
Pernikahan yang dilangsungkan di rumah Safitri memang terlihat meriah, tapi juga tak terlalu mewah, konsep yang diambil keduanya memang memilih konsep sederhana tapi elegan. Bagi Alim yang penting sah nya pernikahan dan bagaimana menjalani kehidupan rumah tangganya nantinya. Sedangkan bagi Safitri, asalkan Alim bisa menerimanya dan bersikap baik dalam memperlakukan dirinya. Tamu undangan datang silih berganti, mulai dari tetangga, teman keduanya dan juga kerabat dekat maupun jauh.
Alma juga terlihat sangat cantik, karena dia juga didandani dan ikut duduk di dekat sang ayah.
Senyum selalu merekah di bibir Alim dan Safitri, meskipun bagi Alim cinta itu belum hadir, tapi setidaknya, Alim sudah bisa menerima kehadiran Safitri dan akan berjuang keras untuk membuka hatinya agar bisa menghadirkan cinta untuk wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mas, kenapa kamu lihatin aku begitu?" Rihana mengernyit menatap suaminya yang sedari tadi tidak melepas pandangan padanya yang sedang siap-siap akan pergi kondangan ke pernikahan mantan suaminya. "Kamu cantik sekali sayang, pantesan Alim bisa cinta mati dan sulit melupakanmu." sahut Dimas dengan masih menatap istrinya penuh arti. Rihana makin mengerutkan dahinya, memilih diam, tak mau menanggapi, takut salah bicara dan akan menjadi salah paham yang bisa menimbulkan masalah. Karena Rihana tau, Dimas sangat sensitif jika membahas soal Alim, cemburu selalu membuatnya salah mengartikan, jadi Rihana memilih bungkam dan hanya mendengarkan celoteh sang suami.
__ADS_1
"Kenapa kamu cuma diam saja? Apa kamu sedang terpikirkan dia saat ini." lanjut Dimas dengan tatapan sedikit menajam. "Mas! Sudah! jangan membahas apa yang membuat kamu tidak nyaman, aku tau kamu cemburu, tapi harus selalu kamu ingat, aku ini istrimu, aku milikmu dan aku sangat mencintaimu, terlepas seperti apa perasaan Mas Alim terhadapku, itu bukan urusanku, aku juga tidak kuasa untuk melarangnya, Namun perlu kamu tau, di hatiku sudah tidak ada lagi cinta atau rasa apapun tentang Mas Alim, yang aku tau dari dia hanyalah Mas Alim ayah dari Alma, sudah itu saja. Sudah ya, jangan di bahas." Rihana menatap Dimas dengan lembut dan penuh cinta, berusaha untuk membuatnya paham jika apa yang dipikirkan dan dirasakannya tentang Alim itu salah, karena Alim adalah masa lalu yang buruk bagi hidup Rihana, jadi tidak ada alasan sedikitpun untuk Rihana membuka kesempatan bagi Alim masuk dalam hatinya. Cukup, Rihana hanya sebatas mengenal Alim sebagai ayah kandung dari Alma, sudah itu saja.
Dimas tersenyum, dan meraih tubuh istrinya dalam dekapan. Diciuminya pucuk kepala Rihana berulangkali, menyesal karena sudah berpikir buruk pada istri yang begitu mencintai dan patuh padanya, hanya karena rasa cemburu yang tak beralasan itu, Dimas sudah membuat Rihana merasa kesal tapi dengan sangat baik Rihana menutupi kekesalannya dan mengganti dengan senyuman, agar tidak berlarut dalam menyikapi masalah yang seharusnya tidak terjadi.
"Maafin aku sayang, maaf kalau aku masih saja cemburu saat bicara soal Alim, padahal aku tau, kalau kamu tidak sedikitpun punya rasa padanya. Maaf ya!" Dimas masih memeluk Rihana dalam dekapannya dan terus mengucapkan kata maaf.
Dimas langsung melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah ayu Rihana dan tersenyum. " Kita akan kesana, aku juga sudah siap dan istriku sudah cantik juga, bahkan kita sudah menyiapkan kado buat mereka, aku juga ingin melihat Alma yang di dandani sangat cantik disana. Sekarang perasaanku sudah jauh lebih baik, aku turut ikut senang Alim menikah, itu artinya dia tidak akan lagi mencuri pandang pada istriku." sahut Dimas panjang lebar dan membuat Rihana menggelengkan kepalanya. "Yasudah aku akan kembali bersiap, tinggal memakai jilbab saja." balas Rihana dan kembali berjalan menuju meja riasnya berdiri didepan cermin dan memakai jilbab panjangnya, anggun dan sangat cantik.
"Sayang, kamu tertutup rapat kayak gini saja masih terlihat mempesona, apa lagi kamu berdandan seksi, pasti tidak ada yang tidak memperhatikan istriku, tetaplah begini ya, jangan sekalipun kamu menampakkan keindahan mu pada orang lain, cukup untukku saja dan hanya aku saja yang berhak menikmatinya.
__ADS_1
"Iya sayang, lagian aku juga gak terbiasa pakai baju yang terlihat lekuk tubuhnya, bukankah selama ini aku tidak pernah membantah mu, Mas. Aku selalu berusaha menjaga kehormatan dan sangat menghargai kamu sebagai imam aku." balas Rihana lembut dan menatap manik hitam suaminya yang penuh dengan sorot cinta untuknya.
Tok tok tok
Pintu terdengar diketuk dan suara mbok Jum terdengar memanggil. Pak, Bu! maaf diluar ada tamu mencari Bu Rihana." suara mbok Jum membuat Rihana mengernyit heran. "Tamu? siapa ya Mas? aku merasa tidak sedang ada janji dengan siapa pun." Rihana menatap suaminya bingung. "Biar aku yang buka dan bicara sama mbok Jum." balas Dimas tenang dan berjalan membuka pintu kamarnya, terlihat mbok Jum sudah ada di depan pintu dan mengulangi ucapannya kalau diluar sudah ada tamu yang menunggu.
"Siapa mbok?" sahut Dimas tenang dan menatap ke bawah yang langsung menghubungkan ruang tamu, nampak seorang wanita yang tidak asing di mata Dimas sedang duduk memainkan ponselnya, sehingga tak sadar kalau dirinya sedang diperhatikan dari lantai atas. "Gak tau pak, katanya temannya Bu Rihana dan tadi bilang juga akan menjadi tetangga baru disini." mendengar penuturan mbok Jum, seketika Dimas mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah kamar yang terlihat istrinya sudah selesai bersiap dan menuju ke arahnya. "Siapa mas?" sahut Rihana penasaran karena sempat mendengar obrolan suaminya dengan mbok Jum dari dalam kamar. "Sepertinya aku pernah melihat perempuan itu, tapi dimana ya sayang? apa kamu mengenalnya?" sahut Dimas penasaran. Dan Rihana langsung mengarahkan pandangannya pada perempuan yang sedang duduk dibawah sana, meskipun menunduk tapi Rihana tau siapa perempuan itu, ada perasaan tak nyaman dengan kehadirannya, pasti dia akan membuat ulah dan mengganggu kehidupannya lagi. Melihat raut muka istrinya berubah tak suka, Dimas jadi semakin penasaran. "Ada apa sayang?" tanya Dimas penasaran dan menatap lekat ke manik coklat sang istri. Bukannya menjawab, Rihana justru meminta mbok Jum untuk membuatkan minum untuk tamunya. "Makasih ya mbok, tolong buatkan minuman, sebentar lagi aku akan turun menemuinya."
"gih Bu, saya permisi dulu." sahut mbok Jum ramah dan langsung melaksanakan perintah majikannya. "Apa kamu mengenalnya sayang?" ulang Dimas kembali, memastikan jika istrinya baik baik saja. "Iya, Mas. Aku sangat mengenalnya. Kita pernah bertemu dengannya sewaktu di mall beberapa waktu lalu, waktu kamu sedang asik memilih lingerie untukku, wanita itu datang dan membuat mood aku berantakan." sahut Rihana dingin dengan tatapan tajam mengarah ke arah perempuan yang masih dengan tenang duduk di tempatnya. "Apa dia?" belum selesai Dimas meneruskan ucapannya, Rihana sudah memotongnya. "Iya, Mas. Dia yang sudah menghancurkan rumah tanggaku dulu, dan kini sepertinya dia ingin mengulanginya. Sepertinya dia berniat untuk mendekati kamu." sahut Rihana tegas dan menatap lekat ke arah suaminya yang langsung menunjukkan ekspresi kaget. "Apa? kamu yakin sayang?" balas Dimas yang juga menatap lembut ke arah istrinya yang mulai gelisah. "Aku tidak akan biarkan dia merusak kebahagian kita, dan aku pastikan kalau aku tidak akan tergoda sama perempuan sepertinya, aku sudah punya kamu bahkan kamu lebih segalanya dari dia di mataku, jadi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan tinggal diam jika dia menyakitimu, sudah jangan cemas, aku akan selalu ada untukmu." Dimas berusaha memberi kekuatan kepada istrinya dan meyakinkannya agar tidak cemas berlebihan, karena sedikitpun tak ada terlintas di pikirannya untuk membuka celah pada perempuan lain, cintanya terlalu besar untuk Rihana.
__ADS_1