
Dimas memilih kerja setengah hari, ingin menemani istri dan anaknya dirumah, menghabiskan waktu bersama, yang akhir akhir ini jarang sekali dilakukan.
"Loh Mas, kok tumben jam segini sudah pulang?" sambut Rihana saat melihat Dimas keluar dari mobil dengan tersenyum hangat. Rihana sedang menikmati waktu santainya, duduk di teras dan menemani Alma bermain sepeda yang ada di halaman rumahnya yang luas.
"Iya sayang, ingin menghabiskan waktu sama wanita wanita cantik dirumah ini." sahut Dimas menggombal istrinya yang langsung terlihat merona.
"Kamu ya, Mas. Bisa saja bikin aku merona gini." balas Rihana manja dan langsung meraih tangan suaminya, menciumnya dengan takzim, lalu mengambil tas kerja di tangan Dimas, mereka bergandengan masuk ke dalam rumah.
"Alma, bunda masuk ke dalam dulu ya, mau bikinin kopi papa dulu. Hati hati main sepedanya." Sebelum masuk, Rihana berpamitan dengan Alma yang sedang asik dengan sepedanya dan di temani sama pak Bagus.
"Oke, bunda!" Alma mengacungkan kedua jempol nya dengan sumringah, Dimas tertawa melihat anak sambungnya yang semakin dewasa saja, cantik seperti ibunya.
"Papa, makan dulu ya, nanti papa akan temani main sepedanya." sahut Dimas menatap putrinya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.
"Siap, papa!"
Hal-hal kecil seperti ini lah, yang membuat hubungan semakin erat dan harmonis, karena sebagian orang mungkin sedikit melupakan hanya karena alasan kesibukan karena pekerjaan yang tak pernah ada habisnya.
Pukul tiga sore, Dimas, Rihana dan Alma sedang asik menikmati waktu di halaman depan rumahnya yang luas, Dimas dan Alma asik berkeliling naik sepeda, sedangkan Rihana memilih menyirami bunga bunga kesayangannya dan sekali kali Rihana usil dengan menyemprotkan air ke arah anak dan suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Bu Endang yang penasaran dengan laki laki yang tadi pagi dia lihat, terus berusaha untuk mengingatnya, namun belum juga bisa mengingatnya. 'Biar nanti aku tanyakan sama Reni, siapa tau dia juga sudah melihat orang itu dan ingat siapa dia.' Batin Bu Endang bermonolog.
"Apa yang dilakukan wanita itu, kenapa dari tadi aku tidak melihatnya turun, apa kerjaannya cuma begini saja setiap hari, terus apa gunanya dia jadi istrinya Rudi? gak ada gunanya sama sekali dan cuma bisa minta uang saja." rutuk Bu Endang tak suka. Kaki tuanya mulai menaiki tangga satu demi satu. Dan akhirnya sampai di depan kamar Piana yang pintunya sedikit terbuka. Bu Endang membekap mulutnya, saat melihat pemandangan di dalam kamar tersebut, tak percaya jika anaknya bisa jatuh ke pelukan perempuan hina seperti Piana.
Saat Bu Endang mengintip kegiatan menantunya di balik celah pintu yang sedikit terbuka, Piana ternyata sedang melakukan Vidio call dengan seorang laki-laki yang Bu Endang tidak kenal, dengan gaya erotis dan gerakan yang menjijikkan dengan tanpa menggunakan sehelai kain pun, Piana mendesah dan menikmati permainannya dengan pria yang ada di layar ponselnya. Suara suara menjijikkan itu membuat Bu Endang mual mau muntah.
"Dasar wanita gila, kelakuannya sangat menjijikkan. Untung aku selalu membawa ponsel kemana mana, akan aku rekam, biar Rudi tau perbuatan istri ****** nya itu." Bu Endang memaki sendiri di dalam hatinya dan dengan pasti mengeluarkan ponsel di saku dasternya, lalu mulai merekam apa yang menantunya lakukan di celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
Setelah dirasa cukup, Bu Endang memilih kembali turun dan langsung duduk di sofa ruang tamu, air matanya kembali turun, tidak menyangka jika salah satu anaknya akan menikahi wanita semacam Piana, menjijikkan dan tidak punya harga diri sama sekali. Bahkan sudah di nasehati seperti apapun, seolah Rudi tidak mau tau dan sana sekali tidak mau mendengarkan.
"Mungkin dengan aku mengirimkan Vidio ini, Rudi akan terbuka matanya dan meninggalkan perempuan murahan itu. Ya Rabb, jauhkan anakku dari wanita itu, jauhkan kami dari perbuatan yang menjijikkan dan mengundang murkaMU." Bu Endang tak lagi bisa menahan sesaknya, dia dan harapan yang ia sematkan untuk anaknya agar terbuka mata dan hatinya nya dan kembali seperti Rudi yang dulu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Reni mengedarkan pandangannya ke sekitar, rumah rumah mewah, besar dan megah menghiasi pemandangan komplek tempatnya tinggal saat ini. Saat kakinya melangkah di depan salah satu rumah yang berjarak tiga rumah dari rumahnya, Reni berhenti karena merasa mengenal orang yang ada di dalam pagar tersebut, laki laki yang sedang tertawa bersama kedua wanita. Reni memilih menghampiri pos satpam dan berniat bertanya, ingin memastikan apa yang dilihatnya.
"Permisi pak, saya boleh tanya sesuatu?" sapa Reni pada satpam yang sedang berjaga.
"Iya, mbak. Ada yang bisa dibantu?" balas pak Roni sopan.
"Apa itu, benar namanya pak Dimas?"
__ADS_1
"Oh itu, iya mbak benar, itu pak Dimas dengan istri dan anaknya. Yang punya rumah ini." pak Roni menjelaskan dengan ramah, dan Reni membalasnya dengan senyuman lalu berpamitan, kembali ingin melanjutkan langkahnya, tinggal tiga rumah lagi jarak yang harus di tempuh.
Rihana menyadari ada perempuan di balik pagar yang sedang bicara dengan pak Roni dan langsung menghampiri pak Roni untuk menanyakan rasa penasarannya.
"Siapa pak?" suara Rihana yang tiba tiba membuat pak Roni berjingkat kaget.
"Waduh Bu, kaget saya mah." pak Roni mengelus dadanya dengan mimik yang lucu, membuat Rihana ingin tertawa.
"Maaf, gak sengaja pak, Roni!"
"Itu tadi, ada mbak mbak, yang nanyain pak Dimas." sambung pak Roni menjawab pertanyaan Rihana yang tadi belum dijawab kerena masih kaget dengan kedatangan Rihana yang tiba-tiba muncul.
"Wanita? menanyakan Mas Dimas? siapa?"
Rihana mengerutkan keningnya dengan pertanyaan beruntun membuat pak Roni bingung mau jawab apa, karena memang pak Roni tidak tau maksud perempuan tersebut yang menanyakan nama majikannya.
"Ya, saya gak tau, Bu. Habisnya, mbak tadi cuma menanyakan namanya bapak saja, lalu pergi dan berjalan ke arah sana, kayaknya dia masih kuliah, tadi bawa buku juga memakai tas punggung." pak Roni mengatakan apa yang dia tau tanpa ingin menutupi.
"Ada apa, Sayang?"
tiba tiba Dimas muncul di belakang istrinya, karena penasaran melihat istrinya yang bicara dengan satpam yang berjaga di rumahnya itu.
__ADS_1
"Itu, tadi aku melihat ada wanita yang bicara sama pak Roni di balik pagar. Dan katanya pak Roni, dia nanyain kamu. Siapa dia Mas? apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Kamu selingkuh, Mas?" tuding Rihana yang langsung menangis begitu saja.
Dimas yang tidak tau apa apa langsung dibuat panik dengan sikap istrinya. "Oh wanita, unik memang."