Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Menyesal


__ADS_3

"Maaf, kalau selama kita menikah, aku sudah banyak menyakiti kamu, Melati!


Aku sudah kelewat batas dalam bersikap dan mengotori ikatan kesucian cinta kita dengan wanita wanita di luar sana, bahkan aku sudah menghamburkan uang kamu dan menyalahgunakan kepercayaan yang kamu berikan. Maafkan aku. Sungguh aku menyesal!"


Rudi tidak mampu meneruskan kata katanya, dadanya terlanjur sesak oleh penyesalan. Entah itu penyesalan yang sungguh sungguh, atau hanya sekedar ingin mendapatkan simpati dari istri dan anaknya lagi, agar dia tidak jadi ditendang dari kekayaaan Melati.


Tak ada respon apapun dari Melati. Bukannya merasa iba, tapi justru Melati merasa muak dengan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibirnya Rudi. Bukan satu atau dua tahun Melati mengenal sosok Rudi. Jadi dia hafal betul dengan sifat laki laki di hadapannya itu. Meskipun mulut nya mengucapkan kata sesal beribu kali, meskipun hatinya menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Rudi akan tetap mengulangi kesalahan kesalahan yang sama. Dan itu terjadi selama pernikahan mereka.


Selama ini Melati berusaha memahami bahkan memaafkan semua kesalahan Rudi, demi keutuhan rumah tangganya. Namun saat Rudi berani mengambil keputusan untuk menikah lagi, saat itulah hati Melati sudah benar benar di tutup untuk menerima Rudi dalam hidupnya lagi.


"Aku berharap, kita bisa kembali dan melupakan semuanya, mari kita mulai dari nol lagi. Aku tau kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kita kan?


Aku sudah menceriakan Piana dan aku berjanji tidak akan lagi mengulangi sesuatu yang menyakiti hati kamu dan anak anak.


Aku bersumpah!"


Rudi melanjutkan ucapannya dan masih belum ada respon apapun juga dari Melati. Melati memilih tetap bergeming dengan kebiasaannya. Sedangkan Fajar, memilih untuk diam menyimak saja.


"Melati, kenapa kamu diam saja. Kalau kamu masih tetap diam, akan aku anggap kamu setuju kita kembali. Dan aku akan meminta pada pengacara keluarga kita untuk mencabut gugatan kamu di pengadilan."


Rudi merasa geram dengan sikap Melati yang tidak meresponnya sama sekali, bahkan terkesan tidak mau perduli dengan semua kata sesal yang ia lontarkan.


"Cukup! Cukup, Mas!


Aku sudah benar benar muak dengan semua ini, aku sudah capek dan sangat lelah dengan sikapmu itu. Sudah cukup aku memberimu kesempatan selama ini, tapi kamu tetap tidak pernah bisa berubah. Aku capek! Dan keputusanku tetap sama, kita hidup masing masing. Percuma kita bertahan dalam hubungan yang sudah tidak sehat ini. Percuma!"


Melati melontarkan jawaban yang tidak pernah Rudi duga, karena dalam hatinya Rudi sangat yakin kalau dia memperlihatkan penyesalan, pasti Melati akan luluh dan memaafkan nya seperti yang sudah sudah. Tapi sekarang itu tidak berlaku, Melati tetap dengan keputusannya, Berpisah!.


"Tapi bagaimana dengan anak anak, pikirkan mereka, jangan egois kamu! Anak anak masih membutuhkan kita untuk mendampingi mereka, terutama Fajar." Rudi meninggikan suaranya satu oktaf dan membuat Melati merasa miris, pengakuan yang terlontar dari bibirnya tidak mencerminkan penyesalannya saja sekali, justru yang terlihat, keegoisan dan sikap angkuh yang melekat kuat pada sosok Rudi.

__ADS_1


"Egois katamu? Siapa yang egois disini, aku atau kamu yang suka selingkuh itu, hah?


Sudah berapa kali aku memaafkan hobi gemar selingkuh mu itu?


Sudah berapa kali aku menahan sakitnya dari perbuatan mu yang seenaknya itu?


Hingga aku iklas selama pernikahan kita, kamu tak sekalipun memberikan gaji kamu, bahkan berapa jumlah gaji kamu saja aku tidak pernah tau, sampai saat ini, yah, sampai saat ini!


Masih kamu bertanya, siapa yang egois?


Kamu,Mas! Kamu yang sudah egois! Kamu benar benar keterlaluan!"


Jerit Melati murka, untuk pertama kalinya, Melati bicara dengan nada tinggi kepada Rudi, karena hatinya sudah benar benar muak dan lelah dengan sikap egois Rudi yang tak ke nah bisa berubah. Pintar menyalahkan orang lain, tapi tidak pernah tau boroknya diri sendiri.


Rudi terdiam, shock dengan perubahan sikap Melati, namun juga membenarkan apa yang Melati tuduhkan untuknya. Diam dan tak lagi bisa menyanggahnya.


Fajar tetap bungkam, mencoba menahan kesal dan marah terhadap papa nya, namun sekuat tenaga ia tahan.


"Fajar, bantu papa untuk meyakinkan mama kamu, papa benar benar menyesal.


Kamu juga gak mau kan, papa dan mama begini?


Papa berharap, keluarga kita kembali utuh dan harmonis seperti dulu."


Rudi berusaha mempengaruhi anaknya, agar mau membujuk Melati.


Sebelum menjawab, Fajar menghirup udara dalam, mengusap wajahnya kasar, dengan gemuruh di dadanya yang membuatnya ingin memaki laki laki egois yang ada di hadapannya.


"Maafkan Fajar, Pa!

__ADS_1


Fajar gak bisa bantu papa, semua sudah jadi keputusan mama dan Fajar tidak berhak ikut campur. Sudah terlalu banyak luka yang mama terima. Harusnya papa bisa paham kondisi hati mama, bukannya malah justru mencari pembenaran untuk membela diri papa sendiri.


Harusnya papa berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, bahkan perempuan itu sudah berani menghancurkan karir papa bukan?"


Fajar membalas ucapan Rudi dengan memberi penekanan dalam setiap kalimatnya.


Rudi tersentak, ternyata Fajar mengetahui pemecatan dirinya dan semua karena ulah Piana, wanita ular yang dia nikahi, mengorbankan kebahagiaan keluarganya hanya demi perempuan murahan seperti Piana, dan kini dia harus menerima karma dari perbuatannya itu. Bukan malah hidup enak tapi justru hancur dan kehilangan segalanya.


"Dari mana kamu tau?"


Rudi menatap penuh selidik pada putra bungsunya yang justru tersenyum masam dan menatap dalam padanya.


"Atasan papa yang menelpon mama, memberitahukan kalau ada wanita yang mengaku istri kedua papa datang ke kantor, melaporkan perselingkuhan kalian dan juga memberikan bukti buktinya, bahkan perempuan itu juga bilang pada atasan papa, kalau hubungan papa dan mama sedang tidak baik baik saja, sedang proses perceraian di pengadilan.


Atasan papa, menanyakan kebenaran laporan dari istri muda papa, kepada mama. Dan bisa disimpulkan, hasil akhir dari masalah yang diciptakan perempuan itu, di pecat. Benar begitu?"


Rudi terlihat memerah wajahnya, kedua tangannya mengepal, rasa benci dan dendam pada Piana semakin membuncah.


"Kurang ajar! Dasar perempuan tak berguna!


Awas saja kamu Piana, aku akan mencari mu dan membuat perhitungan yang seumur hidupmu akan selalu kamu ingat. Kamu sudah bermain main dengan orang yang salah!"


Rudi bergumam penuh amarah, tak perduli jika ada anaknya yang kini sedang menatapnya penuh kecewa.


"Papa pamit dulu, jaga mama kamu. Dan bilang sama mama kamu, kalau papa tidak akan lagi menuntut apa apa dari kekayaannya.


Papa pergi, dan sekali kali temui papa juga nenek dirumah baru papa, tempatnya gak jauh dari rumah Dimas.


Rudi melangkah pergi, dan memutuskan untuk tidak lagi mengusik Melati. Fokusnya ingin membalaskan dendam nya pada Piana.

__ADS_1


__ADS_2