Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
Tidak terima


__ADS_3

Piana sedang asik mengecat kuku kukunya di teras depan rumahnya, menikmati suasana rumah yang selama ini dia impikan, mewah dan juga besar. Meskipun Rudi tidak lagi muda, tapi lelaki itu selalu berusaha menyenangkan Piana dengan menuruti semua kemauannya tak perduli bagaimana dia mendapatkan uangnya.


Mata Piana menatap heran ke arah truk yang berhenti tepat di depan rumahnya, dengan mengangkut barang barang seperti kasur, kulkas, mesin cuci, dan beberapa peralatan dapur. Bahkan ada meja rias yang selama ini ia impikan, besar lengkap dengan lampu dan kacanya.


Piana semakin menajamkan tatapannya saat mobil suaminya memasuki halaman rumahnya, dan terlihat ibu juga adiknya Rudi ikut turun dari mobil yang dibawa suaminya.


Piana mengernyitkan dahinya, wajah tak sukanya langsung terpancar dari mulutnya yang langsung cemberut.


"Mas, maksudnya apa?


kenapa ibu dan adikmu ikut kemari, dan koper koper itu, juga barang barang yang di truk itu?


Jangan bilang kamu memboyong keluarga kamu untuk tunggal di sini ya mas, kenapa kamu tidak ijin dulu padaku?


Mas!"


Piana kesal pertanyaannya diabaikan oleh Rudi yang justru lebih mengurusi barang barang yang akan diturunkan, meminta orang suruhannya untuk membawa barang barang yang di truk untuk dipindahkan ke dalam rumah, dan sekaligus menatanya.

__ADS_1


Untuk itu Rudi sibuk menunjukkan dimana saja barang itu harus di letakkan.


Dua dipan dan kasur ukuran besar, dimasukkan ke dalam kamar di lantai bawah, yang akan di tempati ibu dan adiknya.


kulkas dan mesin cuci, di letakkan di dapur. Sedangkan meja rias yang tadi sempat di lirik Piana, Rudi memintanya untuk ditaruh di kamar utama, tempat tidur Piana juga Rudi.


Dan alat alat dapur juga semua sudah di letakkan di dapur dan mulai di tata oleh Reni dan ibunya.


Setelah semua selesai dan orang orang suruhan Rudi pulang, Piana kembali mengajukan protesnya.


"Mas! Kamu dengar aku gak sih?" lanjut Piana kesal.


"Sudahlah, jangan ribut. Mereka keluargaku, ibu dan juga adikku. Ini rumahku, dibeli menggunakan uangku, jadi aku berhak memasukkan siapapun termasuk keluargaku. Lebih baik kamu diam, sebelum aku emosi dengan ocehan kamu itu!" bentak Rudi geram, dan Piana langsung membuka mulutnya lebar, tak percaya kalau Rudi akan bicara kasar padanya.


"Apa, Mas? kamu membentak ku? Ini semua gara gara ibu dan adikmu itu. Aku tidak terima!" Piana langsung meradang, karena kedatangan ibu juga adiknya Rudi, hubungan Piana dan Rudi jadi tidak baik, Rudi yang biasanya selalu be sikap manis kini terang terangan membentaknya dan bersikap acuh padanya. Piana merajuk dan lari ke kamar, berharap Rudi akan meminta maaf dan mengejarnya, tapi itu tidak terjadi, justru Rudi abai dan memilih menghitung uangnya. Dan bercengkrama dengan ibu dan adiknya di ruang keluarga.


"Bu, ini uang buat pegangan ibu. Tiga juta, dan ini yang tiga juta lagi buat biaya makan dirumah ini, Rudi yakin ibu pasti bisa mengatur keuangan dapur dengan baik. Nanti setiap pagi, di depan akan ada penjual sayur langganan ibu ibu di komplek ini, ibu belanja saja disana." Rudi menyerahkan beberapa lembar uang seratusan Untuk ibunya, melihat semua itu, membuat Piana semakin kesal dan tidak terima, lantaran dirinya tidak dianggap di rumahnya sendiri, sampai uang belanja saja diserahkan pada ibunya. "Sialan, apes benar hidupku, baru aja merasa senang sudah ada saja yang mengganggu, akan aku buat mereka tidak betah ada dirumah ini." sungut Piana penuh kebencian. Belum lagi amarahnya mereda, Piana melihat Rudi memberikan uang buat adik perempuannya.

__ADS_1


"Ren, ini uang saku kamu buat satu bulan, irit irit ya, karena Mas sudah tidak lagi memegang usaha milik Melati, hanya bisa mengandalkan gaji Mas saja. Nanti bagian Beni, Mas kasih pas dia pulang saja, Kamu sudah memberitahunya kan, kalau pulang kesini?"


"Iya, mas. Tadi Reni sudah memberitahunya, dan sudah Reni sharelok juga, katanya Mas Beni baru pulang hari Minggu, di kampus masih ada kegiatan. Kan Mas Beni sekarang juga kerja, di bengkel milik temannya." jawab Reni jujur apa adanya, dan membuat Rudi tersenyum, bangga dengan adik adiknya, yang selalu nurut dengan apa yang dia katakan dan tidak pernah bersikap neko neko, itulah kenapa Rudi begitu sangat menyayangi adik adiknya itu.


Reni menerima uang lembaran merah sebanyak lima belas lembar dari tangan kakaknya, biasanya dia akan mendapat jatah dua juta untuk satu bulan, tapi sekarang dia harus bisa memahami keadaan kakaknya yang memang sedang memiliki masalah dengan kakak iparnya.


Melihat pemandangan yang tidak dia harapkan, membuat Piana semakin terbakar emosi, baginya keluarga Rudi hanya akan menghabiskan uang suaminya dan jatah dirinya berkurang. "Aku tidak terima mereka menghabiskan uang suamiku, itu hak aku, dan aku tidak akan membiarkan mereka mengambilnya. Lihat saja, bagaimana nanti aku akan merampas uang itu dari tangan ibu dan anak itu, dasar benalu!" sungut Piana geram, dan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya di kasur ukuran jumbo yang sangat empuk.


"Apa kamu yakin, Rud? menyerahkan uang dapur sama ibu? bagaimana kalau istrimu itu tidak terima?" sahut Bu Endang ragu dengan keputusan anaknya.


"Sangat yakin Bu, Piana itu boros, dan dia juga tidak pernah masak, bisanya cuma beli dan beli. Jadi ya lebih baik ibu yang pegang uang dapurnya, buat kita bisa makan masakan rumah, apapun yang akan ibu masak pasti Rudi Makan. Urusan Piana biar menjadi urusan Rudi. Ibu tenang saja!"


"Yasudah kalau itu memang sudah jadi keputusanmu. Ibu hanya malas saja kalau nanti harus ribut sama istrimu itu, dia itu perempuan yang tidak bisa menghormati orang lain, ibu gak mau malu karena sikapnya yang bar bar seperti orang yang gak berpendidikan." sahut Bu Endang dengan mimik tak suka.


"Sudahlah, Bu! mau berapa kali Rudi ingatkan? sudah, sekarang kita tinggal satu rumah, jangan terus memancing masalah begini." balas Rudi frustasi, karena ibu dan istrinya masih saja tidak bisa akur. Dan Reni lebih memilih diam tidak mau ikut berkomentar, meskipun dalam hatinya membenarkan ucapan ibunya. Bagi Reni, selama Piana tidak mengusiknya, maka dia akan tetap memilih diam dan acuh, tapi jika Piana berani mengusik kenyamanannya, Reni berjanji jika dia tidak akan segan untuk memberi pelajaran pada Piana.


#wah wah, sepertinya ceritanya makin seru ya, akan ada perang badar dirumah itu, karena dari ketiga wanita di dalam rumahnya Rudi, sama sama tidak menyukai satu sama lain, yuk bund, jangan lupa kasih vote n bunga ya, dan jangan lupa tekan love nya untuk mengikuti episode selanjutnya. Haturnuhun β˜ΊπŸ™πŸ™πŸ”₯

__ADS_1


__ADS_2