Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Rasain


__ADS_3

"Mbak Rihana, lebih baik tidak usah dekat dekat dengan dia, takutnya dia memiliki tujuan buruk sama keluarga mbak." sambung Reni memperingati, karena dia sudah sangat geram dengan ulah Piana, perempuan perusak rumah tangga orang lain, meskipun Reni sadar kalau kakaknya juga salah, karena hubungan itu tidak akan terjadi kalau Rudi tidak menanggapi. Intinya mereka sama sama salah.


"Terimakasih sudah mengingatkan. Insyaallah, saya juga tidak ingin berurusan dengan dia, karena sepertinya dia juga punya tujuan pada suamiku." sahut Rihana tenang dan matanya melirik suaminya yang menatapnya penuh arti. Dimas paham maksud yang disampaikan istrinya, karena Dimas pun juga sudah mencium gelagat aneh Piana saat menatapnya.


"Yasudah kami pamit dulu ya, Mas! Mbak!


Takutnya mas Rudi sudah pulang dan mencari kami." sambung Reni berpamitan yang juga di iyakan oleh ibunya.


Rihana dan Dimas mengantarkan tamunya sampai ke pintu keluar, lalu meminta pak Roni membukakan pintu gerbang. Dimas menawari Bu Endang untuk diantar pak Roni sampai depan rumahnya, tapi ditolak oleh Bu Endang lantaran jaraknya juga sangat dekat.


Namun Dimas tetap meminta pak Roni untuk mengawasi sampai mereka masuk ke dalam rumah dengan selamat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di dalam rumahnya Rudi, nampak Piana sedang menikmati masakan yang tadi sempat di masak Bu Endang untuk menyambut kepulangan putranya. Bu Endang lupa jika belum menyimpan masakannya, dan masih menaruhnya di atas kompor.


Kari ayam dan mie goreng Jawa. Sengaja memasak dua menu karena hari ini, Beni anak keduanya memberi kabar akan pulang setelah isya, pulang dari bekerja di bengkel temannya. Beni sangat menyukai mie goreng buatan ibunya. Dan Bu Endang sengaja memasaknya untuk menyambut kepulangan putranya yang lain.


Dengan lahap Piana memakan apa yang ada, setelah makan nasi dengan lauk kari ayam. Piana masih melanjutkan dengan makan mie goreng sampai nambah dua kali, karena lidahnya sangat cocok dengan masakan yang dibuat ibu mertuanya. Tanpa malu dan merasa sungkan karena tidak ikut membantu, Piana makan tanpa memikirkan yang lain. Bahkan setelah sangat kenyang, bukannya membersihkan bekas makannya, justru Piana kembali masuk ke kamarnya dan memilih bermain ponsel, chatting dengan teman laki lakinya.


Bu Endang dan Reni sampai rumah dan memutuskan untuk langsung sholat magrib terlebih dahulu, mereka langsung memasuki kamar dan mengambil wudhu di kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Setelah selesai melaksanakan kewajiban tiga rakaat nya, Bu Endang teringat dengan masakannya yang masih belum di pindah.

__ADS_1


Dengan langkah pasti perempuan paruh baya yang terlihat masih gesit dan sehat itu, melangkahkan kakinya ke dapur. Dan alangkah terkejutnya Bu Endang, saat matanya menatap dapur yang sudah berantakan, piring kotor tergeletak di atas meja makan, kari ayam yang dibuat lumayan banyak, hanya tinggal sisa beberapa potong saja, dan yang membuatnya geram, saat matanya melihat ke arah wajan, yang berisi mie goreng yang tadi dibuatnya, hanya tinggal sedikit.


"Dasar perempuan iblis! Tidak tau malu!


Bukan cuma murahan tapi juga rakus!


Awas kamu! aku akan memberinya pelajaran."


Bu Endang mengeram kesal, dadanya naik turun sangking kesalnya, bagaimana tidak. Masakan yang dibuat susah payah untuk menyambut anak anaknya, kini hanya tinggal sisa, itupun hanya sedikit. Karena Piana sudah memakannya dengan rakus tanpa permisi pula. Padahal kerjaannya cuma di kamar saja, itupun dengan melakukan perbuatan yang menjijikkan.


"Ada apa, Bu?" tiba tiba Reni muncul dan melihat ibu nya terlihat marah menatap dapur yang berantakan.


"Kamu lihat sendiri, ini ulah perempuan ****** itu, sudah seenaknya mengambil makanan, tidak mau membersihkan bekas makannya juga. Ibu kesal, mie goreng kesukaan kakakmu sama Piana, di habiskan dan hanya di sisain seuprit.


Bu Endang tak lagi bisa menahan amarahnya. Dengan mengambil air dengan gayung, Bu Endang berniat mendatangi Piana di kamarnya, ingin memberinya pelajaran karena sikapnya yang benar benar tidak sopan.


"Kamu bereskan dapurnya, dan buatlah mie goreng lagi untuk kakakmu, mumpung masih ada waktu, kasihan. Karena ibu sudah terlanjur janji akan memasakkan makanan kesukaannya. Biar ibu kasih perempuan itu pelajaran." sungut Bu Endang yang terbakar amarah.


Reni hanya mengangguk pasrah dengan perintah ibunya, karena Reni tau seperti apa ibunya kalau sedang marah, lagian salah Piana sendiri yang sudah tidak sopan, tidak mau membantu tapi dengan lancang menghabiskannya tanpa memikirkan yang lain juga butuh makan.


Reni membersihkan meja makan dan menaruh gelas juga piring kotor bekas makan Piana ke wastafel. Karena Reni lebih memilih untuk memasak mie dulu, karena sebentar lagi, kakaknya akan sampai.


Dengan cekatan Reni meracik bahan bahan yang sudah pernah ibunya ajarkan, semua bahan sudah dihaluskan dan ditaruh di wadah kusus lalu di simpan di dalam kulkas. Jadi kalau mau masak sudah tidak ribet lagi untuk mengupas dan mengulek, karena bahan sudah siap pakai.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari lima belas menit mie goreng Jawa sudah tersaji di meja dengan aroma yang mengunggah selera siapa saja yang menciumnya.


Sedangkan di dalam kamar, Piana menjerit tak terima, lantaran Bu Endang menyiramnya dengan air satu gayung, yang mengenai wajah dan tubuhnya, bahkan kasurnya juga basah.


"Apa apaan ini, hah? dasar perempuan tua tidak tau di untung!" murka Piana dengan wajah merah padam dan tubuh yang basah kuyup.


Bu Endang bukannya takut, tapi justru tersenyum sinis dan menatap penuh kebencian pada perempuan yang sudah di nikahi secara siri sama anaknya itu.


"Kenapa? Tidak terima? Mau protes, atau mau membalas?"


tantang Bu Endang sinis dengan kedua tangan di taruh di pinggang, sedikitpun tidak ada raut menyesal atau takut dengan amarah menantunya.


"Aku akan mengadukan perbuatan kamu sama Mas Rudi, biar di usir sekalian. Awas saja! Sudah tua bukannya tobat tapi malah bikin orang tidak suka!" sungut Piana kesal, namun tak berani bermain tangan, kalau itu terjadi yang ada Rudi akan murka padanya, bisa bisa dia yang diusir bukan ibunya. Piana lebih memilih seperti orang yang dizalimi, karena sebentar lagi Rudi pasti pulang dari kerja.


"Kenapa sih, ibu gak suka sama aku, aku istri anakmu loh, dan kenapa ibu itu selalu memperlakukan aku sejahat ini, kenapa Bu, kenapa?"


Piana pura pura meraung, karena telinganya mendengar suara mobil Rudi yang memasuki halaman. Dia akan memerankan drama nya sebaik mungkin.


"Tidak usah banyak drama kamu, aku tau kamu mendengar suara mobilnya Rudi, kamu ingin Rudi membela kamu kan? dan akan memusuhi aku ibunya. Coba saja kalau kamu bisa, tapi sampai kamu menangis darah pun, itu tidak akan terjadi. Apa lagi kalau anakku sudah melihat Vidio kamu tadi siang yang telanjang di depan laki-laki lain, masih yakin, Rudi masih mau sama kamu?" sambung Bu Endang puas dan seketika langsung membuat Piana pucat dan salah tingkah. Pikirannya mulai kacau, ternyata aksinya tadi siang diketahui ibu mertuanya.


"Sial, wanita tua ini, benar benar sudah menghancurkan kesenanganku." Piana merutuki kebodohannya yang sudah ceroboh.


"Kita tunggu apa yang sebentar lagi akan terjadi, siap siap gih, masukin baju baju kamu ke koper, karena sebentar lagi, anakku akan menyeret kamu keluar dari rumah ini. Selamat menikmati."

__ADS_1


Bu Endang sangat puas melihat Piana ketakutan dengan wajah memucat penuh kecemasan. "Rasain." batin Bu Endang merasa menang.


__ADS_2