Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Belajar menerima


__ADS_3

Pukul empat sore, mobil Alim sudah berada di depan pagar rumah Rihana, dan terlihat mobilnya Dimas maupun Rihana sudah terparkir rapi di garasi, tapi rumah nampak sepi, biasanya akan ada security yang berjaga di pos dekat pagar, tapi kenapa sepi banget, pada kemana, batin Alim.


"Aku mau antar Alma dulu, kamu disini apa mau ikut masuk?" tanya Alim ke Safitri yang dari tadi banyak diam karena sungkan. " Aku tunggu disini saja, Mas. Gak enak kalau ikut masuk." jawab Safitri sedikit gugup dan terlihat mengigit bibir bawahnya cemas. "Yasudah, aku tinggal dulu, sebentar kok." sambung Alim datar. "Tante, ini bajunya Tante, punyaku sudah aku bawa. Tante yakin gak mau ikut anterin aku ke dalam, biar aku kenalin sama bundanya aku." sambung Alma lugu dan menatap harap ke arah Safitri yang masih gugup dan canggung. "Gak sayang, nanti kapan kapan saja, Tante masih belum siap, malu." balas Safitri apa adanya, sambil tangannya terulur mengusap lembut pipi calon anak sambungnya.


"Yasudah, tapi nanti Tante harus kenalan ya sama bunda aku, bunda baik kok orangnya, pasti nanti akan senang kalau berteman sama bunda. Alma pamit ya Tante, asalamualaikum." akhirnya Alma tak lagi memaksa, mungkin Safitri memang butuh waktu, sebelum beranjak turun dari mobil, Alma terlebih dulu mencium punggung tangan calon ibu sambungnya takzim.


Safitri menatap Alim dan Alma yang melangkah masuk kedalam rumah yang terlihat mewah dari luar, di balik kaca mobil Safitri terus memperhatikan interaksi antara Alim dan mantan istrinya, terlihat Rihana bersikap biasa saja, bahkan terlihat sangat mesra dengan suaminya, tapi tidak dengan Alim, yang langsung menampakkan gurat sedih di wajahnya yang tampan. 'Aku tau, kamu masih sangat berharap dengan mantan istrimu, Mas. Tapi aku akan berusaha untuk menerima kamu apa adanya, aku yakin cinta di hatimu akan hadir untukku seiring berjalannya waktu, kalau bukan karena aku mulai merasa nyaman dan ini permintaan ibuku, mungkin aku akan memilih mundur untuk memperjuangkan hatimu yang nyata-nyata masih untuk mantan istrimu, kuatkan hati ini ya Robb .' Safitri bergumam di dalam hatinya, berusaha untuk memahami dan menerima kenyataan, meskipun tidak mudah, tapi Safitri yakin, kalau suatu saat, Alim akan benar-benar bisa menerimanya bahkan mencintainya dengan utuh. Hanya butuh bersabar dan menunggu waktu yang tepat.


Karena asik melamun tanpa sadar Alim sudah berada di dalam mobil dan memanggil manggil nama Safitri yang hanya diam membisu menatap keluar ke arah jendela. "Fit! Fitri!" Alim menaik turunkan tangannya di depan wajah Safitri yang masih asik dengan lamunannya. "Eh, iya, Mas!" sahut Safitri tergagap, malu karena ketahuan sedang melamun di hadapan calon suami.

__ADS_1


"Kamu lagi mikirin apa? kok sampai gak sadar aku sudah masuk dari tadi, di panggil juga gak respon." balas Alim penuh selidik, matanya menatap lekat ke arah wajah Safitri yang langsung berubah merona dan seketika langsung menundukkan kepalanya.


"Gak papa kok, Mas. Aku cuma merasa belum pantas saja menjadi penggantinya mbak Rihana, dia wanita yang terlihat sempurna." dengan menguatkan diri, Safitri bicara jujur, mengatakan kecemasan dan keraguan di hatinya. Alim langsung membuang pandangan ke arah depan dan terdengar membuang nafasnya dalam dengan kasar. Tangannya mencengkram kemudi, ada rasa yang bertentangan antara melepaskan atau tetap bertahan, tapi juga tak ingin egois hingga menyakiti hati perempuan lain.


"Aku gak ingin memaksamu menerima, karena aku tau, ini pasti sulit bagimu, pun juga sulit untukku. Perlu kamu tahu, aku masih belum bisa sepenuhnya bisa melupakan Rihana, cinta di hatiku untuknya masih ada, tapi aku akan terus berusaha untuk melupakannya dan belajar membuka hati untuk wanita yang benar benar tulus menerimaku. Maafkan aku Safitri, aku tidak bermaksud menyakitimu dengan memberi harapan indah, aku hanya ingin jujur dengan perasaan aku, agar kamu tau bagaimana menjalani hubungan ini, jika memang kamu benar-benar iklas dan siap, mari kita sama-sama berjuang menumbuhkan perasaan yang belum tumbuh ini, tapi tolong, jangan paksa aku, biar aku merasa nyaman dengan hubungan yang akan kita jalani, apakah kamu bersedia?" Alim menatap lekat manik mata hitam yang mulai meneteskan air bening, Alim tau, Safitri pasti terluka, karena kejujurannya yang mengatakan masih mencinta sang mantan istri.


"Terimakasih, Fit! Insyaallah, aku janji, akan memperlakukan kamu dengan baik dan aku juga akan terus berusaha untuk menerima kamu di hatiku. Aku senang, kamu sudah bisa membuat Alma nyaman, dia terlihat sangat menyukaimu. Aku harap, nanti kamu bisa menerima Alma dan memperlakukannya seperti anak kandungmu, karena aku punya banyak dosa padanya, penyesalan di hatiku masih sering menyiksaku, dulu aku sudah berbuat dzalim pada anakku sendiri hanya karena aku terpengaruh oleh wanita yang pura-pura mencintaiku, pasti kamu paham, siapa perempuan yang aku maksud."


"Iya, Mas. Insyaallah aku akan melakukan tugas dan kewajiban aku sebagai istri dengan baik, bimbing aku, Mas!"

__ADS_1


"Insyaallah." balas Alim yang tersenyum tipis dan mulai melajukan mobilnya menuju rumah Safitri.


"Mas gak turun dulu? di dalam ada ibu." Safitri bertanya pada Alim yang terlihat masih kaku dan canggung jika mereka sedang berdua. "Iya, kamu saja duluan, aku akan menyusul setelah ini." balas Alim datar dan bahkan terdengar ragu. "Baiklah." Safitri tak ingin lagi bertanya, kakinya melangkah keluar dari mobil dan menuju halaman rumahnya dengan perasaan sedikit kecewa, di pikirannya menganggap jika Alim tidak akan ikut turun, mengantarkannya masuk ke dalam rumah dan bertemu keluarganya, 'Aku tak akan berharap banyak, Mas. Mungkin kamu butuh waktu yang banyak untuk kita saling menerima.' batin Safitri sendu.


"Kok masih berdiri disitu, kenapa gak langsung masuk?" terdengar suara Alim sudah berada dekat di telinganya, Safitri terlonjak saat menoleh, ternyata, orang yang dipikirkannya sudah berdiri tegak dengan pandangan menelisik ke arahnya.


"Em, iya, Mas. Ini aku mau masuk kok." balas Safitri gugup. "Mas Alim mau ikut masuk?" sambungnya yang masih terlihat salah tingkah.


"Iya, mau bertemu sama ibu kamu, bisa di panggilkan." sahut Alim datar dan membuat Safitri langsung mengerjap tak percaya. "Bertemu sama ibu? ba ik, a ku akan panggilkan ibu. Mas, masuk saja dan tunggu di dalam." Safitri langsung melangkah masuk kedalam rumah, sebelum menemui ibunya, Safitri mempersilahkan Alim duduk di kursi ruang tamu. Rumahnya terlihat sangat sederhana, tapi itu bukan jadi soal untuk Alim, yang terpenting Safitri bisa tulus menerimanya dan Alma, dan menjadi istri yang baik untuknya, tidak hanya mengejar hartanya seperti Piana dulu.

__ADS_1


__ADS_2