
Rihana kembali ke dapur meneruskan membuat kue.
Budhe tin hanya diam melihat perubahan wajah Rihana, wanita setengah baya itu seolah bisa memahami apa yang saat ini ada dalam pikiran keponakannya itu,lebih baik diam saja dan membiarkan Rihana menata hatinya dulu, toh nanti pasti dia akan cerita mesti tanpa ditanya.
Alim masih setia diam di tempat, duduk dan menyenderkan tubuhnya di kursi, pandangannya kosong, hatinya berkecamuk ada rasa tak rela dan sakit yang menjalar meluluh lantakkan jiwanya, tak terasa ada tetesan jernih yang merembes keluar dari kedua matanya, penyesalannya kini sudah tak berarti apa apa, sikap arogan dan ketidak peduliannya dulu kini telah sedikit demi sedikit menghancurkan hidupnya,inikah karma yang harus kuterima?
kenapa rasanya harus sesakit ini?
dalam Isak tangisnya, ternyata ada sepasang mata yang memperhatikan dari balik pintu kamar, Alma terpaku menatap ayahnya yang terisak sendirian di kursi ruang tamu, entahlah perasaan apa yang kini menghinggapi gadis kecil itu, yang ia tau adalah bagaimana sikap ayahnya selama ini yang tak sedikitpun mau perduli tentangnya.
jangankan perduli dengan kebutuhannya, bertanya kabar pun tidak pernah.
Menyadari kehadiran putrinya, Alim seketika langsung menghapus jejak jejak lelehan air bening yang membasahi wajahnya.
"Alma sudah bangun nak, sini ayah kangen ingin meluk Alma."
Alim meminta anaknya untuk mendekat dan duduk di sampingnya, namun Alma hanya diam tak bergeming dengan tatapan yang entahlah, itu semakin membuat Alim meradang, rasanya sakit saat darah dagingnya sendiri begitu asing pada kehadirannya.
ini semua salahku, sungguh aku menyesal, maafkan ayahmu ini nak.
Alim semakin tak mampu menahan air matanya, ia semakin terisak seiring rasa sesal yang mendalam, rasa bersalah yang tak mampu mengubah apapun atas perbuatannya dulu.
"Alma, maafin ayah nak, ayah mohon duduk lah di samping ayah, sini nak, ayah tidak akan nyakitin Alma, ayah janji tidak lagi bentak bentak Alma.
ayah cuma mau dekat dengan Alma, itu saja.
sini nak duduk samping ayahmu, jangan takut Yaaa."
Alim terus meyakinkan Alma agar mau mendekat padanya.
__ADS_1
Alma mulai melangkah mendekati ayahnya meskipun ragu, namun bagaimanapun Alim tetap ayah yang harus dihormati, bunda selalu bilang, 'jangan benci ayahmu karena ayah hanya khilaf, suatu saat nanti akan ada waktu ayah menyadari kesalahannya dan jika saat itu tiba, Alma harus memaafkan ayah dan terus mendoakan ayah dengan kebaikan kebaikan ya nak, Alma anak pinter dan baik kan?'.
Kata kata itu muncul dalam ingatan Alma, gadis itu tiba tiba menangis menahan rasa sesak tentang ingatan masa lalunya, namun Alma harus bisa melupakan, mungkin ini adalah waktu dimana ayah mulai menyadari kesalahannya dan menyesali perbuatannya, Alma terus bicara dalam hatinya.
Saat Alma mendaratkan bokongnya duduk disamping ayahnya, tiba tiba Alim meraih tubuh mungil putrinya dibawa kedalam pelukan, Alim menangis sejadi jadinya.
"maafin ayah nak, maafin yaa.
ayah janji mulai detik ini, ayah akan berubah, ayah akan menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab, Alma mau kan maafin ayah?"
Alma pun tak mampu membendung tangisnya, mereka berpelukan dalam Isak tangis, siapapun yang melihat akan larut ikut dalam alur kesedihan, tak terkecuali Rihana yang diam diam mengintip dari balik tembok penyekat antara ruang tengah dan dapur.
Rihana pun tak tahan ikut menangis, ada rasa lega karena mantan suaminya sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi putri yang seharusnya disayangi.
namun disisi lain, Rihana sudah tak mungkin lagi jika harus mengiyakan ajakan rujuk untuk kembali membina rumah tangga bersama Alim,
memaafkan itu mudah, namun untuk kembali lagi itu sudah tidak mungkin, karena perasaan sudah mati dan membeku.
Tanya Alma ragu menatap ayahnya.
"Maafin ayah nak, sekali lagi maafin ayah, Alma percaya ya sama ayah, ayah akan berubah dan ayah akan lebih perduli dan sayang sama Alma.
Alma mau kan maafin ayah dan percaya sama ayah?"
Alim menangkup kedua pipi Alma dengan kedua tangannya, ia berusaha meyakinkan putrinya untuk bisa mempercayainya.
'Iyaa, Alma sudah maafin ayah, bahkan sebelum ayah minta maaf, karena bunda selalu mengajarkan Alma untuk tetap sayang dan mendoakan ayah, meskipun ayah tak pernah menganggap ada kehadiran Alma."
Deg.....
__ADS_1
Alim seolah tertampar oleh ucapan gadisnya, nyeri sekali rasanya.
"sekali lagi, maafkan ayah yaa sayang."
Alma mengangguk dan tersenyum, tak dipungkiri ada berjuta bahagia yang tak bisa terucap dihatinya
ayah yang dirindukan, ayah yang selalu di doakan kini kembali datang untuk menawarkan kasih sayangnya, mungkin Tuhan mulai mengabulkan doa doanya.
"Hmmm ini tadi ayah bawa oleh oleh buat Alma, ada martabak, burger dan pizza.
Alma makan yang mana dulu nih, pasti bangun tidur anak ayah laper, iya kan?"
Yuk makan sama sama ayah, kita habisin yaa."
Alim merasa sangat senang karena Alma sudah mulai membuka diri untuknya dan Alim tak ingin melewati kesempatan itu.
"Mana habis, kan ini banyak banget yah."
Alma memanyunkan bibirnya, Alim tertawa gemas dengan tingkah gadis kecilnya, diusap nya lembut pucuk kepala putrinya.
"nggak papa kan nggak harus habis semua sayang, yang penting kita rasakan satu satu, iya kan?"
Alma tersenyum dan nampak binar bahagia dari sorot matanya.
"Baiklah yuk kita makan yaah, tapi sebentar ya Alma ambil tempat dulu buat bunda."
"Iya sayang, ayah tunggu disini yaa."
Alma menyisihkan beberapa untuk bundanya dan kembali membawa piring yang sudah berisi ke belakang untuk dikasihkan ke bundanya.
__ADS_1
"Saat alim sedang asik menikmati moment kebersamaannya dengan sang putri, tiba tiba ada seseorang yang datang dan langsung membuat mood nya hilang berantakan, tatapan kebencian dan rasa tak suka langsung ia tunjukkan pada seseorang yang saat ini sudah berdiri didepannya.
#kira kira siapa ya yang datang???