
POV Rihana
Setelah hampir menyerah dengan berbagai cobaan hidup. Kini aku mulai mereguk bahagia. Di cintai pria yang begitu tulus dan sangat menjaga kehormatan ku. Sejak menikah dengan Dimas aku merasakan menjadi istri yang sesungguhnya. Dimas memperlakukanku dengan begitu lembut. Bahkan dia pun juga menerima Alma seperti anaknya sendiri. Hari hari yang aku jalani tampak penuh dengan warna cerah di setiap detiknya.
Dan aku juga lega, dengan perubahan mantan suamiku. Sikapnya sudah berubah jauh lebih baik. Bahkan terlihat begitu menyayangi Alma. Sepertinya memang Mas Alim sangat berusaha untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Itu terbukti bagaimana dia memenuhi tanggung jawabnya pada Alma. Aku senang melihat sosoknya yang sekarang. Semoga saja kelak, Mas Alim menemukan wanita yang baik untuk jadi pendampingnya. Tapi sudah beberapa bulan belakangan ini, Mas Alim jarang sekali menjemput Alma ke rumah, katanya lebih enak langsung menjemput disekolah agar bisa langsung jalan katanya. Aku sih tak masalah. Selama Alma bahagia dan Mas Alim bertanggung jawab, aku tidak akan membatasi pertemuan antara ayah dan anak, karena bagaimanapun Alma butuh figur ayah kandungnya sebagai pelindung dan tempat ternyaman.
Sejak aku nyatakan hamil, tubuh ini sering lemas, bahkan selalu saja muntah-muntah, sepertinya calon bayiku sedang menguji kesabaran bundanya. Dan Alhamdulillah nya, aku memiliki suami yang selalu siap dan perduli dengan keadaan ini.
Hari ini, Alma akan dijemput oleh mas Alim di sekolahnya dan semalam putriku itu sudah berpamitan untuk nonton film kesukaannya bersama ayahnya. Akupun hanya mengangguk dengan cerita Alma, melihatnya tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria dan pintar sudah membuatku sangat bersyukur. Semoga Alma tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang dari kami orang tuanya. Karena sejak kecil dia sudah mengalami kehidupan yang berat.
"Ma, kok melamun sih, kenapa?" tiba tiba suara mas Dimas membuyarkan lamunanku tentang perjalanan hidup yang terlalui selama ini.
"Gak kok Mas, teringat sama anak gadis saja. Entahlah tiba tiba kepikiran Alma saja " balasku jujur, sambil tangan ini sibuk mengelus pigura yang terdapat foto cantiknya Alma." Mas Dimas, tersenyum dan merangkul ku dari belakang. Dia mulai menciumi kepala ini dengan lembut, aroma tubuhnya selalu membuatku nyaman berlama lama dekat dengannya. "Mas, makasih ya, sudah jadi suami yang baik untukku dan terimakasih sudah menyayangi Alma seperti anak kandungmu sendiri." Mas Dimas semakin mengeratkan pelukannya, dan hanya sapuan lembut dari bibirnya yang menyentuh pipi ini. Hangat dan sangat nyaman di perlakukan sebegitu indah oleh suami. " Aku mencintaimu lebih dari apapun sayang, bagiku kamu perempuan istimewa, luar biasa dalam segala hal di mataku. Dan untuk Alma, aku menyayanginya, karena dia pantas untuk di sayangi, di jaga dan di lindungi. Sekarang aku ini papa nya, meskipun Alim sudah berubah dan bertanggung jawab. Tetap Alma tanggung jawabku juga. Dia anak pertama kita sayang."
__ADS_1
Aku hanya bisa terdiam, menatap lekat sorot mata suamiku, mencari kesungguhan disana, dan aku menemukannya. "Terimakasih Mas, aku sangat mencintaimu." Dan selanjutnya kami larut dalam sentuhan sentuhan rasa yang mulai menggebu.
Saat kami akan melakukannya lebih jauh, tiba tiba suara ponselku berdering berulang kali, ternyata Alma yang menghubungi. "Asalamualaikum bunda." suara cemprengnya terdengar begitu ceria di ujung sana. "Waalaikumsallam anak gadis bunda, ada apa nak?" balasku lembut sambil melirik wajah kesal mas Dimas yang terganggu kesenangannya. "Aku mau minta ijin tidur dirumah ayah ya bunda, malam ini saja, karena besok aku mau ajak ayah jalan jalan ke air terjun. Boleh kan bund?" tanya gadisku diseberang sana. "Boleh nak. Tapi Alma harus janji sama Bunda, gak boleh nakal, harus nurut sama ayah dan jangan lupa untuk lima waktunya ya nak." terdengar pekikan bahagia dari ujung sana, anak gadisku begitu senang dan mulai nyaman dengan keberadaan ayahnya.
"Ada apa Ma? tanya Mas Dimas setelah aku menutup telpon dari Alma. "Alma minta ijin, malam ini tidur dirumah ayahnya, karena besok mau jalan jalan ke air terjun katanya." jelas ku apa adanya. Dan tanpa banyak bicara lagi Mas Dimas kembali melakukan aksinya. Kami pun kembali larut dalam gelora panas yang menjalari seluruh tubuh, mengarungi indahnya surga dunia menuju puncak nirwana.
'Setelah pernah begitu patah, aku tidak tertarik lagi untuk mencintai siapa pun. Mungkin karena luka lamaku belum sepenuhnya pulih atau mungkin karena aku masih terlalu penakut untuk memilih.
Hingga akhirnya kau datang menjanjikan tenang, menjanjikan sembuh yang paling aku butuh, menjanjikan harapan yang paling aku harap-harapkan, membuat aku percaya, bersamamu aku akan kembali menemukan bahagia. Dan kini, aku benar benar merasakan bahagia bersamamu, bahkan lebih dari itu.'
Memandangi wajah tampan suamiku ketika dia terlelap sudah menjadi kebiasaan ku saat ini. Selalu bersyukur memilikinya saat ini. Kehadiran Mas Dimas sudah menjadi penawar laraku dari duka masa lalu.
"Kenapa sayang? kok gak tidur?" tiba tak Mas Dimas membuka matanya dan tersenyum melihatku yang sedang menatapnya, tangannya terulur untuk membelai pipi ini, Mas Dimas merubah posisinya dengan terlentang serta memintaku untuk bersandar di dada bidang nya yang putih.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan Ma, apa ada sikapku yang menyakitimu?" lanjutnya dengan tangan yang masih mengelus pipi ini.
"Gak ada Mas. Aku hanya ingin menatap wajah tampan suamiku yang sedang kelelahan setelah mengalahkan ku, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalin aku." jawabku yang tiba tiba terbawa perasaan.
"Hay, aku tidak bisa melihat wanita lain selain kamu, bagiku kamu itu segalanya. Jangan mikir macam macam, aku sangat mencintaimu istriku. Bahkan aku tidak akan sanggup jika harus kehilanganmu." Mas Dimas semakin mengeratkan pelukannya. Berkali kali mengecup kepala ini dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih Mas."
"Yuk, kita main air" balasnya yang disertai kerlingan nakalnya.
Untuk ketiga kalinya, kami mengulangi romansa bercinta tanpa lelah dan bosan, karena ini salah satu cara untuk membuat hubungan kami semakin membara. Saling menyalurkan ritme yang penuh gairah, yang disertai suara suara manjanya, sungguh dengannya aku selalu merasa melayang dan merasakan apa itu cinta.
Merasa dihargai sebagai seorang istri, merasa dicintai dan dibutuhkan oleh makhluk yang disebut suami. Yang dulu tidak pernah Rihana rasakan saat masih berumah tangga dengan Alim. Hanya hinaan, bentakan, Bahkan tak le nah dianggap ada keberadaannya. Semua sudah berlalu, duka itu kini berganti dengan bahagia dan membuatnya merasakan arti seorang istri yang sesungguhnya.
__ADS_1