Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Pernikahan Alim


__ADS_3

Menyadari kedatangan Rihana, Piana mematikan ponsel dan langsung berdiri menyambut kedatang sang tuan rumah. Terlebih ada Dimas di samping Rihana. Membuat Piana langsung memasang aksi tebar pesonanya. Merasa dirinya sudah cantik dan seksi, sehingga dengan begitu percaya diri kalau Dimas akan mudah tergoda olehnya.


"Selamat siang, Rihana. Apa kedatanganku ini mengganggu waktu kamu?" sapa Piana yang bersikap sok baik dan ramah, agar terlihat menarik di depan Dimas.


"Iya, aku tidak punya waktu banyak. Karena aku dan suamiku mau menghadiri pernikahan Mas Alim." balas Rihana dingin, terlihat wajahnya menunjukkan ketidaksukaan akan kedatangan Piana di rumahnya.


"Apa? Mas Alim menikah? Dengan siapa?" Piana langsung kaget dengan penuturan Rihana, ada rasa tidak rela, Alim menikahi wanita lain, sedangkan dirinya masih ingin kembali menjadi istrinya.


"Iya, Mas Alim menikah hari ini, tentunya dengan wanita baik baik,yang sudah pilihannya." jawab Rihana ketus dan terus menunjukkan ketidaknyamanannya karena kehadiran Piana. Bukannya mau sombong, tapi Rihana tau maksud dari kedatangan Piana yang tak lebih ingin menggoda suaminya dan mencari celah untuk bisa masuk dalam hubungan nya dengan Dimas, tapi kali ini Rihana tidak akan membiarkan itu terjadi. Rihana akan melindungi rumah tangganya dari gangguan perempuan seperti Piana.


"Syukurlah, kalau mas Alim sudah bisa move dariku, karena beberapa waktu lalu dia masih mengejar ku dan memohon untuk kembali padaku, tapi aku tolak. Laki laki seperti dia sudah tidak level bagiku." balas Piana pongah dan sengaja berbohong, agar terlihat menjadi perempuan yang di idolakan dan dikejar Dimata Dimas.


"Oh begitu ya? tapi bukannya kamu yang ngejar-ngejar Mas Alim? karena setahuku mas Alim sudah tidak mau bertemu dan berurusan denganmu, kalau benar dia masih mengejar kamu, tapi kenapa menikah dengan perempuan lain?" sindir Rihana ketus, dan itu membuat Piana makin kesal, tapi sebisa mungkin ditahannya, agar terlihat seperti wanita lembut dan baik di hadapan Dimas.


"Terserah kamu saja deh, bagaimana menilai ku. Aku kesini cuma ingin silaturahim. Karena kita sudah menjadi tetangga, sekarang aku tinggal nggak tidak jauh dari rumah kamu, berjarak tiga rumah dari sini, aku tinggal disana. Dengan tetangga bukankah harus saling mengenal. Bukan begitu, Rihana?" Piana melirik ke arah Dimas yang sedari awal memilih bungkam, meskipun sebenarnya ingin segera pergi dan menjauh dari perempuan genit seperti Piana, sejak kedatangannya, Dimas beberapa kali memergoki Piana mencuri pandang padanya, dan itu membuat Dimas merasa risih dan ilfil.


"Oh, iya selamat ya. Tapi maaf, aku tidak bisa lama-lama, harus segera berangkat ke pernikahan ayahnya Alma. Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan silahkan keluar, karena kami juga buru buru." Sambung Rihana masih dengan wajah dingin dan kakunya. Sudah muak dengan drama yang Piana mainkan.


Merasa kehadirannya tidak di hargai, Piana meradang dan menyimpan benci pada sikap yang Rihana tunjukkan. "Baiklah, aku akan pulang, dan kalau di ijinkan aku akan sering kesini, karena hanya kamu yang aku kenal di komplek sini. Aku butuh teman bicara." Tatap Piana mengiba, namun hanya sekedar pura pura, karena di dalam hatinya menyimpan rencana licik untuk menghancurkan rumah tangga Rihana.

__ADS_1


"Maaf, istriku tidak ada waktu jika hanya sekedar ngobrol yang gak penting, kalau mbak berniat mencari teman bicara, lebih baik cari orang lain saja. Karena saya tidak mengijinkan istri saya melakukan hal yang tidak bermanfaat, cukup dia hanya fokus sama suami dan anaknya saja." sahut Dimas tegas dengan tatapan tajam diarahkan pada Piana yang sempat kaget mendengar jawaban Dimas.


"Baiklah, aku permisi." Piana melangkahkan kakinya lebar, dan matanya menatap tak suka pada Rihana yang justru tersenyum miring melihat tingkahnya. Piana tak suka dengan apa yang dikatakan Dimas. Itu sudah melukai harga dirinya.


Rihana hanya diam dan tak ingin melontarkan apapun, hatinya sudah mulai merasa gelisah, entahlah, sisi perempuannya selalu mengatakan kalau Piana punya niat buruk.


"Ayo mas, kita berangkat sekarang. Biar nanti kita pulangnya gak kesorean." Rihana menggamit lengan suaminya, berjalan beriringan dan saling melempar senyuman.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Tak butuh waktu lama, Rihana dan Dimas sudah sampai di pesta pernikahannya Alim dan Safitri. Nampak tamu tamu hilir mudik pulang pergi, dari kejauhan terlihat Alma yang didandani sebagai Domas untuk ayahnya, cantik dan terlihat sangat anggun. Rihana maupun Dimas berdecak kagum melihat kecantikan sang gadis kecilnya.


"Iya, Mas. Siapa dulu ibunya." sahut Rihana percaya diri, dan disambut kekehan kecil di bibir Dimas.


Kedatangan Rihana sudah ditunggu sama Rokayah. Kakak Alim satu satunya itu, sudah sangat merindukan sosok Rihana. Sejak Rihana menikah lagi, Rokayah sudah tidak pernah ketemu dan Komunikasi apapun dengan Rihana.


"Apa kabar kamu Rihana? Alhamdulillah, kamu sedang hamil?" sambut Rokayah ramah dan fokus melihat ke arah perut Rihana yang sudah terlihat sedikit membesar.


"Alhamdulillah, Iya, mbak!" jawab Rihana singkat dan menampilkan senyum yang sangat manis.

__ADS_1


"Sudah. berapa bulan?" sambung Rokayah kepo.


"Empat bulan jalan mbak. Doa nya ya mbak!" Rihana bersikap seramah mungkin, karena bagaimanapun dirinya tidak pernah punya masalah dengan mantan kakak iparnya itu.


"Yasudah, sekarang silahkan nikmati dulu makanan yang sudah di suguhkan. Maaf, seadanya ya!" sambung Rokayah sumringah. Dan kembali menyapa tamunya yang lain, masih banyak berdatangan memberi selamat pada kedua mempelai.


"Kamu duduk dulu saja disini, biar aku yang ambilin makan dan minum. Kamu mau apa?" bisik Dimas lembut dan menuntun istrinya duduk di salah satu bangku kosong yang tak jauh dari pelaminan.


Melihat kedatangan papa dan bundanya, membuat Alma memekik senang, Alma meminta ijin pada Alim untuk turun menemui sang ibu tercintanya.


"Papa, bunda.!" Alma menghampiri Dimas dan Rihana yang sedang menikmati hidangan.


"Wah, anaknya bunda cantik banget. Sini dekat bunda kita foto bareng." sambut Rihana pada gadis kecilnya yang terlihat sumringah.


"Sini biar papa saja yang ambil fotonya." Dimas ikut menyahuti, dan mengambil alih kamera, memotret anak dan istrinya yang terlihat sama cantiknya. Dengan berbagai gaya dan kadang juga mereka foto bertiga. Nampak sekali keharmonisan akan ketulusan cinta diantara mereka. Itu membuat dada Alim terasa nyeri, tapi buru-buru Alim menepisnya. Berusaha membuang rasa cemburu dan sakit hatinya, demi menjaga hati perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Bund! Papa! Alma kesana dulu ya, menemani ayah Alim dulu." Pamit Alma pada akhirnya, dan Rihana langsung mengiyakan putrinya kembali ke pelaminan menemani sang ayah.


#Cinta kadang tak butuh kata kata, cukup dengan pembuktian sikap juga perbuatan. Karena hati akan dengan sendirinya menuntun rasa tanpa harus melewati sebuah kata. Itulah cinta yang lahir dari ketulusan dan kesucian sebuah hati.

__ADS_1


__ADS_2