
"Alhamdulillah, menang. Kan ada ayah yang kasih semangat, juga ada bunda sama papa yang juga memberi suport ke aku, aku bahagia sekali punya banyak orang tua yang menyayangi, nanti akan tambah satu lagi, yaitu Tante. Tante mau menikah sama ayahku kan?" mendengar celoteh Alma, Alim langsung melebarkan matanya gugup, pun dengan Safitri yang langsung mendadak salah tingkah. Tak menyangka, Alma akan merespon dengan baik dan cepat tanggap dengan keadaan canggung antara ayahnya dan Safitri.
"Insyaallah." hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir kelunya Alim, terlihat Safitri mengulum senyum malu malu dengan menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Ayahku baik kok, Tan. Alma gak akan keberatan kalau ayah menikah dengan Tante, tapi tolong jangan sakiti ayah, dan sayangi ayah aku ya." Alma terus berceloteh yang membuat Safitri semakin salah tingkah, tapi untungnya, ada pelayan yang datang membawakan makanan yang tadi sudah di pesan. "Kita makan dulu ya nak, ngobrolnya disambung nanti lagi." Alim berkata lembut pada anaknya dan terlihat Alma langsung menurut, memulai menyantap makanan yang sudah terhidang di hadapannya. Mereka makan tanpa suara, fokus di piring masing masing hingga semua makanan habis tak tersisa, Alim tertawa melihat anak gadisnya menggeliat, terlihat dia begitu kekenyangan.
"Kenyang nak?" tanya Alim pada gadis kecilnya yang langsung mengangguk dan memamerkan deretan giginya yang putih.
"Kenyang banget yah, sampai perutku sedikit sesak ini, sakit." jawabnya lugu. "Yasudah, nanti pas di mobil di longgarin itu celananya biar perutnya gak sakit." Sahut Safitri lembut dan menahan senyumnya, melihat Alma meringis memegangi perutnya yang terasa begah.
"Ayah bayar dulu, kalian langsung saja ke mobil, nanti ayah susul." Alim menyerahkan kunci mobil pada Alma dan kedua wanita beda usia itu, melangkah keluar dari resto menuju tempat parkir.
"Tante, tadi kesininya naik apa?"
"Naik taksi online." Alma terlihat manggut manggut mengerti. "Alma mau kemana habis ini?" sambung Safitri setelah beberapa saat terdiam.
__ADS_1
"Kata ayah, tadi bilang mau jalan jalan, mau belikan hadiah buat Alma karena sudah menang lomba." jawabnya lugu.
"Wah, senangnya. Selamat ya." balas Safitri yang terus berusaha untuk mengakrabkan diri pada calon anak sambungnya yang menurutnya sangat cerdas dan menggemaskan.
"Nanti Tante ikut ya, biar aku ada teman ngobrolnya. Kalau sama ayah saja kurang seru, ayah banyak diamnya sih." celoteh Alma mengutarakan isi hatinya, dan ternyata Alim mendengarnya, karena sudah ada tak jauh dari tempat Alma dan Safitri berada. "Wah, ternyata ayah gak seru nih, yasudah ayah ngambek, gak mau lagi ajak jalan tuan putri." sahut Alim pura pura merajuk, dan Alma langsung membekap mulutnya dengan kelima jarinya. "Ayah dengar Alma bicara sama Tante Fitri?" bisik Alma pada ayahnya yang masih bisa terdengar oleh Safitri yang pura pura tidak dengar. "Iya, dengar, katanya gak seru." balas Alim yang langsung memasang wajah sedihnya.
"Tau gak, aku bilang ayah gak seru karena punya misi tertentu, buat Tante Safitri mau ikut kita jalan jalan, ayah itu teman terbaiknya Alma tau." jelas Alma yang masih berbisik dan Alim menahan tawanya karena tingkah konyol sang anak. 'Sepertinya Alma nyaman dengan Safitri. Aku harus berusaha untuk membuka hatiku untuknya, Bismilah.' ucapnya dalam hati.
Safitri menunduk menahan senyum melihat tingkah ayah dan anak yang menurutnya sangat indah sekali, Alim sangat menyayangi dan menjaga Alma sepenuh hati, pasti nanti dia juga akan menjaganya dengan lebih baik dan penuh kasih sayang, batin Safitri yang mulai tumbuh bunga bunga cinta yang bermekaran di hatinya.
"Yuk, nanti keburu sore. Kalau pulang malam di marahin bunda kan? karena besok masih masuk sekolah." Alim mengajak dua wanitanya untuk segera memasuki mobil dan menuju ke mall terdekat mencari hadiah buat tuan putri tersayang.
Alma memilih duduk di kursi penumpang, sedangkan Safitri dimintanya untuk duduk dekat sang ayah, di kursi depan. Selama di perjalanan Alma terus saja berceloteh khas anak anak yang meminta untuk diperhatikan dan ditanggapi, Safitri dengan lembut mampu mengimbangi calon anak sambungnya yang super cerewet dan ceria, melihat itu, Alim semakin mantap untuk menjadikan Safitri istri barunya. Karena Alma terlihat sangat nyaman dekat dengan Safitri.
"Ayah, nanti Alma hadiahnya boleh memilih sendiri gak?" tanya Alma pada ayahnya dengan ceria.
__ADS_1
"Boleh, emangnya Alma mau minta apa sayang?" balas Alim lembut dan menatap anaknya lewat kaca spion yang ada di depannya.
"Alma mau beli gamis, kembaran sama Tante Safitri. Boleh?" seketika Alim dan Safitri langsung saling bertatapan. "Kok sama Tante, kan Alma yang dapat hadiah. Jadi buat Alma saja." sahut Safitri merasa gak enak dengan Alim, takut kalau Alim berpikiran dirinyalah yang menyuruh Alma meminta hadiah untuknya juga, padahal gak sama sekali. "Iya Tan, Alma pingin kembaran sama Tante, biar kalau nanti kita jalan bareng lagi, bajunya bisa samaan gitu, kayak aku sama bunda Rihana juga sering gitu kok, boleh ya ayah?" tanya Alma sekali lagi pada ayahnya yang tersenyum tipis. "Iya, boleh sayang." balas Alim tenang dan fokus menyetir.
"Tapi bukan aku yang ." sebelum Safitri melanjutkan omongannya Alim segera memangkasnya dengan tegas. "Iya, aku tau. Kamu gak perlu hawatir." Safitri menarik nafasnya dalam dan kembali mengalihkan pandangannya pada Alma yang terlihat tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Tante tenang saja, ayahku itu baik, baik banget malah. Aku yang memintanya kok, jadi Tante gak usah takut dimarahin ayah, iya kan ayah?" tanya Alma melihat ke arah ayahnya. "Iya nak, apapun yang membuat anak ayah senang, selama itu tidak berlebihan dan menjadikan sebab ujub, insyaallah ayah akan mengabulkan." balas Alim bijak dan semakin membuat Safitri menaruh kagum pada lelaki berstatuskan duda keren nan tajir itu.
💓💓💓💓💓💓💓💓
"Sini Tante, ini gamisnya bagus bagus." Alma menggandeng tangan Safitri riang menuju toko yang memang khusus memajang baju baju muslim merk terkenal di tanah air milik salah satu artis ibu kota.
"Tante mau warna apa?" tanya Alma melihat Safitri yang kaku tak berani menyentuh baju baju yang terlihat sangat indah dimatanya itu, yang selama ini belum sekalipun dia bisa membelinya.
"Tante ikut saja pilihan Alma saja, Tante yakin pilihan Alma pasti yang terbaik." Safitri berusaha bersikap biasa saja agar tak terlihat gugup dan ndeso. Tangan kecil Alma dengan lincahnya memilah satu persatu gamis yang berjejer rapi dan pandangannya jatuh pada gamis warna merah maron yang terlihat sangat elegan. "Aku mau yang ini, tapi Tante ukurannya apa dulu? biar nanti di ambilin sama mbaknya." Alma seperti sudah sangat terbiasa berbelanja hingga sikapnya sudah seperti orang dewasa saja. Alim hanya diam memperhatikan tingkah anaknya yang terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Setelah, meminta pegawai toko mencarikan ukuran yang sesuai Safitri juga Alma dengan model yang sama persis, Alma membawa baju pilihannya pada sang ayah yang tak berkedip memperhatikan tingkahnya. "Ayah aku mau ini, boleh kan?"
"Boleh. Sudah cuma ini saja?" balas Alim biasa saja dan membuat sang anak terlonjak senang. "Berarti boleh memilih lagi ya ayah? satu lagi boleh, kembaran?" tanya Alma lugu dan ceria. "Boleh, nak." setelah mendapat restu sang ayah, Alma kembali memilih satu lagi gamis couple dengan Safitri dengan model dan warna berbeda. Safitri hanya diam saja pasrah dengan pilihan calon anak sambungnya, melihat label harganya saja, sudah membuat Safitri pusing memikirkannya. Satu gamis bisa untuk beli emas beberapa gram, 'huh dasar orang kaya.' batinnya.