Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
22


__ADS_3

Rokayah terus saja mengikuti kemanapun langkah piana pergi, tentunya dengan menjaga jarak agar tidak ketauan, untuk menyempurnakannya rokayah menutup wajahnya dengan masker dan kaca mata hitam, agar gerak geriknya tak mengundang kecurigaan adik iparnya, meskipun rasanya ingin sekali memberi pelajaran pada adik iparnya, Rokayah harus bisa menjaga diri dari emosi, rasanya sakit ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri jika adiknya di hianati oleh wanita yang dianggap baik oleh adiknya itu.


Alim mengerang frustasi, menyesali perbuatannya dulu,yang kerap kali tidak pernah menghargai dan memperlakukan Rihana dengan baik, Alim selalu merasa perbuatannya benar dan salah terlalu percaya diri kalau Rihana tidak bakalan berani memutuskan untuk berpisah, namun alim salah, Rihana yang di anggapnya lemah, Rihana yang dipandangnya tak berguna, ternyata berani mengambil keputusan untuk pergi dari kehidupannya tanpa menuntut sepeserpun harta Gono gini darinya, wanita lembut yang tangguh, yang selalu tegar dalam setiap kondisi, dan kini Alim harus meratapi kebodohannya yang membuang permata hanya demi memungut batu kali seperti Piana, wanita yang hanya bisa menghamburkan uangnya dan bahkan sudah berani selingkuh dengan pria lain dibelakangnya, mungkin inilah karma balasan atas semua perbuatannya terhadap Rihana di masa lalu.


Kali ini aku akan perjuangkan, apapun resikonya, aku akan terus berusaha untuk membuatmu kembali dalam hidupku, aku tidak perduli meskipun saat ini ada laki laki yang sudah siap untuk menjadikanmu istrinya,akan aku buktikan kalau aku lebih berhak dari dia,apapun itu aku harus bisa membuat mereka berpisah.


Alim melangkah pergi meninggalkan halaman rumah Rihana menuju tempat kerjanya,dia harus kembali memastikan kalau usahanya akan kembali seperti sedia kala,kembali bersinar dengan penghasilan yang berlimpah,keuntungan yang berlipat lipat.


Sementara itu di sebuah tempat pusat perbelanjaan piana sedang bergelayut manja di lengan pria tampan dan masih muda,mungkin usianya lima tahun lebih muda dari piana,mereka berjalan menyusuri gerai pakaian brand ternama.


Sayang coba lihat,sepertinya ini cocok untukmu,piana mengambil salah satu kaos berwarna merah dan ditunjukkan pada kekasih selingkuhannya.


Boleh sih,asal kamu yang beliin,apapun pasti aku suka,laki laki itu menimpali dengan mengerlengkan sebelah matanya.


Yaudah kita ambil,dan kamu pilih aja mana yang kamu suka,nanti aku yang bayar.


Waah beneran?


Kalau gitu,aku ingin beli kemeja dan sepatu,biar nanti kalau ke kantor,aku makin kelihatan lebih keren.


Isshhh,awas aja yaa kalau kamu sampai genit dan digangguin sama cewek cewek,aku nggak suka,piana mengerucutkan bibirnya.


Yaa jelas nggak lah sayang,aku kan sudah punya kamu,sudah cantik,seksi,banyak duit lagi,kamu itu sempurna banget tau buat aku,fajar merangkul piana dan mencubit hidungnya mesra.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dan mengarahkan kamera dan mengambil gambar gambar kemesraan mereka berdua,lalu mengirimkannya ke nomer milik alim.


Ternyata begini kelakuanmu dibelakang adikku,kamu bersenang senang dan bermesraan dengan laki laki lain,sedangkan adikku bekerja keras untuk memberimu kemewahan,namu kamu menghamburkannya dengan laki laki selingkuhanmu,alim harus tau tau kelakuan istrinya.


Ting Ting Ting,ponsel alim bunyi pesan masuk secara beruntun,ada beberapa foto terkirim diponselnya dari nomer kakak perempuannya.


Mbak kayah?ngirim foto apa kok banyak bener,alim bertanya tanya dalam hatinya,lalu dibukanya aplikasi berlogo hijau,dan terpampang jelas foto foto wanita yang sudah tidak asing baginya bersama laki laki yang belum pernah dua kenal sedang bermesraan di pusat perbelanjaan,tangan alim mengepal,sumpah serapah dia lontarkan,kebencian dan amarah kini membuatnya semakin tak terkendali oleh emosi,alim langsung memencet nomer kakaknya dan menanyakan dimana kakaknya peroleh foto foto itu.


Asalamualaikum


Waalaikumsallm..iya Lim,kamu harus tenang dan harus tegas dengan istrimu,sekarang mbak masih mengawasi piana dan laki laki itu,mbak tunggu kamu kesini sekarang yaa,di XXX.


Iya mbk,mbak kayah awasi terus mereka sampai aku datang,akan kubuat perhitungan dengan manusia manusia tak tau malu itu,alim mematikan telepon dan bergegas menuju tempat yang sudah di berikan kakaknya dengan dada yang bergemuruh,hatinya makin sesak,penyesalannya semakin dalam,wanita yang dia perjuangkan,wanita yang lebih dipilihnya ternyata tak lebih dari wanita murahan.


Hanya butuh dua puluh menit alim sampai,dimana istrinya sedang bersenang senang dengan pria lain dan tentunya dengan uang darinya.


Aaaaarrrgh alim memukul setir mobilnya sampai tangannya terasa nyeri,sialan aku tak akan membiarkan kalian membodohiku,memanfaatkan uangku untuk kesenangan kalian,kurang ajar,akan kubuat perhitungan dan kalian harus membayar mahal untuk ini,kalian sudah berani mempermainkanku,akan kutunjukkan bagaimana aku membalas perbuatan bejat kalian, Alim menyeringai jahat dan keluar dari mobilnya menuju tempat dimana kakaknya sudah menunggu.


Nexxt


Kecurigaan ku selama ini ternyata benar, dan rasa tak sukaku pada Piana kini makin besar, wanita itu ternyata hanya ingin numpang hidup enak pada adikku, tapi aku pastikan, setelah ini, aku yakin jika Alim tidak akan lagi mau percaya dengannya, Rokayah masih membuntuti Piana yang saat ini sedang berjalan ke arah kasir, sepertinya mereka sudah puas berbelanja.


"Lim, kamu sudah sampai mana?


Istrimu saat ini sudah mengantri di kasir, buruan keburu dia pergi" (send)

__ADS_1


"Iya mbk, ini aku sudah sampai dan sekarang sedang menuju ke lantai dua, mbak ada di sebelah mana?" (Send)


"Mbak ada di sebelah kanan meja kasir"


"Ok"


Alim mempercepat langkahnya, dan dari kejauhan terlihat kakaknya sedang berdiri tidak jauh dari tempat kasir, lalu matanya memindai mencari keberadaan Piana, Alim tersenyum kecut saat matanya tertuju pada wanita yang sedang bergelayut manja di lengan lelaki muda dengan manja, kedua tangannya mengepal, lalu diteruskan langkahnya untuk menghampiri kakaknya terlebih dulu.


"Mbak..."


Alim menyapa kakaknya yang masih fokus mengintai istrinya.


"Kamu sudah datang Lim, baguslah...biar kamu sadar dan percaya dengan omongan mbakmu selama ini, ternyata terbukti kan apa yang mbak sangkakan selama ini, jika Piana bukanlah wanita baik yang seperti kamu sangka, dan mbak harap, kamu bisa tegas dalam mendidik istrimu, jika dia tak bisa nurut dan merubah sifatnya, lebih baik tinggalkan, karena itu akan jadi duri dalam rumah tanggamu, hubungan yang tak sehat dalam berumah tangga, hanya akan menciptakan kemudhoratan saja."


Alim mendengarkan semua ocehan kakaknya dengan hati yang bergemuruh, penyesalan dan kebencian kini mempermainkan hati dan pikirannya.


"Mbak tunggu disini saja, biar aku kasih pelajaran pada mereka." Alim pun melangkah menuju di mana piana dan kekasihnya berada, mereka sedang berada di depan meja kasir, sedang melakukan transaksi pembayaran.


"Semua totalnya lima juta tujuh ratus delapan puluh ribu pak, mau dibayar dengan uang cash atau pakai kartu kredit?"


Mbak kasirnya bicara dengan ramahnya.


"Pakek kartu kredit saja mbk."


Piana menyerahkan kartu kredit milik Alim, yang semalam di ambilnya dari dalam dompet suaminya diam diam, saat Alim tertidur pulas.


"Kalau mau senang senang, jangan menggunakan uangku, lancang kamu Piana, sudah berani mengambil kartu ini tanpa minta ijin lebih dulu padaku, hanya demi laki laki miskin ini, dan setelah ini jangan harap aku akan memberimu uang lagi dan ingat, semua fasilitas yang sudah aku berikan padamu, akan aku tarik kembali, kamu tidak punya hak lagi untuk menikmati hartaku, mobil yang kamu pakai akan aku berikan pada putriku, ya mobil itu lebih baik aku berikan pada anakku , darah daging ku, dari pada untuk wanita macam kamu, semua belanjaan ini silahkan kamu bayar


pakai uangmu sendiri, karena aku tidak akan pernah Sudi jika uangku kamu gunakan untuk membiayai laki laki selingkuhanmu ini.


Mana kunci mobilmu, serahkan padaku!"


Alim membentak kasar pada piana, dia sudah tidak ingin lagi berbagi harta sedikitpun pada penghianat sepertinya.


"Tapi mas, ini mobilku, kamu sudah memberikannya untukku, kamu nggak berhak mengambilnya kembali."


Piana meraung tak Sudi jika harus mengembalikan apa yang sudah dia miliki.


Banyak pasang mata yang menyaksikan pertengkaran mereka, dan hampir semua melontarkan cibiran untuk Piana


dasar istri duhaka, wanita tidak bersyukur, padahal laki selingkuhannya kere cuma menang tampang doang, kok mau sih, kasihan suaminya ya punya bini tukang selingkuh, dan masih banyak lagi gunjingan gunjingan yang terlontar dari pengunjung yang berada disitu.


Alim tak perduli dengan apa yang di lontarkan oleh orang orang disekitarnya,meskipun banyak yang mengarahkan ponselnya untuk mevidiokan pertengkaran mereka.


Dengan kasar Alim merebut tas Piana dan segera mengambil kunci mobil yang ada di dalam tas tersebut, lalu Alim pergi meninggalkan Piana yang terus saja meraung penuh drama.


Sementara itu Fajar lelaki selingkuhan Piana hanya diam saja menyaksikan pertengkaran suami istri tanpa ada pembelaan untuk Piana,karena Fajar menjalin hubungan dengan Piana bukanlah atas dasar suka apalagi cinta, melainkan hanya ingin memanfaatkan Piana saja untuk dia bersenang senang dan mendapatkan barang barang mewah.


"Kenapa kamu diam saja melihat mas Alim memperlakukanku seperti ini?"

__ADS_1


Piana menatap nyalang ke arah Fajar.


"Lalu aku harus bagaimana, itu urusanmu dengan suamimu, bukan hakku ikut campur."


Fajar menjawab dengan santai tanpa ada beban sedikitpun.


"Tega kamu yaa, aku melakukan ini untuk kamu, karena aku cinta sama kamu."


Piana menjerit frustasi.


"Cinta??


Aku tak pernah bilang cinta sama kamu, kamu aja yang sudah tergila gila denganku, dan mulai sekarang jangan mencari ku lagi, kamu sudah tidak berguna lagi untukku, kamu sudah tidak punya apa apa untuk aku manfaatkan."


Fajar berlalu pergi tanpa memperdulikan teriakan Piana.


Cibiran dan sorakan hinaan untuk Piana semakin riuh , sampai beberapa scurity datang untuk menenangkan.


"Mbak, gimana dengan belanjaannya ini, karena yang sudah mengantri sudah banyak?."


terdengar suara mbak kasir bicara pada Piana.


"Kembalikan saja, saya sudah tidak butuh itu, Piana lantas berlalu pergi, berharap akan menemukan suaminya di depan sana, dia akan berusaha agar suaminya memafkannya dan menerimanya kembali, bisa gila aku kalau sampai mas Alim tak lagi memberiku uang.


Sambil berlari lari Piana akhirnya sampai ke tempat parkir, diedarkan pandangannya ke segala penjuru, untuk mencari keberadaan suaminya, namun nihil suaminya sudah tidak ada lagi, Piana pun juga mencari mobilnya dimana tadi dia memakirkannya, dan hasilnya pun juga nihil, mobilnya sudah tidak ada lagi ditempatnya.


"Bagaimana mas alim membawanya?


bukankah dia juga membawa mobilnya sendiri?"


Aaaaarrrgh...piana mengacak rambutnya frustasi.


"Lebih baik aku kembali kerumah dengan naik taksi, aku harus cepat cepat menyelesaikan masalahku dengan mas Alim, aku nggak bisa diam saja, Piana memesan taksi online dan segera menuju pulang dengan segala rencana dramanya untuk meminta maaf pada suaminya.


Alim menaiki mobilnya sendiri menuju ke rumah kakaknya, sedangkan mobil Piana dibawa oleh rokayah, Alim meminta kakaknya untuk sementara membawa mobilnya dulu, sebelum nanti di serahkannya untuk Alma putrinya.


Selama perjalanan,alim terus dihantui oleh rasa penyesalan, penyesalan akan perbuatannya sendiri, hatinya teramat sakit oleh penghianatan istrinya.


Mungkin ini yang dirasakan Rihana saat aku dulu menghianatinya dan tak menghiraukan tangisannya, dan sekarang aku yang merasakan itu semua.


Bodoh,bodoh,bodoh kamu Alim, kamu sudah benar benar bodoh, tertipu dengan wanita seperti Piana,sampai lupa dengan kewajiban kewajiban terhadap Alma, alim menangis merutuki dirinya sendiri, dia menepikan mobilnya di pinggir jalan, menumpahkan semua sesak di dadanya, air matanya terus mengalir seiring rasa sesal yang mendalam.


Alma maafin ayah nak, maafin ayah yang sudah menelantarkan kamu, maafkan ayah yang tak pernah mau tau tentangmu, mulai saat ini, ayah janji, ayah akan mengganti semua kejahatan ayah selama ini, ayah akan menebus kesalahan ayah, ayah akan memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu nak, Alim menangis terisak sendirian, pikiran dan hatinya terus berkelibatan tentang kelalaiannya pada gadis kecilnya.


Sementara itu, Piana sudah sampai dirumah dengan naik taksi online, ia bergegas masuk ke dalam rumah, mencari keberadaan suaminya, namun kembali di ingatnya kalau tadi saat melewati halaman rumahnya tidak ditemuinya mobil Alim ataupun mobilnya di garasi, lalu kemana mas alim saat ini?


'Aaaaarrrgh sialan, kenapa semua jadi rumit begini sih.'


Piana mengacak ngacak rambutnya sendiri, saat ini penampilannya sangat memprihatinkan, rambut acak acakan, dan bajunya nampak kusut dan berantakan.

__ADS_1


__ADS_2