
Selama dua Minggu Alim juga Safitri disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Dan besok adalah hari bahagia itu akan tiba. Dengan memantapkan hati, Alim memutuskan untuk datang langsung ke tempat Rihana bersama dengan Safitri untuk memberikan undangan dan juga sekaligus ingin mengenalkan calon ibu sambung anaknya. Alim merasa harus melakukan itu, agar antara Safitri dan Rihana bisa menjadi teman baik dalam mengasuh Alma, karena bagaimanapun nantinya mereka juga akan sering berkomunikasi.
"Fit, hari ini kamu ikut aku kerumahnya Rihana ya. Kita kasih undangannya langsung dan juga sekaligus silaturrahmi agar kamu dan Rihana bisa saling mengenal." ucap Alim mantap, dan Safitri langsung terpana, karena merasa belum siap jika harus berhadapan langsung dengan perempuan yang sampai saat ini masih ada di dalam hati calon suaminya. "Tapi, Mas!" Safitri berusaha untuk menolak, namun Alim terus memaksa dan memberi pengertian agar Safitri mau ikut, dan biar tidak ada salah paham nantinya. "Kenapa? apa kamu masih merasa gak pantas lantaran minder dengan Rihana, Fit?" sambung Alim menatap Safitri yang langsung menunduk.
"Iya, Mas." Sahutnya lirih dengan hati yang mulai berkecamuk. "Sudah, santai dan tenangkan dirimu, Rihana itu baik dan lembut orangnya, bahkan dia tidak pernah melihat orang dari hartanya, lagian dia juga tidak akan menilai kamu macam macam, Rihana sudah bahagia dengan keluarga barunya, aku hanya ingin menghargainya karena dia ibu dari anakku. Semoga kamu bisa memahami ini ya, Fit!" lanjut Alim penuh dengan penegasan dan Safitri akhirnya mau mengikuti apa yang menjadi keputusan Alim, berusaha untuk menguatkan hati, jika nanti Alim akan fokus pada Rihana. "Baiklah, kamu siap siap gih, aku tunggu di luar." Alim mengusap lembut bahu Safitri dan melangkah keluar ruangan menuju dimana mobilnya terparkir.
Selama dalam perjalanan Safitri maupun Alim tidak ada yang mengeluarkan satu patah kata. Alim sibuk dengan perasaannya sendiri, menguatkan hati agar bisa melawan gejolak rasa tentang Rihana dan mulai belajar menempatkan Safitri di hatinya. Sedangkan Safitri berusaha menata hati dan pikirannya agar nanti, saat dia melihat sorot cinta Dimata suaminya pada Rihana. Dia mampu memahami dan mengerti tanpa merasakan sakit hati, sebab semua keputusan sudah dia ambil dengan segala resikonya yang memang belum dicintai oleh Alim. "Mbak Rihana sudah memiliki suami yang sangat menyayanginya, pun dengan mbak Rihana yang juga terlihat sangat mencintai suaminya, bahkan mbak Rihana sedikitpun sudah tidak menaruh rasa apapun terhadap Mas Alim, hanya saja Mas Alim yang belum mampu membuang perasaannya terhadap mbak Rihana, aku tidak perlu hawatir berlebihan, mungkin aku hanya butuh waktu sedikit lagi untuk bisa dicintai olehnya." safitri bergumam sendiri di dalam hatinya, meyakinkan dirinya jika semua akan baik baik saja.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, Alim sudah berada di pekarangan rumah Rihana yang cukup luas, nampak mbok Jum tergopoh membukakan pintu gerbang, karena Pak Bagus sedang menjemput Alma di sekolah.
__ADS_1
Rihana sedang duduk santai di depan laptopnya, menuangkan bait demi baik aksara sebagai pelepas rasa rindunya dalam dunia menulis.
"Bu! diluar ada pak Alim dengan seorang perempuan, ingin bertemu dengan njenengan." Mbok Jum menyampaikan kepada Rihana jika sedang ada tamu yang sudah menunggu. "Mas Alim, mbok? dengan perempuan?" ulang Rihana mengernyitkan dahi menatap ART nya yang tersenyum penuh arti. "Iya Bu, ada pak Alim bersama perempuan cantik dan masih muda gitu, mereka ada di ruang tamu sedang menunggu Bu Rihana." balas mbok Jum bicara jujur apa adanya.
"Yasudah, sebentar lagi aku akan menemui mereka, mbok buatkan mereka minum dan cemilan ya mbok." Sambung Rihana lembut, sambil hatinya terus menerka perihal kedatangan Alim yang tak biasa. Rihana memakai jilbab panjangnya sebelum keluar kamar menemui Alim dan Safitri.
"Maaf agak lama ya menunggunya?" sapa Rihana yang sedikit kesusahan berjalan, karena perutnya sudah mulai membesar, bahkan untuk duduk pun juga agak sedikit kerepotan, kehamilannya kali ini sangat berbeda dengan waktu Rihana mengandung Alma, namun dari prediksi dokter, Rihana mengandung anak kembar laki-laki, sewaktu Rihana melakukan USG.
Tanpa Alim sadari, Safitri terus memperhatikan gerak geriknya, hatinya sedikit terluka saat melihat ada sorot rindu yang berkobar di kedua mata Alim untuk Rihana yang bahkan sama sekali tidak mau melihatnya, justru Rihana, tersenyum dan fokus pada Safitri.
__ADS_1
"Owh iya, Rihana! Kenalkan, ini Safitri calon istriku." Alim akhirnya memperkenalkan Safitri pada Rihana sebagai calon istrinya dan itu sedikit membuat hati Safitri menghangat, lega karena kehadirannya merasa dihargai oleh calon suaminya. "Alhamdulillah. Salam kenal ya mbak, saya Rihana ibu nya Alma." balas Rihana ramah dan mengukir senyuman manis menatap Safitri yang tengah Merona. Safitri dan Rihana berjabat tangan dan saling melempar senyum.
"Maksud kedatanganku kesini, ingin memberikan ini, besok kami akan menikah, kalau kamu dan suami sedang tidak sibuk, mohon datanglah dan kami meminta doa semoga acara berjalan dengan lancar dan pernikahan ini membawa kebaikan untukku dan juga untuk Safitri menuju keluarga yang sakinah mawadah warahmah, Amin." sambung Alim tegas dan mengulurkan undangan pernikahan warna gold yang indah, berusaha menutupi rasa gugupnya tatkala matanya menatap Rihana yang tersenyum dan ikut merasakan bahagia dengan keputusan mantan suaminya.
"Insyaallah, aku dan mas Dimas akan datang, dan doa kami selalu yang terbaik buat kalian, Safitri aku yakin, kamu wanita terbaik yang akan membawa mas Alim bisa menjadi lebih baik dan aku titip Alma ya, kalau dia pas lagi jadwal bersama kalian, aku mohon sayangi dia juga." balas Rihana menatap lekat ke manik mata Safitri yang mulai merasa tenang dan bersikap biasa tanpa sedikitpun mau menyimpan cemburu, karena Safitri bisa melihat kalau tak ada lagi perasaan apapun di diri Rihana untuk Alim, bahkan saat Safitri perhatikan, justru Rihana sangat senang dengan berita pernikahannya.
"Pasti, mbak. Aku janji, akan menyayangi Alma, jujur aku sudah jatuh cinta dengan dia saat pertama kali kami bertemu, dia anak yang cerdas dan juga ceria, hatinya lembut dan baik, sama seperti mbak." Safitri mencoba mengakrabkan diri pada Rihana yang ternyata memiliki hati yang baik dan ramah padanya. Safitri memang sangat menyukai Alma yang menurutnya memang baik dan pintar.
"Alhamdulillah, terimakasih ya mbak, tapi jangan berlebihan menilai saya, saya tak sebaik itu, hanya sedang berusaha untuk menjadi lebih baik." sahut Rihana akrab.
__ADS_1
Setelah berbincang beberapa saat, Alim memutuskan untuk berpamitan pulang, karena masih banyak yang harus diurusi, waktunya hanya tinggal hari ini, dan Rihana memberikan doa terbaik dan ikut senang atas pernikahan mantan suaminya yang dulu sempat ia benci dan hindari. Tapi sekarang dia sudah berubah menjadi laki laki baik yang bertanggung jawab, Alhamdulillah.