Tekanan Dari Mantan Suami

Tekanan Dari Mantan Suami
POV Melati


__ADS_3

Tiga puluh tahun lebih bukankah waktu yang singkat untukku mengenal siapa suamiku.


Banyak kecewa dan luka yang selama ini ku simpan, memendamnya sendiri, demi sebuah keutuhan rumah tangga ku dengan Mas Rudi.


Bodoh! Tentu saja, aku sudah menjadi perempuan bodoh selama bertahun tahun, selalu memafkan kesalahan suamiku saat dia memohon dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi. Namun itu tidak pernah bertahan lama, Mas Rudi akan mengulangi kesalahan yang sama, lagi dan lagi, hingga itu terjadi selama bertahun tahun.


Aku hanyalah manusia biasa, perempuan lemah yang bisa lelah. Rasa sakit yang selama ini hanya ku simpan, kecewa yang setiap kali menyiksa. Dan Luka yang kian lama kian menganga.


Saat pernikahan suamiku dengan wanita itu terungkap, saat itulah aku telah memantapkan hati ini, menutup semua celah kata maaf buat seorang lelaki penghianat sepertinya.


Mas Rudi tidak hanya selingkuh, tapi dia juga sudah mengelapkan uang di semua usaha milikku. Jumlahnya tidak main-main, ratusan juta sudah ia ambil tanpa ijinku.


Aku tak lagi ingin lemah dan terus diam dengan semua ulahnya itu. Sampai pada akhirnya, aku mengumpulkan anak anakku dan mengatakan semuanya, termasuk rencana ku untuk menggugat cerai Mas Rudi.


Alhamdulillah, anak-anakku sudah besar dan sudah mampu memahami permasalahan yang di sebabkan papa nya. Mereka semua memberikan perhatian dan dukungannya padaku, karena memang disini yang salah adalah Mas Rudi.


Menikahi perempuan bekas pelacur dan mencuri uangku seenaknya.


Mungkin aku bodoh, karena diam saja dan tidak mau menuntut perbuatan suamiku dan meminta kembali uang yang sudah dia curi. Namun disini aku berpikir kalau aku memang sudah lelah, dan tak ingin menambah masalah lagi, sudah cukup sampai disini saja.


Aku iklasan uang sebesar empat ratus juta yang diambil Mas Rudi. Entahlah aku merasa jika nanti dia akan sangat membutuhkan uang itu, aku gak tau kenapa pikiranku bisa seperti ini.


Meskipun hubungan ku dengan Mas Rudi sedang tidak baik, tetapi anak anakku tetap be hubungan baik dengan Beni, adiknya Mas Rudi. Dia memang sangat berbeda dengan kakaknya.


Beni lebih pendiam dan memilih hidup sederhana. Menyadari jika memang dia tidak memiliki apa apa. Sehingga Beni rela bekerja paruh waktu di bengkel temannya.


Bahkan, sejak tau Mas Rudi telah menikah lagi, Beni enggan pulang kerumah dengan berbagai macam alasan. Tapi Beni selalu berkomunikasi dengan Reni adiknya. Dari merekalah aku mendapatkan informasi tentang suamiku dengan perempuan yang bernama Piana, bekas narapidana dan seorang wanita penghibur.


Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan kabar kalau mas Rudi sedang bertengkar hebat dengan istri mudanya, bahkan dia sudah mengusirnya. Lantaran ketahuan sedang Vidio call tanpa mengenakan busana dan melakukan itu dengan seorang lelaki. Aksinya dipergoki oleh ibu mertuaku dan di vidio kan sebagai bukti untuk ditunjukkan pada anaknya. Ternyata mertuaku cerdik juga.


Setelah kejadian itu, sepertinya perempuan itu dendam dan tidak terima karena diusir oleh mas Rudi yang akhirnya dia pergi menemui atasan mas Rudi di kantor dan membongkar semuanya.


Aku tau karena sempat dapat telepon dari atasannya untuk memastikan kebenaran dari laporan yang dibuat perempuan itu. Ya aku pun juga mengiyakan, toh memang semua itu benar adanya. Dan ternyata mas Rudi benar benar dikeluarkan secara tidak hormat tanpa pesangon.


Mungkin itu balasan dan bisa jadi teguran dari semua perbuatannya yang gemar selingkuh.


Yang bikin aku muak saat tadi dia datang kerumah ini dengan wajah tanpa dosanya dan kembali memainkan drama menyesalnya.


Mungkin dia pikir aku akan termakan sandiwaranya itu. Aku bahkan sudah muak dan bosan melihat tingkah lakunya.


"Aku berharap, kita bisa kembali dan melupakan semuanya, mari kita mulai dari nol lagi. Aku tau kamu masih ingin mempertahankan rumah tangga kita kan?


Aku sudah menceriakan Piana dan aku berjanji tidak akan lagi mengulangi sesuatu yang menyakiti hati kamu dan anak anak.


Aku bersumpah!"


Kata kata yang terlontar dari mulutnya sama sekali tidak membuatku lantas percaya bahkan perduli, justru aku muak dan sangat kesal mendengarnya.


Enak saja, dia pikir dia itu siapa, seenaknya ingin mempermainkan hidupku.


Aku bukan lagu Melati yang dulu begitu takut dengan perceraian karena tidak ingin membuat keluargaku malu. Tapi sekarang aku sudah tidak memikirkan itu semua, papa dan mama sudah meninggal. Tidak ada lagi perasaan yang harus aku jaga. Karena aku percaya, anak anakku cukup dewasa dalam menyikapi permasalahan orang tuanya.


Karena ada saatnya kita harus bisa menentukan jalan takdir kita sendiri. Dan aku sudah memutuskan untuk memilih mengakhiri kisah ku dengan mas Rudi. Untuk menyelamatkan jiwa dan hidupku agar tetap waras dan kembali baik baik saja, Tanpa ada tekanan, sakit hati, benci dan terluka. Biarlah semua kembali berjalan sesuai dengan apa yang akan membuatku nyaman. Aku tak ingin lagi perduli dengan Mas Rudi dan nasibnya setelah ini. Semua berawal dari perbuatannya sendiri. Jadi silahkan menikmati balasan dari apa yang sudah dia tanam. Itu konsekuensinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pesan Cinta author Za ❤️


Entah seberapa panjang susunan huruf dlm uraian ini..


Namun tak sepanjang kisah yang ditempuh di tengah hujan bala'.


.

__ADS_1


Bukanlah mustahil jika mahabbah itu kadang lebih besar terhadap suatu isim alam yang kini sirna begitu saja..


.


Hilangnya membuat diri bagaikan


Isim Mufrod


Yang hanya berdiri tegak dalam kesendirian,


Laksana kalimat huruf yang tak memiliki makna


Tanpa bergandengan dengan yang lenyap itu..


.


Berbagai lafadz dan huruf sudah dikumpulkan untuk bersama Muzakar, muannats, dan lain lain, bala' datang merenggut membawa fi'il nahyi sudah hadirkan لاَ dan تَ, maka habislah perjalanan, maka tinggalah dhomir sendiri. Jika ada fi'il yang muncul lagi, mungkin hanya fi'il mudhori' yang menceritakan masa lalu.


.


Ketika manusia ada di present tense, pasti simple future tense akan turut melengkapi. Semua berlangsung mungkin bersama noun sebagai object, ditunjang oleh verb invinitive, modal auxiliary, pronouns, dan lain lain..


.


But finally, rencana dan rancangan tak seindah simple future yang sudah menjadi simple present. Maka yang tersisa hanyalah present perfect dan simple pastense, bahkan past future dan past perfect tak ketinggalan, tinggalah pronoun seorang diri. Maka segala rancangan dapat terenggut jadi kenangan sebelum jadi kenyataan..


.


Ada saatnya kita ditempatkan dalam keadaan terasing dalam menjalani ujian. Saat senang, banyak yang mengadu susah, tapi saat susah, tiada tempat mengadu tiada yang menyumbangkan bahagia.


Yah.. Seperti dhomir tanpa fi'il wa fa'il atau bagai noun tanpa verb and object.


.


.


Qod salaktu sabilarrosyadi muddatan thowilah


Telah kutempuh jalan petunjuk dalam masa nan panjang


.


وَقد أَصَابَنِيْ كَثِيْرٌ مِنْ الْبَلْوَى الاَّئِمَةْ


.


Dan telah menimpaku sekian banyak bala’ yang menyakitkan


.


الَّتِيْ رَمَتْ بِيْ إِلَى حَياَةٍ صَعْبَةٍ و شَديْدَةْ


.


yang mencampakkan ku pada kehidupan nan sulit dan berat


.


و شَقَّتِ النَّفْسَ الْمُغَيَّمَةَ وَالْهِمَّةْ


.


Serta meremukkan jiwa yang redup dan segala asa.

__ADS_1


.


الَّتِيْ رَمَتْ بِيْ إِلَى حَياَةٍ صَعْبَةٍ و شَديْدَةْ


.


yang mencampakkan ku pada kehidupan nan sulit dan berat


.


و شَقَّتِ النَّفْسَ الْمُغَيَّمَةَ وَالْهِمَّةْ


.


Serta meremukkan jiwa yang redup dan segala asa


.


فَياَ رَبَّناَ…


.


Duhai Rabb kami…


.


نَوِّرْنِيْ بِالْهُدَى وَالسَّعَادَةِ وَاْلاِسْتِقَامَةْ


.


Sinarilah diriku dengan hidayah, kebahagiaan, dan istiqomah


حَتَّى يَأْتِيَنِيَ اْليقِيْنُ بِلاَ خَسَارَةْ


.


Hingga kematian menjemput ku tanpa ada kerugian


.


إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةْ


.


Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha dekat, dan Maha Mengabulkan segala do’a


.


Namun yang terdekat dalam setiap situasi adalah Allah..


.


Maka do'a dan harapan tetap ada.


.


Allaahumma innii 'abduka wabnu 'abdika wabnu amatik, naashiyatii biyadik, maadlin fiyya hukmuk, 'adlun fiyya qadlaa'uk, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahuu fii kitaabika, au 'allamtahu ahadan min khalqika, awis ta'tsarta bihii fii 'ilmil ghaibi 'indaka, an taj'alal Qur'aana rabii'a qalbii wanuura shadrii wajalaa'a huzni wa dzahaaba hammii


.


Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku.


(H.R Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu)

__ADS_1


__ADS_2