sudah dia susun.


pagi pagi piana sudah bangun dan rapi sampai membuat heran pembantunya, karena itu tidak biasanya, Piana tidak pernah bangun pagi selama bekerja di rumah majikannya itu.


"Bik, nanti tolong jagain Zadan yaa, karena aku mau keluar sebentar, ada perlu dan satu lagi, nanti kalau mas Alim pulang dan tanya ke bibik, bilang saja aku pergi belanja keperluan dapur, lagian bahan makanan sudah nipis kan stoknya di kulkas?"


"Iya nyonya."


pembantunya hanya menjawab pasrah dan tidak ingin banyak bertanya, karena tau kalau Piana memilki sifat pemarah dan gak suka ada yang ikut campur urusannya, dari pada kena semprot dan bikin sakit hati lebih diam dan cukup mengiyakan apa yang di perintahkan nyonyanya.


"Baiklah kalau begitu aku tinggal ya bik, dan Zadan masih tidurkan? "


Piana berbalik menghadap pembantunya dengan gaya angkuhnya untuk memastikan keadaan anaknya saat ini.


"Iya nyonya, den Zadan masih tertidur, ini mau bibi buatkan susu, karena biasanya jam segini sudah waktunya bangun dan minta minum susu."


"Iya, bibi yang lebih tau kebiasaan anakku, lakukan tugas Bibi dengan baik ya, nanti kalau urusanku sudah beres, bibi aku kasih uang bonus, aku pergi dulu, jaga rumah baik baik."


Piana berlalu, ingin cepat cepat bertemu dengan sahabatnya yang mau membantunya untuk menggadaikan sertifikat rumahnya sesuai dengan jumlah yang sudah di sepakati semalam, membayangkan saja Piana sudah senyum senyum kesenangan.


☘️☘️☘️☘️


Sementara itu, Alim merasakan kepala nya berdenyut sangat sakit, di sertai perutnya mual dan badannya juga demam, saat kakaknya berusaha membangunkannya untuk sarapan, Alim masih berada dalam gulungan selimut tebalnya.


seluruh badannya menggigil, rasanya ingin muntah saja.


"Kamu kenapa Lim, sakit?

__ADS_1


Badanmu demam dan kamu keliatan pucat, tunggu sebentar biar mbak panggilkan mas Rudi untuk mengantarmu periksa ke dokter."


Alim hanya diam mendengarkan kakaknya, karena untuk membuka mata rasanya sudah tidak sanggup, kepalanya sudah mau pecah, dia hanya bisa terpejam dan menggigil dibalik selimut dengan hati nelangsa.


__ADS_2