
"Tapi kenapa kok minta kembaran? kan bisa buat Alma saja, gamis bunda dari papa Dimas sudah sangat banyak loh sayang."
"Bukan buat bunda kali bund. Gamisnya buat Tante Safitri calon istri barunya ayah Alim. Tante Safitri baik orangnya, cantik dan juga ceria, Alma suka dan kasih ijin ke ayah buat nikah sama Tante Safitri." Rihana dan Dimas masih saling melempar pandang, masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Owh ya? Wah, selamat ya sayang." tanggap Rihana memeluk sang anak, Rihana ikut senang, akhirnya Alim bisa move on dan mau memulai membuka lembaran barunya lagi, semoga wanita yang dipilihnya kali ini, benar benar baik seperti yang Alma katakan, agar Alim tidak lagi jatuh di lubang yang sama.
"Sekarang, mbak Alma mandi dulu gih, pakai air hangat ya sayang, habis itu kita makan malam bersama, oke?" sambung Rihana hangat, dan tanpa banyak bicara lagi, Alma menuruti apa yang bundanya katakan.
"Kenapa, Mas? kok ngelihatin akunya sampai seperti itu, ada apa?" tatap Rihana heran dengan sikap suaminya yang sedari tadi melihatnya dengan pandangan yang entah, sulit untuk di mengerti. Dimas tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan sang istri, Dimas meraup mukanya lantas menghembuskan nafasnya dalam.
"Gak papa, lega saja." jawab Dimas dengan tenang dan masih terus dengan pandangan yang sama ditujukan ke Rihana. "Lega? Lega bagaimana maksud kamu, Mas?" Rihana mengernyit bingung menatap sang suami.
__ADS_1
"Ya, lega saja sih lebih tepatnya. Karena dengan move on mantan suami kamu itu, aku jadi gak was was lagi dia akan macam macam sama istriku, karena selama ini aku perhatikan, dia masih berusaha untuk mendekatimu dan sorot matanya saat menatapmu masih dengan binar cinta dan rindu, jujur aku gak suka, dan tentu saja aku cemburu." Dimas mengatakan dengan gamblang apa yang menjadi beban pikirannya selama ini, memang Rihana tidak sedikitpun menaruh rasa apapun pada mantan suaminya, tapi sebagai laki laki egonya Dimas terusik, saat melihat ada laki-laki lain yang mendamba wanitanya.
"Aku tau, Mas. Makanya aku selalu membatasi berinteraksi dengan ayahnya Alma, karena aku ingin menjaga hati suamiku, dilain itu aku juga merasa risih, karena rasa ini sudah sepenuhnya menjadi milikmu, Mas." Rihana tersenyum menatap lekat pada Dimas yang juga menatapnya penuh damba, cinta keduanya benar-benar tak terpisahkan, kuat dan selalu berusaha sama sama menjaga agar tetap utuh.
"Sayang, kita makan apa ini? kan si mbok dan yang lain belum pada kembali dari healing nya, mereka kalau di beri kebebasan suka kebablasan, sudah hampir gelap juga belum ada yang pulang." rutuk Dimas menggerutu, dan itu mengundang tawa Rihana pecah, gemas dengan sikap suaminya. "Kan, kamu sendiri, Mas, yang meminta mereka kembali malam hari, kok sekarang kamu yang kayak kesal gitu, aneh kamu ini mas." Rihana tersenyum dan tak habis pikir dengan sikap suaminya itu. "Habisnya, masih dapat empat ronde, tuan putri sudah kembali, pokoknya nanti kita lanjutin di kamar lagi, aku mau nambah tiga ronde lagi, gimana sayang, sanggup kan?" Alim mengedip ngedipkan matanya ke arah sang istri yang langsung menatapnya gemas, "Kamu ini, Mas. Apa GK capek minta terus?" sungut Rihana pura pura kesal. "Mana ada capek, yang ada aku makin terpesona lihat kamu yang menggoda gitu, bagiku kamu itu canduku sayang.'
Ting tong Ting tong
"Sebentar Mas, mungkin itu kurir yang ngantar makanan, tadi aku pesan lewat online buat makan malam kita." saat Rihana mau berdiri untuk membukakan pintu, dengan cepat Dimas mencegahnya dan memintanya untuk tetap duduk manis menunggu. "Kamu disini saja, biar aku yang membukakan pintunya." Tanpa banyak protes, Rihana nurut saja apa yang menjadi perintah suaminya, Rihana tersenyum menatap punggung lelaki halalnya, bersyukur karena suaminya begitu mencintai dan menyayanginya.
TDMS 2
__ADS_1
PIANA
'Sepertinya, aku harus merayu badut tua itu untuk membelikan aku rumah tak jauh dari rumahnya Rihana, agar aku bisa mendekati suaminya Rihana, sejak melihatnya hatiku selalu berdesir tiap kali mengingat laki laki tampan itu, dan selain tampan dia juga sangat kaya, aku yakin dia akan mudah aku goda, aku memiliki tubuh yang seksi dan putih. Siapa sih, lelaki yang sanggup menolak pesona seorang Piana.' Piana bicara sendiri sambil membayangkan Dimas, yang menurutnya sangat sempurna, Piana sangat berambisi untuk bisa mendapatkan hati Dimas, sepertinya dia akan mengulang niatnya untuk merusak rumah tangga Rihana yang kedua kali, dulu Alim yang dia rebut dan sekarang Piana juga mengincar Dimas yang juga berstatus suaminya Rihana yang ke dua.
'Aku harus dandan secantik mungkin, karena sebentar lagi, laki laki tua itu akan datang kesini, aku harus bisa membuatnya memenuhi keinginanku.' Piana menyeringai licik, dan langsung bergegas menyiapkan dirinya agar terlihat cantik dan sempurna di mata laki laki selingkuhannya, meskipun tua tapi uangnya cukup banyak, itulah kenapa Piana mau jadi perempuan simpanan. Hidupnya tercukupi, apapun yang dia mau selaku dipenuhi oleh laki laki yang menikahinya secara siri. Piana tak perduli, kalau dirinya sudah merusak pagar ayu dan menyakiti istri dan anak laki laki selingkuhannya, Yang penting baginya hanyalah uang dan uang saja, yang lain masa bodoh untuknya.
Ting tong Ting Ting
"Itu dia, yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga." Piana tersenyum miring, dengan langkah gemulai berjalan ke arah pintu dan membukanya, lelaki gemuk dengan perut buncit seketika langsung tersenyum lebar dan menatapnya penuh nafsu, melihat penampilan Piana yang begitu menggoda membuat sang lelaki langsung terbakar gairahnya. "Wah, ternyata istriku sudah menyiapkan dirinya untuk menyambut kedatanganku, kamu sangat cantik sayang, seksi sekali." lelaki yang menjadi selingkuhan Piana sudah tak tahan lagi menahan hasratnya. Melihat Piana yang hanya memakai baju tipis minim bahan, sehingga menampilkan lekuk tubuh juga isinya dengan sangat jelas.
"Kamu luar biasa sayang, aku sangat puas kali ini, kita istirahat dulu, karena aku ingin mengulanginya lagi setelah ini. Love you."
__ADS_1
Piana hanya tersenyum kecut sambil pura pura merasa bahagia, padahal yang dia inginkan hanyalah harta, tak ada cinta sedikitpun dihatinya untuk pria yang benar benar jatuh cinta padanya.
Memanfaatkan Rudi untuk bisa mencapai ambisinya, baginya apa yang di inginkan bisa tercapai tanpa harus susah payah. Alim sudah benar benar tidak menghiraukannya, bahkan begitu membenci dirinya. Demi bisa tetap hidup nyaman tanpa kekurangan apapun, Piana rela menjadi istri simpanan Rudi, yang menurutnya bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya yang hedon.