
Sebagai kakak, Rokayah punya kewajiban untuk mengingatkan adiknya saat berada di jalan yang salah, setelah orang tua mereka meninggal, mereka hanya hidup berdua, saling membantu dan menyayangi satu sama lain, namun saat Alim memutuskan untuk berpisah dengan Rihana dan menikahi piana, Rokayah enggan untuk kembali ikut campur lagi dengan kehidupan adik satu satunya itu, tak bisa dipungkiri, Rokayah tidak menyukai Piana, karena Rokayah yakin kalau Piana bukanlah pilihan yang baik dan akan membuat hidup adiknya lebih berantakan, sekarang itu terbukti, saat ini hidup adiknya berantakan, bahkan usahanya juga sedang diambang kebangkrutan.
Rokayah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk adiknya.
Alim masih tidur dengan membawa sesak di dadanya, namun tiba tiba di kagetkan dengan suara bunyi ponselnya yang tak henti berdering.
Dengan kepala yang berdenyut dan terasa berat, Alim merogoh ponselnya di dalam saku celananya, dilihatnya di layar ponselnya tertulis nama Wahyu, salah satu mandor di gudangnya.
Dengan malas Alim menggeser tombol jawab dan terdengar suara gaduh di ujung sana, suara wahyupun nampak terlihat panik.
"Halo pak, bapak ada dimana?
saat ini salah satu gudang penyimpanan barang masuk kebakaran pak, bapak bisa segera kesini."
"Apa???"
alim berteriak dan hampir tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar dari salah satu anak buahnya.
"Terus sekarang bagaimana keadaan disana, apa sudah menghubungi petugas Damkar?
Saya akan segera kesana."
__ADS_1
Alim panik luar biasa, ibarat sudah jatuh masih juga tertimpa tangga, dan sakitnya itu loh jadi berlipat lipat.
Mendengar adiknya teriak, Rokayah menghampiri adiknya yang terlihat sangat pucat dan panik.
"Alim, kamu kenapa kok panik begitu, dan tadi mbak denger kamu teriak, ada masalah apa lagi sama kamu Lim?"
"Hidupku hancur mbk, hancur berantakan, istriku selingkuh, dan sekarang salah satu gudang penyimpanan barang ada yang terbakar." Alim menangis tergugu di pundak kakaknya.
Rokayah menepuk lembut pundak adiknya, berusaha memberi kekuatan.
"Kamu yang sabar yaa, mungkin ini teguran dari Alloh, agar kamu menyadari semua kesalahan kesalahanmu, sekarang kamu mau ke gudang atau menunggu kabar disini ?"
"Aku mau langsung melihat ke sana mbak,dan sekalian mencari tau apa aja yang sudah terbakar, semoga masih ada yang bisa diselamatkan.
Rokayah mengangguk dan memandangi punggung adiknya yang berjalan tergesa, dalam hatinya ikut merasakan nyeri oleh musibah yang menimpa adiknya, saat mobil Alim sudah tidak terlihat lagi, Rokayah terduduk lemas di atas kursi, dia menangis meratapi nasib adiknya.
Kurang dari tiga puluh menit, Alim sudah sampai ditempat kejadian dan disana sudah ada mobil pemadam kebakaran,dan petugasnya sedang berusaha memadamkan api yang masih nampak berkobar, seketika terasa lemas seluruh tubuhnya Alim, ia menangis tergugu di dalam mobil, terbayang semua perlakuan buruknya terhadap anak dan istrinya yang dulu, saat masih banyak uang dan hidup bergelimang harta, ia lalai akan kewajibannya, kini dalam sekejap Tuhan mengambil semua dari tangannya, saat sedang merutuki diri, ada yang mengetuk kaca mobilnya, sontak Alim langsung menyeka air matanya, tidak, dia tak ingin orang lain tau kalau dirinya saat ini sedang kacau, bisa runtuh kesombongannya selama ini.
Alim bergegas membuka pintu mobilnya sambil mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab, nampak Wahyu sedang berdiri menunggunya.
"Gimana yu, yang terbakar di gudang mana aja dan kira kira berapa kerugian yang kita tanggung?"
__ADS_1
Alim bertanya ke anak buahnya dengan wajah datarnya.
"Ada dua gudang pak, dan semua tempat penyimpanan kedelai yang baru masuk kemarin, total kerugian hampir tiga ratus juta."
Alim menghalau nafasnya dengan kasar, pandangannya nanar ke arah tempat kejadian kebakaran itu, mau gimana lagi, semua sudah terjadi, mau marah, siapa yang akan dimarahinya, saat ini yang harus di pikirkannya adalah,bagaimana dia bisa mengatasi semua ini dan kembali bangkit membangun usahanya yang sudah di ujung kebangkrutan.
Sambil bersedekap dada, Alim bicara dengan anak buahnya perihal penyebab kebakaran yang menghanguskan hingga dua gudang penyimpanan ludes tanpa sisa.
"Sudah diketahui penyebab kenapa bisa kebakaran, apa ada yang mencurigakan?"
Alim bertanya pada Wahyu yang berdiri dihadapannya.
"Sepertinya ada saluran listrik yang konslet pak, dan untuk lebih jelasnya biar nanti pihak yang berwajib yang menjelaskan ke bapak."
"Baiklah."
Alim tak banyak bicara dan tidak marah marah, itu membuat Wahyu bertanya tanya dalam hatinya, dia heran dengan sikap bosnya yang tidak seperti biasanya, biasanya sedikit saja ada kesalahan, dia langsung marah marah dan memaki sesukanya tanpa perduli dengan perasaan orang lain.
Piana seharian hanya mondar mandir tak jelas, hati dan pikirannya kacau, bingung bagaimana mencari alasan untuk menutupi perbuatannya, agar Alim bisa memaafkannya dan tidak menceraikannya.
Piana cuma memandangi ponselnya tanpa berani menghubungi suaminya, dia takut kalau alim makin murka, mungkin untuk saat ini lebih baik membiarkan mas Alim tenang dulu, nanti setelah keadaan membaik aku bisa merayunya kembali dan mencari cara agar dia mau memberiku uang lagi, kalau sampai ada perceraian diantara kami, bagaimana aku bisa membayar cicilan rumah yang baru aku ambil atas nama orang tuaku, itu aku lakukan karena aku ingin punya simpanan tanpa sepengetahuan suamiku, jika nanti aku bosan saat ingin meninggalkannya setidaknya aku sudah punya rumah dari hasil aku membodohinya, namun sial belum ada setahun sudah kacau begini.
__ADS_1
Piana tiba tiba ingat dengan sertifikat rumah yang sekarang ia tempati, iya sih ini rumah sertifikat nya atas nama mas Alim, tapi masih bisa aku jadikan jaminan untuk mencairkan pinjaman dalam jumlah besar, dan setelah itu uangnya bisa aku gunakan untuk senang senang, jadi saat mas Alim membuangku, aku tidak rugi karena sudah mendapatkan uang dari menggadaikan rumah ini.
Aku harus menghubungi Reno, dia kan kerja di bank xxx, barangkali bisa membantuku untuk memasukkan sertifikat ini tanpa ribet dan aku tinggal beri dia bonus nantinya, dan untuk tanda tangan mas Alim itu urusan gampang, karena aku sudah biasa memalsukan tanda tangan, Piana seketika langsung berubah ceria dengan rencana busuknya.